Breaking

Ekspansi AirAsia: Beli 150 Pesawat Airbus Saat Harga Avtur Melambung

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Jumat, 08 Mei 2026
Ekspansi AirAsia: Beli 150 Pesawat Airbus Saat Harga Avtur Melambung

JAKARTA - Maskapai bertarif rendah, AirAsia, meresmikan kesepakatan pembelian 150 pesawat Airbus A220-300 dengan nilai US$19 miliar atau sekitar Rp329,79 triliun (asumsi kurs Rp17.357 per dolar AS). Langkah ekspansi masif ini diambil di tengah kenaikan harga avtur yang dipicu oleh ketegangan geopolitik dunia. Menurut data IATA, harga avtur global sekarang berada pada rata-rata US$181,22 per bbl (blue barrel).

Kesepakatan tersebut disiarkan di fasilitas produksi Airbus yang berlokasi di Mirabel, Kanada. Dalam keterangan resminya, pendiri AirAsia Tony Fernandes menyebut pesawat A220 merupakan armada yang pas guna menopang ekspansi bisnis maskapai ke depannya.

"Ini adalah alat yang sempurna untuk fase pertumbuhan kami berikutnya," ujar Fernandes dikutip dari AFP, Kamis (7/5).

Ia menambahkan bahwa pemesanan tersebut menggambarkan ambisi jangka panjang AirAsia di tengah tantangan yang dihadapi industri penerbangan global.

Selain 150 unit pada tahap awal, AirAsia turut membuka kesempatan untuk menggandakan pemesanan hingga mencapai 300 pesawat di waktu mendatang. Upaya ini dilakukan untuk menyongsong peningkatan permintaan penumpang di wilayah Asia.

CEO Airbus Commercial Aircraft, Lars Wagner, mengatakan bahwa pesawat A220 bakal membuka peluang rute baru yang sebelumnya sulit diakses. Menurutnya, efisiensi pesawat tersebut menjadi nilai tambah krusial di tengah tekanan biaya operasional maskapai.

"Pesawat A220 akan membuka rute baru di Asia yang sebelumnya tidak memungkinkan," ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa armada baru ini akan menolong AirAsia dalam mengalihkan pesawat berbadan besar ke rute jarak jauh seperti Amerika Utara, Australia, dan Eropa mulai tahun 2028.

AirAsia pun menjadi pelanggan pertama di dunia yang menggunakan konfigurasi baru A220 dengan kapasitas 160 kursi. Konfigurasi tersebut dianggap lebih efisien untuk penerbangan jarak menengah karena tingkat konsumsi bahan bakar yang lebih hemat.

Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, menyatakan bahwa kesepakatan ini menjadi kabar positif bagi industri manufaktur di negaranya. Menurutnya, seluruh pesawat tersebut akan diproduksi oleh tenaga kerja Kanada di fasilitas Airbus setempat.

"Sebanyak 150 pesawat itu akan dibangun oleh pekerja Kanada di pabrik-pabrik Kanada. Bagi ribuan insinyur, teknisi listrik, tukang las baja, dan spesialis TI, ini akan menjadi pekerjaan bergaji tinggi dan menarik untuk membangun pesawat luar biasa yang menghubungkan jutaan orang di seluruh dunia," pungkas Carney.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua