Lewat Limbah Kepala Ikan Tongkol, Warga Cilincing Buka Lapangan Kerja
JAKARTA - Limbah kepala ikan tongkol yang dulu hanya menumpuk di keranjang sampah pasar tradisional, kini menjadi harapan baru para warga Cilincing, Jakarta Utara.
Pria bernama Kohir (45) berhasil mempekerjakan sekitar 10 warga Cilincing, berkat usaha mengolah limbah kepala ikan tongkol.
"Kurang lebih (mempekerjakan) sekitar 10 orang karyawan," ucap dia ketika berbincang dengan Kompas.com di Jalan Pengasinan, Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, Jumat (12/6/2026).
Pekerja tersebut memiliki tugas masing-masing setiap harinya.
Tiga pekerja bertugas menjaga toko ikan asin Kohir di Cilincing dan pulangnya mengambil limbah kepala ikan tongkol dari para pedagang.
Tiga orang lagi, bertugas mengambil limbah kepala ikan tongkol di pasar lain, seperti Tanjung Priok, Kramat Jati, dan Ciracas.
Sementara empat orang lainnya adalah bertugas untuk mengolah limbah kepala ikan tongkol tersebut di Jalan Pengasinan, tempat di mana gudang Kohir berada.
Limbah-limbah kepala ikan tongkol itu akan diolah menjadi bahan baku pakan ternak yang akan dikirim ke pabrik di Jawa Timur.
Proses pengolahan kepala ikan tongkol untuk bahan baku pakan ternak juga sangat mudah dan paling tidak menghabiskan waktu sekitar dua hari apabila cuaca cerah.
Ikan-ikan kepala tongkol yang sudah dikumpulkan dari pedagang akan dihancurkan terlebih dahulu menggunakan kayu untuk para pekerja.
Setelah itu, serpihan kepala ikan tongkol tersebut akan dijemur sepanjang hari di Jalan Pengasinan.
Saat sudah kering, serpihan kepala ikan tongkol itu akan disimpan di dalam gudang kayu sebelum nantinya dikirim ke pabrik di Jawa Timur.
Salah satu pekerja Kohir bernama Winata (40) mengaku, sudah satu tahun bekerja sebagai penjemur limbah kepala ikan tongkol.
Aktivitasnya selalu dimulai sejak pukul 07.00 WIB pagi dengan memecahkan satu per satu kepala ikan tongkol yang datang.
Ia juga harus membolak-balik serpihan kepala ikan tongkol itu untuk memastikan agar benar-benar kering.
"Kalau enggak dipecahin enggak bisa kering, karena permintaan dari pabrik itu kisaran 10 persen kadar airnya," jelas dia ketika ditemui Kompas.com, Jumat.
Meski durasi kerjanya panjang, Winata mengaku tetap menikmatinya karena tak sepanjang hari ia harus berada di bawah terik matahari untuk menjemur limbah itu.
Winata dan dua rekan lainnya baru akan bekerja jika stok kepala ikan tongkol datang.
Apabila semua sudah dihancurkan, maka tugas mereka hanya menunggu sore untuk mengangkat kepala ikan tongkol yang sudah kering.
Dalam satu hari, ia bisa mendapat bayaran sekitar Rp 100.000 hingga Rp 150.000.
Uang itu digunakan untuk menghidupi keluarga di rumah.
Winata mengaku bersyukur, dari limbah kepala ikan tongkol, ia bisa membawa uang setiap harinya untuk keluarga di rumah, dibanding sebelumnya yang hanya bekerja serabutan.
Sementara pria bernama Carisa (50) mengaku, sudah empat tahun lamanya bekerja sebagai penjemur limbah kepala ikan tongkol.
Sama seperti Winata, bayarannya bekerja di Kohir sekitar Rp 150.000 per hari.
Di usianya yang tak lagi muda dan masih memiliki tanggungan satu anak yang harus dibiayai sekolah, Carisa mengaku bersyukur masih bisa bekerja.
"Masih ada tanggungan anak satu. Alhamdulillah cukup (pendapatannya) daripada enggak ada kerjaan lagi," jelas dia ketika ditanya oleh Kompas.com di lokasi yang sama, Jumat.
Setiap harinya, ia memulai aktivitas bekerja sekitar pukul 07.30 WIB dengan bermodalkan kayu panjang berkuruan 1,5 meter yang area bawahnya berbentuk pipih.
Area kayu yang pipih itu lah digunakan Carisa untuk menghancurkan kepala ikan tongkol yang didapat dari para pedagang.
Beruntungnya, kepala-kepala ikan tongkol itu sudah direbus oleh para pedagang, sehingga tidak terlalu sulit untuk dihancurkan.
Setelah itu, ia akan ratakan limbah ikan tongkol itu sepanjang Jalan Pengasinan agar tidak bertumpuk dan semuanya bisa terkena matahari supaya cepat kering.
Meski harus berjuang di bawah terik matahari dan aroma amis ikan, Carisa terlihat begitu semangat demi bisa membawa uang untuk keluarga di rumah.
Pakar Lingkungan dari Universitas Sebelas Maret Surakarta Profesor Prabang Setyono, mengatakan pengolahan limbah kepala ikan tongkol tidak hanya mendatangkan keuntungan ekonomi, tapi juga efektif mengurangi pencemaran lingkungan.
"Sebab, dapat mengurangi volume limbah sebagian besar limbah organik dapat dialihkan dari TPA atau lingkungan terbuka menjadi bahan baku produktif," ungkap Prabang ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.
Kemudian, pengolahan kepala ikan tongkol juga berpotensi menurunkan beban pencemaran udara karena Biochemical Oxygen Demand (BOD) atau oksigen biokimia dan Chemical Oxygen Demand (COD) berkurang, serta produksi bau juga dapat diminimalisir.
Kemudian, pengolahan itu dinilai dapat mengurangi kebutuhan bahan baku konvensional, karena limbah kepala ikan tongkol dapat menggantikan tepung ikan komersial dan bungkil kedelai.
"Serta meningkatkan efisiensi sumber daya. Prinsipnya waste to resource yang merupakan inti ekonomi sirkular," sambung Prabang.
Di sisi lain, jika dilihat dari perspektif lingkungan hidup, praktik pengolahan limbah kepala ikan tongkol dinilai positif karena prinsip Reduce, Reuse, dan Reycle (31) terimplementasi secara nyata.
Kemudian, usaha pengolahan limbah kepala ikan dianggap sejalan dengan tiga target pembangunan berkelanjutan global Sustainable Development Goals (SDGs).
Pertama, SDG 12 di mana konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, karena limbah yang biasanya dibuang sia-sia kini dimanfaatkan kembali, sehingga dapat mengurangi sampah dan menambah nilai ekonomi dari sumber daya yang ada.
Kedua, SDG 13 atau penanganan perubahan iklim, karena mengurangi limbah organik yang menumpuk dan membusuk yang menghasilkan emisi gas metana, sehingga turut membantu menekan dampak perubahan iklim.
Ketiga SDG 14, karena dapat mengurangi limbah perikanan yang dibuang ke laut atau pesisir, sehingga dapat membantu menjaga kelestarian ekosistem laut.
"Mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK), sebab limbah kepala ikan yang membusuk secara terbuka menghasilkan metana (CH4) yang mempunyai potensi pemanasan global sekitar 28 kali lebih besar dibanding CO dalam horizon 100 tahun," jelas Prabang.
Oleh karena itu, dengan memanfaatkan limbah kepala ikan tongkol menjadi pakan ternak, maka emisi GRK dapat tekanan.
Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan (KPKP) Provinsi DKI Jakarta, mendukung usaha pengolahan limbah kepala ikan tongkol menjadi pakan ternak.
Sebab, kepala ikan tongkol mengandung protein, lemak, fosfor, dan mineral, sehingga sangat cocok untuk dijadikan sebagai pakan ternak.
Di sisi lain, pengolahan limbah tersebut masuk ke dalam prinsip ekonomi sirkular.
"Prinsip ekonomi sirkular DKI Jakarta adalah mengubah limbah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi, bukan langsung membuangnya ke TPA," ucap Hasudungan ketika dihubungi Kompas.com, Jumat.
Hal itu tercermin dalam berbagai program pengelolaan sampah yang mulai menghasilkan ekonomi di DKI Jakarta.
Dinas KPKP sendiri, kata Hasudungan, memiliki kewenangan di bidang perikanan, pertanian, peternakan, dan ketahanan pangan.
"Sehingga pemanfaatan limbah hasil perikanan menjadi pakan ternak merupakan bentuk integrasi sektor perikanan dan peternakan yang sejalan dengan kebijakan dan prinsip ekonomi sirkular," sambung dia.
Namun, untuk mengolah limbah kepala ikan tongkol menjadi layak untuk pakan ternak, maka ada beberapa syarat teknis yang harus dipenuhi.
Pertama, pengelola harus memerhatikan aspek kualitas bahan baku tetap segar, tidak busuk atau berbau.
Kedua, perhatikan juga proses pengolahannya agar disegerakan, menjaga rantai dingin dan kualitas kebersihannya.
Ketiga, perhatikan keamanannya agar bebas dari kontaminan supaya tetap aman ketika dikonsumsi oleh hewan ternak.
Keempat, menjaga kandungan nutrisinya agar tidak hilang, meski sudah melalui proses pengolahan.