Breaking

Sejarah ALS: Legenda Bus dengan Rute Terpanjang di Indonesia

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Jumat, 08 Mei 2026
Sejarah ALS: Legenda Bus dengan Rute Terpanjang di Indonesia
Bus ALS masih menggunakan Chevrolet C50 pada tahun 1970-an

SUMATERA SELATAN - Nama PO Antar Lintas Sumatera (ALS) kembali menjadi pusat perhatian publik setelah terjadinya kecelakaan maut yang melibatkan armadanya dengan truk tangki BBM di Jalan Lintas Sumatera, Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan, Rabu (6/5/2026) siang.

Insiden memilukan tersebut mengakibatkan 16 orang meninggal dunia dikarenakan kebakaran hebat yang berkobar sesaat setelah benturan terjadi.

Bahkan melalui rekaman video yang tersebar luas di media sosial, tampak dampak dari kecelakaan tersebut terlihat sangat mengerikan.

Di balik kejadian tragis itu, ALS sejatinya adalah salah satu perusahaan otobus yang paling legendaris di tanah air.

Perusahaan ini dikenal secara luas sebagai 'raja jalur lintas Sumatera' lantaran perannya dalam melayani rute antarkota lintas provinsi dengan durasi perjalanan jarak jauh mencapai puluhan jam.

Simak sejarah berdirinya PO Bus ALS sejak tahun 1966 hingga masa sekarang.

Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, sebelum memulai bisnis sebagai operator bus, PO ALS sudah lebih dahulu bergerak dalam bidang penyedia angkutan barang yang mendistribusikan hasil bumi kepada masyarakat.

Pada awalnya, PO ALS didirikan di Kota Kotanopan, Mandailing Natal, Sumatera Utara pada 29 September 1966, sebelum akhirnya memindahkan kantor pusatnya ke Amplas, Kota Medan, Sumatera Utara.

PO ALS mengawali kiprahnya dengan melayani trayek Kotanopan-Medan menggunakan armada bus Chevrolet C50 yang pada masa itu menjadi salah satu kendaraan terpopuler di kalangan perusahaan angkutan penumpang.

Bus produksi Amerika Serikat tersebut merupakan awal mula bagi PO ALS dalam merintis usahanya dan terus berekspansi dengan membuka rute-rute baru yang belum terjamah oleh operator bus lainnya.

Memasuki era tahun 1970-an, PO ALS telah memperluas jangkauan ke sejumlah wilayah di pulau Sumatera hingga mencapai Pelabuhan Bakauheni.

Rute-rute baru yang dibuka saat itu mencakup wilayah Bengkulu, Banda Aceh, Jambi, Palembang, Lampung, hingga Padang.

Sejalan dengan kemajuan usahanya, PO ALS memiliki ambisi besar untuk membuka rute antarpulau menuju Pulau Jawa.

Akan tetapi pada waktu itu, hambatan utama dalam memperluas jangkauan ke Jawa adalah terbatasnya ketersediaan kapal penyeberangan yang sanggup mengangkut kendaraan berukuran besar.

Namun pada dekade 1980-an, saat kapal penyeberangan dinilai sudah mumpuni untuk mengangkut bus besar, hal ini menjadi peluang emas bagi PO ALS guna melakukan ekspansi pasar ke Pulau Jawa.

Tanpa tanggung-tanggung, perusahaan ini langsung mengoperasikan rute dari ujung Sumatera hingga menuju Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, sampai Jember.

Prestasi inilah yang membuat PO ALS dinobatkan sebagai perusahaan otobus dengan rute terpanjang yang ada di Indonesia.

Bahkan, jarak tempuh yang dilalui oleh armada bus PO ALS dari Sumatera menuju ujung Pulau Jawa dapat mencapai kisaran 2.920 km dengan waktu tempuh mencapai tujuh hari perjalanan.

Hal yang menarik adalah PO ALS juga sempat mengoperasikan trayek terjauh hingga menuju pulau Bali, namun pada tahun 2003 rute tersebut ditutup karena faktor jarak dan waktu tempuh yang ekstrem serta kondisi mesin yang kurang mendukung.

Pada masa kejayaan transportasi bus jarak jauh, ribuan bus dari ratusan operator meramaikan jalur lintas Sumatera baik di lintas timur maupun lintas tengah.

PO ALS sendiri, dengan total armada yang saat ini mencapai lebih dari 400 unit, tetap menjadi penguasa jalanan di jalur Sumatera bersama operator besar lainnya seperti PMTOH, ANS, NPM, dan Gumarang Jaya.

Berbekal popularitas yang telah berumur lebih dari setengah abad, karakteristik bus PO ALS sangat mudah dikenali masyarakat karena kebiasaannya membawa paket dalam jumlah banyak di atas atap bus.

Sebagai salah satu pemain lama di industri transportasi Indonesia, ALS telah dikenal oleh berbagai kalangan.

Seringkali terdapat masyarakat yang mengekspresikan perasaan mereka melalui tema bus ini atau menggunakannya sebagai latar belakang karya seni.

Salah satu anggota grup Bonardo Trio dari Tapanuli Utara pernah mempopulerkan lagu berjudul ‘Di Loket Ni ALS’, begitu pula dengan seniman Maryati br Lubis yang membawakan lagu bertema serupa.

Semboyan ‘Naik Sebagai Penumpang, Turun Sebagai Saudara’ juga sangat melekat di hati para pecinta dan pelanggan setia bus ALS.

Kondisi ini tercipta karena jarak dan waktu tempuh yang lama mengharuskan kru bus mendampingi penumpang secara terus-menerus.

Hal inilah yang membuat banyak penumpang mengenal kru bus ALS secara mendalam, bahkan banyak yang menjadi pelanggan tetap dan menjalin hubungan akrab layaknya saudara meskipun awalnya saling tidak mengenal

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua