Nilai Keekonomian Pertamax Pertamina Tembus Rp 20 Ribu per Liter

Ilustrasi harga Pertamax (FOTO: NET)
Senin, 15 Juni 2026 | 16:42:02 WIB

JAKARTA - Banderol untuk produk bahan bakar minyak jenis Pertamax untuk saat ini telah menyentuh angka nominal Rp 16.250 per liter.

Nominal angka tersebut nyatanya dinilai masih berada di bawah nilai jual keekonomian asli dari produk BBM nonsubsidi beroktan 92 itu.

Langkah kenaikan tarif komoditas Pertamax secara resmi mulai diberlakukan sejak tanggal 10 Juni 2026.

Lonjakan angka harganya terbilang berada dalam skala yang lumayan besar, yaitu melonjak dari posisi Rp 12.300 per liter bertransformasi menjadi Rp 16.250 per liter, atau mengalami pertambahan senilai Rp 3.950 per liternya.

Kendati telah mengalami fase kenaikan, nilai keekonomian asli dari Pertamax sesungguhnya tercatat masih berada di atas label harga pasar yang dipasang pada saat sekarang ini.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga Sigit Setiawan menegaskan, dari pihak korporasi sudah mempertahankan nilai jual komoditas Pertamax dalam kurun periode waktu yang relatif lama.

Kebijakan strategis ini diambil demi memelihara ketahanan kemampuan finansial masyarakat di tengah kepungan situasi geopolitik dunia yang penuh dengan ketidakpastian.

"Pertamax RON 92 kebetulan di market itu karena kondisi geopolitik kemarin itu naik, RON 92 itu kalau di market itu udah harganya Rp20.000-an, Rp21.000. Dan kami masih tahan, masih berupaya menahan di Rp12.300," kata Sigit dilansir CNBC Indonesia.

Sebagaimana dipahami secara bersama, produk Pertamax termasuk ke dalam kelompok varian BBM nonsubsidi.

Oleh karena faktor itu, formulasi penentuan harganya semestinya berjalan mengikuti arus fluktuasi harga minyak mentah di kancah pasar global.

Sementara itu, langkah penyesuaian pembaruan harga terkini dieksekusi setelah pihak manajemen perusahaan melakukan koordinasi mendalam dengan jajaran pemerintah.

Pihak manajemen tidak mengharapkan tingkat pasokan produk energi untuk pemenuhan publik terus merosot turun lantaran internal perusahaan menanggung beban defisit yang terlalu besar dari produk BBM yang dipasarkan.

"Teman-teman bisa melihat di market internasional di tetangga sebelah negara lain itu RON 91, 92 itu di Rp 20.000, Rp 21.000. Jadi kita ingin memberikan message bahwa ini memang perlu naik kepada konsumen karena kondisinya memang harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di pasar," tutur Sigit.

Bila dikomparasikan secara langsung dengan kondisi negara-negara tetangga, tarif nilai jual Pertamax memang tidak dapat dibilang sebagai yang memegang predikat paling murah.

Di wilayah Malaysia, jenis varian BBM dengan kadar oktan RON 92 terpantau tidak tersedia di kancah pasar.

Bahan bakar minyak yang dikomersialkan di sana mempunyai kadar tingkatan oktan 95 serta 97.

Varian produk BBM RON 95 dengan skema subsidi di negara jiran tersebut dipatok dengan harga sebesar 1,99 ringgit atau setara dengan nominal Rp 8.796.

Sedangkan untuk versi nonsubsidi RON 95 dilepas menuju pasar dengan harga sebesar 3,72 ringgit atau berkisar di angka Rp 16.444.

Bergeser menuju ke negara Thailand, BBM untuk jenis RON 91 ditawarkan menuju konsumen dengan harga sebesar 42,74 baht atau kurang lebih senilai dengan Rp 23.327.

Selanjutnya di wilayah Filipina, jenis bensin tanpa kandungan timbal RON 91 dihargai sebesar 90,36 peso per liter (Rp 26.430).

Kemudian untuk varian bensin RON 95 untuk saat ini dipasarkan dengan nilai nominal 96,87 peso (Rp 28.335).

Lalu untuk pilihan varian bensin RON 97 dipatok dengan harga sebesar 105,35 peso (Rp 30.815).

Pada sisi yang lain, grafik harga BBM di negara Vietnam saat ini terpantau berada sedikit lebih rendah apabila disandingkan dengan harga produk BBM milik Pertamina.

Sebagai sebuah gambaran, bensin dengan kadar oktan RON 92 (yang memiliki tingkatan setara dengan Pertamax) di Vietnam sekarang bertengger di kisaran angka Rp 14 ribuan.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati