Kilas Balik Dadan Hindayana, Akademisi IPB yang Kini Jadi Tersangka

Dadan Hindayana Mantan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).(Sumber:NET)
Kamis, 04 Juni 2026 | 14:41:58 WIB

JAKARTA - Roda kehidupan serta kedudukan Dadan Hindayana selaku Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) yang menakhodai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berbalik haluan secara ekstrem cuma dalam tempo semalam.

Dirinya secara resmi dicopot dari jabatan tersebut oleh Presiden Prabowo Subianto pada Selasa (2/6/2026).

Melangkah pada Rabu petang, Kejaksaan Agung RI menetapkan Dadan sebagai tersangka dalam perkara dugaan korupsi dana MBG.

Dengan mengenakan rompi tahanan berkelir merah muda, Dadan langsung digiring ke Rutan Salemba, Jakarta Pusat.

Tidak sendirian, dua mantan petinggi teras BGN lainnya ikut terseret menjadi tersangka, yaitu eks Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya serta Lodewyk Pusung.

Jauh sebelum berkecimpung di dalam program bentukan Prabowo tersebut, Dadan dipahami secara luas selaku seorang akademisi.

Berdasar pada data Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) per tanggal 14 Maret 2025, Dadan terdata mempunyai jumlah harta kekayaan menyentuh angka Rp 9.022.400.000 atau berkisar Rp 9 miliar tanpa memiliki utang.

Riwayat pendidikan Dadan Hindayana

Dadan Hindayana dilahirkan pada 10 Juli 1967 di Garut, Jawa Barat.

Sesudah menuntaskan jenjang pendidikan SMA di daerah Cimahi, Dadan melanjutkan studi S1 di IPB (Institut Pertanian Bogor) lewat langkah mengambil Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT), Fakultas Pertanian IPB.

Tatkala menyabet gelar insinyur (Ir.) pada tahun 1990, Dadan sukses menyandang predikat selaku lulusan terbaik.

Dirinya lantas meneruskan jenjang pendidikan ke negara Jerman lewat program penyetaraan di Universitas Rheinischen Friedrich-Wilhelms Bonn (1995-1997).

Pada tahun 2000, ia sukses meraih gelar Doktor Entomologi Terapan dari Universitas Gottfried Wilhelm Leibniz Hannover.

Berdasar pada KBBI, entomologi diartikan selaku bidang ilmu yang mendalami perihal jenis sekaligus kehidupan serangga.

Menyadur dari halaman Alumni IPB, Kamis (4/6/2026), disertasi kepunyaan Dadan membedah mengenai interaksi predator serangga.

Karya ilmiah ini sukses menembus publikasi internasional yang diakui secara global serta sudah memperoleh ratusan sitasi hingga detik ini.

Riwayat karier Dadan Hindayana

Semenjak tahun 1992, Dadan mengawali sepak terjangnya selaku pengajar di Departemen Proteksi Tanaman IPB.

Beberapa mata kuliah yang diampunya mencakup ekologi serangga serta pengendalian hama terpadu.

Hingga saat ini, Dadan terdata sudah melahirkan lebih dari 20 publikasi ilmiah.

Salah satu artikel ilmiahnya yang diterbitkan di jurnal Ecology (1996) sukses dijadikan pijakan pokok dalam perumusan Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) yang diterapkan di pelbagai negara kawasan Asia hingga Afrika.

Sepanjang berkiprah di IPB, Dadan juga mengambil andil dalam pembenahan institusi.

Tatkala mengemban tugas selaku Direktur Pengembangan Institusi dan Usaha Penunjang IPB (2003–2008), Dadan memantau sejumlah proyek krusial, di antaranya perizinan operasional Botani Square, pembangunan IPB Agrimart, hingga penataan area luar kampus Dramaga.

Ia kemudian sempat dipercaya guna menakhodai Sekolah Tinggi Pertanian Kelautan (STPK) Banau Halmahera Barat (2014–2022).

Di samping itu, Dadan juga pernah bertindak selaku konsultan bagi Kementerian Pertanian serta Kementerian Pertahanan, lewat sumbangsih mulai dari manajemen rumput lapangan di Gelora Bung Karno hingga menjabat penengah dalam resolusi konflik agraria di Pulau Taliabu.

Dadan Hindayana secara resmi dilantik selaku Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada 19 Agustus 2024 oleh Presiden ke-7 RI, Joko Widodo.

Penghargaan yang pernah diraih Dadan Hindayana

Dadan sempat memperoleh apresiasi internasional dari PBB lewat Food and Agriculture Organization (1992) serta penghargaan domestik dari Bappenas (1994) berkat jasanya di bidang pengendalian hama.

Dirinya juga telah mengantongi tiga tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Presiden RI atas masa pengabdian X, XX, dan XXX tahun yang masing-masing diterima pada 2007, 2019, serta 2023.

Lebih dari itu, ia sempat dianugerahi dua tanda kehormatan sekaligus oleh Presiden Prabowo Subianto dalam tenggat waktu yang berdekatan.

Pertama, pada 25 Agustus 2025, ia menerima Bintang Mahaputra Utama lantaran dinilai mengukir jasa yang luar biasa pada sektor kesehatan dan gizi masyarakat lewat perumusan kebijakan strategis di BGN, pembenahan program kesehatan ibu dan anak, serta kampanye diversifikasi pangan.

Selanjutnya pada 13 Februari 2026, ia kembali diberikan penghargaan tanda kehormatan Bintang Jasa Utama lantaran dinilai sukses mengawal sekaligus melangsungkan akselerasi pada program prioritas nasional, terkhusus MBG.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati