KAI Targetkan KRL Rangkasbitung Beroperasi dengan 12 Kereta di 2027

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin.(FOTO:NET)
Kamis, 09 Juli 2026 | 17:21:01 WIB

JAKARTA - PT Kereta Api Indonesia (Persero) menempatkan program eskalasi daya tampung layanan KRL Rangkasbitung atau Green Line sebagai fokus investasi paling utama perseroan.

Kebijakan tersebut diambil guna mengurai penumpukan pengguna jasa melalui pengoperasian rangkaian 12 kereta (SF12), peningkatan daya kelistrikan, serta pembaruan sistem persinyalan yang diproyeksikan mulai berjalan pada 2027.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Bobby Rasyidin mengatakan, proyek penguatan Green Line menjadi fokus utama perusahaan karena tingkat kepadatan penumpang di lintas tersebut sudah sangat tinggi.

“Itu prioritas kami. Kemudian paling cepat itu adalah kami masukkan SF12 dulu, listriknya kami naikin yang di line Rangkas,” kata Bobby kepada wartawan saat berbincang di kereta wisata dari Yogyakarta menuju Jakarta, Rabu (8/7/2026). “Jadi paling tidak, pelanggan-pelanggan kami di Rangkas itu sudah mulai bisa bernapas sedikit, sekaligus menikmati rangkaian baru," ujar Bobby.

Berdasarkan pemaparan dari Bobby, bersandarkan pada data peninjauan langsung di area stasiun dan gerbong, tingkat keterisian penumpang Green Line sudah menyentuh angka berkisar 161 persen ketika jam-jam padat.

Apabila digambarkan secara mudah, pada area seluas 1 meter persegi di dalam gerbong KRL dipadati oleh sedikitnya 8 orang penumpang.

Situasi tersebut memperlihatkan jika daya tampung pelayanan yang tersedia sekarang ini tak lagi mampu menampung laju pertumbuhan angka pengguna jasa.

Dirinya menjabarkan, penambahan unit rangkaian kereta tak dapat dieksekusi secara instan tanpa disokong oleh kesiapan fasilitas penunjang.

Oleh karena itu, KAI bakal terlebih dahulu mendongkrak kapasitas suplai daya listrik sekaligus memperbarui sistem persinyalan supaya interval keberangkatan kereta dapat dipangkas.

“Kami tidak bisa langsung menambah rangkaian. Kapasitas listrik harus dinaikkan terlebih dahulu, kemudian sistem persinyalan juga diperbaiki,” kata Bobby. “Saat ini masih menggunakan fixed block, ke depan akan diubah sehingga jarak antarperjalanan kereta bisa dipersingkat," katanya.

Bukan sekadar menambah jadwal keberangkatan kereta, KAI pun bakal menyeragamkan seluruh armada Green Line menjadi rangkaian 12 kereta.

Lewat skema tersebut, armada anyar rakitan PT INKA maupun kereta hasil pengadaan paling baru dapat dijalankan di jalur itu demi mendongkrak daya angkut penumpang.

“Sekarang rangkaian yang beroperasi masih delapan sampai sepuluh kereta. Ke depan semuanya menjadi 12 kereta sehingga kapasitas angkutnya meningkat. Itu menjadi prioritas utama kami dan targetnya mulai diwujudkan pada 2027," ujar Bobby.

Dirinya mengimbuhkan, pengerjaan pembenahan sarana prasarana ini akan digulirkan dalam tempo dekat selepas mengantongi kesepakatan lewat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

KAI memproyeksikan durasi pengerjaan memakan waktu berkisar delapan bulan hingga satu tahun kalender.

Menurut estimasi Bobby, berkaca pada agenda uji coba yang sempat diimplementasikan sebelumnya, penguatan sektor pasokan listrik menjadi hal krusial sebelum format 12 kereta dioperasikan secara masif.

“Kami pernah mencoba memasukkan rangkaian SF12, tetapi saat itu pasokan listrik belum memadai sehingga sistem langsung mengalami gangguan,” ujar dia. “Karena itu sekarang yang kami kerjakan lebih dulu adalah memperkuat kelistrikan agar operasional 12 kereta nantinya berjalan andal," lanjutnya.

Bobby menggarisbawahi bahwa pemutakhiran Green Line ini diharapkan mampu mengurai problem tingginya mobilisasi warga dari arah Rangkasbitung menuju Jakarta sekaligus menghadirkan kenyamanan bagi pengguna harian KRL.

“Green Line menjadi pekerjaan rumah terbesar kami saat ini. Target kami sederhana, bagaimana pelanggan bisa mendapatkan perjalanan yang lebih nyaman, kapasitas lebih besar, dan waktu tunggu kereta yang semakin singkat," ucap Bobby.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati