Pasar Saham RI Menarik, Manulife: Murah Saja Tak Cukup Gaet Investor

Ilustrasi Saham (FOTO: NET)
Senin, 15 Juni 2026 | 16:42:02 WIB

JAKARTA - Lembaga Manulife Aset Manajemen Indonesia melayangkan pandangan bahwa nilai kapitalisasi pasar saham di dalam negeri untuk periode saat ini sudah bertengger pada posisi yang teramat memikat.

Akan tetapi, situasi harga yang tergolong rendah tersebut dinilai belum memadai demi memicu para pemodal agar bersedia masuk melakukan aksi beli secara lebih agresif.

Berdasarkan lembar keterangan Caroline Rusli selaku Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia, tingkat kepercayaan dari para pemodal terhadap arah haluan kebijakan serta kejelasan faktor pemicu jangka pendek untuk sekarang ini pasalnya masih belum mendukung.

"Sehingga investor asing belum melihat alasan yang cukup kuat untuk kembali masuk agresif," kata Caroline dalam keterangan tertulis, Senin (15/6/2026).

Lebih mendalam Caroline memberikan paparan bahwa bursa saham tanah air untuk saat ini tengah berada dalam fase tahapan penentuan nilai secara selektif.

Pada fase krusial ini, para pelaku pasar dituntut untuk senantiasa mengutamakan pola defensif sekaligus bersikap lebih berhati-hati dalam menyaring instrumen saham lewat implementasi strategi bottom-up.

Dirinya mengimbuhkan, aktivitas penyaringan saham serta sektor kini menjadi hal yang sangat krusial lantaran guncangan berskala global memicu para pemodal menjadi lebih waspada terhadap potensi risiko.

Caroline pun menjabarkan bahwa situasi dinamika pasar terkini memberikan visualisasi yang jauh lebih terang bagi pemodal mengenai wilayah, instrumen mata uang, hingga jenis aset yang mengantongi daya tahan lebih kuat dalam menghadapi gejolak dunia.

Di kala ketersediaan pasokan likuiditas dunia tidak lagi berjalan selonggar periode sebelumnya, bursa saham yang mengantongi potensi untuk memimpin adalah pasar yang mengantongi prospek ekspansi struktural beserta perolehan keuntungan perusahaan yang jauh lebih solid.

"Like misalnya Asia Utara," imbuh dia.

Caroline juga memandang kawasan area Asia Utara secara relatif masih mengantongi daya tarik tersendiri.

Wilayah tersebut dinilai mempunyai keterhubungan secara langsung dengan perputaran tren kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), komponen semikonduktor, hingga arus pendanaan modal teknologi dunia yang tengah berkembang masif.

Kawasan Asia Utara pun memperoleh sokongan kuat dari siklus belanja modal para hyperscalers, yang merupakan korporasi penyedia infrastruktur digital raksasa semacam Amazon, Google, Meta, dan Microsoft.

Alokasi anggaran belanja modal dari deretan korporasi teknologi raksasa tersebut terpantau terus-menerus mengalami proses penyesuaian ke atas.

"Ketika perusahaan-perusahaan teknologi terbesar dunia terus menaikkan belanja modal, spillover-nya akan lebih dulu terlihat di rantai pasok Asia, terutama semikonduktor, komponen elektronik, material canggih, dan infrastruktur terkait daya," terang Caroline.

Oleh karena itu, dari pihak Manulife membaca pesona dari pasar Asia tidak sekadar bersumber dari nilai valuasinya yang murah semata.

Daya pikat tersebut turut disokong oleh faktor pertambahan laba yang mengantongi pemicu secara struktural.

Fenomena positif ini dipertontonkan oleh performa pergerakan bursa saham Asia di sepanjang tahun 2026 yang tetap bergerak di tengah kepungan ketidakpastian global.

Caroline memaparkan, pergeseran krusial yang wajib diperhatikan secara saksama oleh pemodal yaitu mengenai proyeksi arah kebijakan pelonggaran moneter.

Dalam periode sebulan ke belakang, prediksi pasar atas besaran serta tingkat intensitas pemangkasan suku bunga acuan terpantau telah bergeser secara tajam.

Pada bulan Desember 2025, para pelaku pasar sempat menduga pihak The Fed bakal memotong Fed Funds Rate (FFR) sebesar 50 basis poin di periode tahun 2026.

Namun semenjak memasuki bulan Mei 2026, dugaan tersebut seketika berbalik arah menjadi proyeksi peningkatan sebesar 20 basis poin.

Tren yang senada pun terpantau ikut terjadi di dalam negeri.

Bank Indonesia mengambil langkah taktis mengerek BI Rate hingga menyentuh 50 basis poin pada Mei 2026, sebuah angka yang lebih tinggi dari prediksi pasar yang mengira hanya akan naik 25 basis poin.

Langkah pengetatan tersebut kemudian disusul oleh tindakan kenaikan lanjutan sebesar 25 basis poin pada masa awal Juni 2026.

Caroline memungkasi bahwa perpaduan antara pembatasan moneter, lonjakan imbal hasil surat utang, penurunan nilai kurs rupiah, kecemasan atas postur anggaran negara, hingga pengelompokan saham Indonesia oleh korporasi asing memicu minat risiko pemodal terus merosot.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati