Celios: Pemerintah Harus Tambah Insentif Listrik Guna Jaga Daya Beli

Celios: Pemerintah Harus Tambah Insentif Listrik Guna Jaga Daya Beli
Celios: Pemerintah Harus Tambah Insentif Listrik Guna Jaga Daya Beli

JAKARTA - Momentum musiman Ramadan dan Lebaran tahun 2026 diprediksi akan menghadapi tantangan ekonomi yang tidak ringan. Meskipun pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus, efektivitas kebijakan tersebut dalam menggerakkan roda konsumsi rumah tangga kini tengah menjadi sorotan tajam. Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, menyarankan pemerintah menambah insentif berupa diskon tarif listrik pada Kuartal I-2026 guna memperkuat daya beli masyarakat di momentum Ramadan dan Lebaran.

Menurut pandangan Celios, intervensi pemerintah saat ini masih belum sebanding dengan tekanan ekonomi yang dihadapi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah. Diperlukan langkah yang lebih konkret dan menyentuh pengeluaran harian rumah tangga secara langsung agar perputaran ekonomi di sektor domestik tidak mengalami stagnasi di awal tahun ini.

Stimulus Rp12 Triliun Dinilai Terlalu Kecil untuk Konsumsi

Baca Juga

Indonesia Raih Surplus Besar Perdagangan Besi dan Baja pada Tahun 2025

Pemerintah memang telah menggelontorkan anggaran stimulus ekonomi sebesar Rp12 triliun pada Kuartal I-2026. Namun, Bhima menilai nominal tersebut belum cukup kuat untuk mendorong konsumsi rumah tangga secara signifikan. Besaran dana tersebut dianggap tidak cukup kuat untuk membendung berbagai faktor pelemah daya beli yang datang secara bersamaan.

Menurut Bhima, besaran stimulus tersebut terlalu kecil untuk menjawab tantangan ekonomi yang semakin kompleks, terutama kenaikan inflasi pangan secara tahunan, keterbatasan lapangan pekerjaan, serta pemangkasan anggaran di daerah. “Stimulus untuk mendorong daya beli pada momentum musiman Ramadan dan Lebaran terlalu kecil. Padahal tantangannya makin kompleks dari sisi inflasi pangan yang naik secara tahunan, sempitnya lapangan pekerjaan, dan pemangkasan anggaran daerah,” ujar Bhima kepada Kontan, Selasa.

Ancaman Stagnasi Sektor Transportasi dan Pariwisata

Lebih lanjut, Bhima mengingatkan mengenai risiko pergeseran pola konsumsi masyarakat jika stimulus fiskal tidak segera diperkuat. Tanpa bantuan yang memadai, kelompok masyarakat berpendapatan rendah akan dipaksa melakukan prioritas pengeluaran yang sangat ketat. Ia mengingatkan, jika stimulus tidak diperkuat, kelompok masyarakat menengah ke bawah berpotensi memfokuskan belanja hanya pada kebutuhan pangan.

Jika skenario ini terjadi, sektor-sektor yang biasanya meraup untung saat momentum Lebaran akan terdampak negatif. Kondisi ini berisiko menekan belanja sektor lain seperti transportasi dan rekreasi yang biasanya meningkat menjelang Lebaran. “Kondisi ini bisa menahan perputaran ekonomi, terutama pada sektor transportasi dan leisure yang biasanya meningkat menjelang Lebaran,” kata Bhima. Hal ini dikhawatirkan akan memicu efek domino yang memperlambat pemulihan ekonomi di daerah-daerah tujuan mudik.

Prediksi Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I-2026 yang Melambat

Berdasarkan analisis keterbatasan stimulus tersebut, Celios memberikan proyeksi yang cenderung konservatif terhadap performa ekonomi nasional di awal tahun ini. Bhima memperkirakan, dengan stimulus yang relatif terbatas, pertumbuhan ekonomi pada Kuartal I-2026 hanya akan berada di kisaran 4,8% hingga 4,9%.

Angka tersebut dinilai lebih rendah dibandingkan potensi pertumbuhan apabila dorongan fiskal diberikan secara lebih agresif dan tepat sasaran. Selisih pertumbuhan tersebut menunjukkan adanya potensi ekonomi yang hilang akibat kurangnya suntikan likuiditas langsung ke kantong masyarakat melalui program-program subsidi atau diskon biaya hidup.

Rekomendasi Diskon Listrik 30 Persen Sebagai Solusi Strategis

Sebagai langkah mitigasi, Celios memberikan rekomendasi spesifik agar pemerintah mengambil kebijakan yang dampaknya bisa segera dirasakan di tingkat rumah tangga. Penambahan insentif yang bersifat langsung dianggap lebih efektif dibandingkan program stimulus yang bersifat makro atau tidak langsung.

Celios merekomendasikan agar pemerintah menambah insentif yang dampaknya lebih langsung dirasakan masyarakat, salah satunya melalui diskon tarif listrik bagi pelanggan rumah tangga berdaya 1.300 volt ampere (VA) ke bawah selama periode Ramadan dan Lebaran. Kebijakan ini dianggap mampu melonggarkan ruang finansial keluarga untuk memenuhi kebutuhan lainnya di luar energi dan pangan.

“Diskon tarif listrik sebesar 30% untuk golongan 1.300 VA ke bawah akan lebih efektif menjaga daya beli masyarakat pada Kuartal I,” pungkas Bhima. Dengan diskon tersebut, masyarakat diharapkan tetap memiliki sisa dana untuk melakukan mobilitas mudik maupun konsumsi non-pangan, sehingga target pertumbuhan ekonomi nasional tetap terjaga pada level yang diharapkan.

David

David

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Kemenperin Perketat Pengawasan Larangan Impor Pakaian Bekas di Indonesia

Kemenperin Perketat Pengawasan Larangan Impor Pakaian Bekas di Indonesia

Lelang SUN Februari 2026 Bukti Kepercayaan Investor Pada Indonesia

Lelang SUN Februari 2026 Bukti Kepercayaan Investor Pada Indonesia

Askrindo Tingkatkan Manajemen Risiko Demi Layanan Asuransi Lebih Stabil

Askrindo Tingkatkan Manajemen Risiko Demi Layanan Asuransi Lebih Stabil

Komitmen Gozco Capital Dukungan Strategis Bank Neo Commerce 2026

Komitmen Gozco Capital Dukungan Strategis Bank Neo Commerce 2026

Menteri LH dan Pemkot Tangsel Bersinergi Tangani Sampah Secara Maksimal

Menteri LH dan Pemkot Tangsel Bersinergi Tangani Sampah Secara Maksimal