Tren Neuroplastisitas Gen Z: Atur Ulang Fungsi Otak Lewat Meditasi

Ilustrasi Atasi Stres dengan Meditasi Mindfulness.(FOTO:NET)
Selasa, 07 Juli 2026 | 17:01:02 WIB

JAKARTA - Pemakaian istilah neuroplastisitas saat ini semakin akrab terdengar di kalangan generasi muda sekarang.

Lewat bermacam platform media sosial, gagasan itu sering dikaitkan dengan kegiatan meditasi, menulis jurnal, menjalankan puasa dopamin, hingga pelbagai rutinitas harian yang diklaim sanggup membantu proses pengaturan ulang fungsi otak.

Padahal, konsep neuroplastisitas sendiri merupakan sebuah teori ilmiah yang menjelaskan mengenai kemampuan organ otak untuk selalu menyesuaikan diri dengan menyusun jaringan saraf baru sebagai bentuk respons atas pengalaman serta rutinitas.

Satu di antara asas utama dari konsep ini menyebutkan bahwa perbuatan yang dilakukan secara berulang-ulang akan menjadi kian menancap kuat.

"Neuron yang aktif bersama akan terhubung bersama. Artinya, semakin sering suatu pola pikir atau perilaku diulang, semakin kuat jalur saraf yang terbentuk di otak," ujar neuropsikolog Donald Hebb, dikutip dari Neuro Skills.

Besarnya perhatian dari generasi muda terhadap fenomena ini dinilai sebagai hal yang wajar.

Di tengah kepungan paparan media sosial, perasaan cemas, serta kelelahan mental, banyak remaja yang kini mulai konsisten melakukan meditasi, menjaga jam tidur, mempraktikkan teknik napas, hingga rajin menulis buku harian demi memulihkan kesehatan jiwa mereka.

Meskipun sejumlah kebiasaan tersebut mempunyai dasar kajian ilmiah, para pakar tetap mengingatkan bahwa proses transformasi pada organ otak tidak bisa terjadi secara instan.

Berdasarkan laporan Times Now, mengubah sudut pandang atau menyembuhkan respons atas trauma masa lalu tidak akan bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan program tantangan selama satu bulan saja, melainkan membutuhkan proses panjang, pembiasaan berulang, dan adakalanya memerlukan pendampingan dari ahli kejiwaan.

Seorang pakar neurologi Dr. David Perlmutter ikut memperjelas bahwa potensi organ otak untuk mengalami perubahan pada dasarnya adalah hal yang nyata.

"Kemampuan neuroplastisitas memungkinkan otak terus beradaptasi terhadap pengalaman dan perubahan yang dialami seseorang sepanjang hidupnya," jelasnya.

Namun, kesanggupan alami itu bukan berarti menunjukkan bahwa sistem otak dapat berganti arah cuma dalam waktu satu malam saja.

Sama halnya seperti ketika membangun sebuah kebiasaan hidup yang baru, proses pengaturan ulang fungsi otak ini selalu membutuhkan ketelatenan serta berjalan melalui tingkatan yang bertahap.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati