4 Cara Orang Tua Cegah Perilaku Menyimpang Anak Menurut Psikolog

Ilustrasi Kebersamaan Anak dan Orang Tua. (Sumber: NET)
Senin, 08 Juni 2026 | 10:03:36 WIB

YOGYAKARTA - Setiap orang tua pastinya mendambakan buah hatinya tumbuh dengan kepribadian serta perangai yang terpuji, sekaligus sanggup menaati segala regulasi dan tatanan sosial yang ada.

Namun pada realitasnya sehari-hari, ayah dan ibu tidak selamanya dapat memantau aktivitas anak secara utuh, khususnya ketika mereka sedang beraktivitas di luar kediaman maupun saat berselancar di dunia maya dan media sosial.

Tidak jarang, orang tua justru dibuat terkejut oleh tindakan anak yang melenceng, semisal mengutil, melakukan perjudian, ataupun perbuatan lain yang menyalahi regulasi serta tatanan sosial.

Situasi seperti ini sering kali memicu rasa waswas, lantaran tindakan melenceng tersebut bukan cuma berisiko merusak masa depan anak, melainkan juga mengganggu masyarakat di sekelilingnya.

Lantas, lewat cara apa orang tua dapat membentengi anak supaya tidak terperosok ke dalam tindakan yang menyimpang?

Seorang pakar psikologi dari Universitas 'Aisyiyah Yogyakarta, Ratna Yunita Setiyani Subardjo, memaparkan bahwa tindakan melenceng atau deviant behavior pada hakikatnya tidak timbul secara mendadak.

“Dalam psikologi, perilaku ini tidak muncul tiba-tiba. Biasanya ada interaksi antara faktor individu, keluarga, teman sebaya, dan lingkungan,” ujar Ratna saat dihubungi Kompas.com, Jumat (5/6/2026).

Berdasarkan pandangannya, tindakan preventif harus berfokus pada kedekatan batin, pemantauan, serta teladan dari orang tua, yang mana seluruh poin tersebut telah diperkuat oleh beragam studi.

Berikut merupakan empat strategi yang dapat diterapkan oleh orang tua:

 1. Buat pola kedekatan yang aman sekaligus sehat

Merujuk pada teori attachment milik Bowlby dan Ainsworth, para orang tua diimbau untuk menciptakan secure attachment atau relasi yang aman bersama anak.

“Anak yang memiliki hubungan aman dengan orang tua cenderung menginternalisasi nilai-nilai orang tua. Mereka merasa didengar dan diterima, sehingga lebih terbuka saat ada masalah,” jelas Ratna.

Aksi nyata yang bisa dipraktikkan di antaranya adalah meluangkan waktu sekitar 15–20 menit tiap hari guna mengobrol bersama anak tanpa terdistraksi oleh gawai, sekaligus mengecek bagaimana situasi hari mereka.

Para orang tua pun disarankan untuk menyikapi emosi yang ditunjukkan anak tanpa memberikan penghakiman.

“Kalimat seperti ‘Aku paham kamu kesal’ lebih efektif daripada ‘Sudah dibilang jangan!’,” tambahnya.

 2. Terapkan metode asuh otoritatif

Ratna memaparkan bahwa metode asuh otoritatif merupakan bauran dari pengaplikasian regulasi yang tegas, penyampaian argumen di baliknya, dan tetap memperlihatkan kehangatan pada anak.

"Ini paling protektif terhadap perilaku menyimpang," kata Ratna.

Terdapat kontras dalam menunjukkan sikap otoritatif, otoriter, maupun permisif.

Pada tindakan otoritatif, orang tua bakal lebih condong berkonsentrasi pada penyampaian argumen, alasan, serta jalan keluar.

Contoh konkretnya ialah sebagai berikut:

"Kamu nggak boleh merokok. Bahaya buat paru-paru dan aku khawatir. Kalau ada tekanan dari teman, kami cari cara mengatasinya".

Di sisi lain, respons otoriter condong bersifat memaksa sekaligus menetapkan sanksi, contohnya seperti: “Pokoknya jangan! Kalau ketahuan nanti akan dihukum.”

Sedangkan respons permisif condong memperlihatkan gestur ketidakpedulian terhadap anak, contohnya berupa: "Perserah kamu deh".

Lebih lanjut, Ratna menyebutkan bahwa studi membuktikan para remaja dengan orang tua otoritatif mempunyai tingkat tindakan menyimpang, pelanggaran norma, hingga penyalahgunaan zat terlarang yang lebih minim ketimbang remaja dengan orang tua yang tidak mengadopsi metode asuh tersebut.

 3. Jalankan pemantauan dan supervisi

Mengacu pada teori Kontrol Sosial dari Hirschi, dipaparkan bahwa tindakan melenceng dapat terjadi seandainya ikatan sosial berada dalam kondisi rapuh.

"Orang tua dapat memperkuat ikatan itu lewat pengawasan yang wajar dan bukan memata-matai," jelas Ratna.

Strateginya ialah dengan memahami siapa saja rekan main anak, kesibukannya seusai jam sekolah, hingga ke mana saja ia melangkah.

Langkah lain yang dapat diterapkan ialah dengan merumuskan aturan terkait batas jam pulang, manajemen keuangan, serta pemanfaatan gawai secara selaras.

4. Menjadi figur teladan bagi anak

Berlandaskan teori Belajar Sosial milik Bandura, Ratna menerangkan bahwa anak-anak menyerap pelajaran lewat proses pengamatan.

"Kalau orang tua suka ngomong kasar, melanggar aturan, atau merokok, pesan untuk tidak boleh melakukan hal serupa menjadi tidak kuat," kata Ratna.

Lebih jauh, ia memaparkan bahwa anak dapat mencermati imbas dari tindakan orang tua mereka sekaligus menirukannya.

Meskipun demikian, tidak ada garansi yang mutlak.

Ratna mempertegas bahwa tidak ada garansi 100 persen yang menjamin anak tidak bakal melakukan tindakan melenceng.

“Masa remaja adalah fase eksplorasi identitas,” ujarnya.

Walau begitu, terdapat sejumlah indikator yang memperlihatkan tingkat risiko yang lebih minim, antara lain:

Adanya ikatan emosional bersama keluarga: Anak bersedia menceritakan hambatan yang sedang dihadapi tanpa rasa cemas akan dimarahi, serta masih menikmati momen berkumpul bersama keluarga.

Memiliki kontrol diri yang bagus: Anak sanggup mengerem ambisi untuk membeli barang berharga tinggi yang tidak mendesak, serta tetap berkonsentrasi menuntaskan tugas sekolah walau terdapat godaan untuk bermain gim atau aktivitas lain yang dirasa lebih menghibur.

Penyerapan nilai kebaikan: Anak menolak bujukan untuk melakukan perkara negatif lantaran menganggap perbuatan itu keliru, bukan semata-mata karena cemas bakal ketahuan atau dijatuhi sanksi.

Relasi yang sehat bersama teman sebaya: Anak mempunyai lingkaran pertemanan dengan pola hidup yang positif, capaian belajar yang bagus, serta tidak ikut serta dalam tindakan yang berbahaya.

Keterikatan bersama organisasi atau lingkungan yang positif: Anak komitmen mengikuti kepengurusan atau aktivitas ekstrakurikuler, serta mempunyai sosok penasihat atau mentor di luar lingkungan keluarga.

"Kalau aspek di atas kuat, anak punya buffer saat ada tekanan dari lingkungan. Tapi ingat, remaja juga butuh ruang buat salah dan belajar. Tujuan pencegahan bukan membuat anak takut salah, tapi membuat mereka merasa aman untuk kembali kalau salah," jelas Ratna.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati