Breaking

Polda Metro Gelar Olah TKP Kasus GRIB Jaya di Kediaman Ahmad Bahar

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Kamis, 04 Juni 2026
Polda Metro Gelar Olah TKP Kasus GRIB Jaya di Kediaman Ahmad Bahar
Polisi dari Polda Metro Jaya saat melakukan olah TKP di rumah Ahmad Bahar, Cimanggis, Depok. (Sumber: NET)

DEPOK - Sosok putri dari Ahmad Bahar yang bernama Ilma (33), hingga kini masih merekam dengan sangat jelas memori kelam di hari saat gerombolan anggota Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) mendatangi kediaman keluarganya yang terletak di area Cimanggis, Depok, Jawa Barat, pada hari Minggu (17/5/2026).

Insiden yang pada awalnya dipicu oleh upaya pencarian terhadap keberadaan sosok Ahmad Bahar tersebut berujung pahit dengan dibawanya Ilma secara paksa menuju ke markas besar GRIB Jaya yang berlokasi di Jakarta Barat.

Sesudah hampir tiga pekan lamanya dari waktu kejadian perkara, aparat kepolisian kini mulai mengusut tuntas laporan hukum tersebut lewat pelaksanaan agenda olah tempat kejadian perkara (TKP).

Di sisi lain, Ilma sendiri dikabarkan masih harus berjuang keras dalam menyembuhkan rasa trauma psikis yang mendalam pasca-terjadinya rentetan peristiwa tersebut.

Tepat pada hari Rabu (3/6/2026), jajaran tim penyelidik dari Polda Metro Jaya menyambangi rumah kediaman Ahmad Bahar guna melangsungkan proses olah TKP.

Dalam kesempatan tersebut, Ilma diminta oleh petugas untuk menunjukkan beberapa titik lokasi krusial yang memiliki kaitan erat dengan jalannya peristiwa kelam itu.

Titik-titik tersebut di antaranya meliputi area teras rumah yang menjadi lokasi awal dirinya bertatap muka langsung dengan para anggota GRIB, pintu ruang tamu yang menjadi saksi bisu tempat perbincangan berlangsung, hingga area lantai dua rumah yang sempat diakses secara sepihak oleh salah satu anggota GRIB demi melacak keberadaan sang ayah.

"Saya menunjukan juga ke dalam rumah karenakan sempat ada satu orang GRIB yang masuk ke dalam rumah untuk mengecek keberadaan bapak saya," ujar Ilma.

Selama jalannya proses rekonstruksi lapangan tersebut, tim identifikasi tampak berulang kali mendokumentasikan foto serta menggali penjelasan secara mendetail dari mulut korban guna menyelaraskan rekam kronologi kejadian yang sebenarnya.

Melalui lembar keterangannya kepada pihak kepolisian, Ilma memberikan pengakuan bahwa dirinya sebenarnya telah berupaya sekuat tenaga untuk menolak seruan dari para anggota GRIB yang memaksanya ikut ke markas mereka.

Pada saat situasi mendesak tersebut, ia sengaja mencoba untuk mengulur-ulur waktu lantaran masih menanti kepulangan sang ibu ke rumah.

Di samping karena mengemban kewajiban untuk menjaga neneknya di rumah, Ilma merasa sama sekali tidak mengantongi urgensi kuat untuk melangkahkan kaki meninggalkan rumah di tengah situasi yang intimidatif seperti itu.

"Karena dari awal saya sudah billing saya enggak bisa pergi ke mana-mana dari rumah ini kalau ibu saya belum datang," kata Ilma.

Namun berdasarkan kesaksiannya, barisan anggota GRIB tersebut justru terus-menerus memberikan tekanan psikologis agar dirinya bersedia segera meluncur pergi.

Bahkan, mereka dikabarkan sempat menyodorkan selembar surat pernyataan di atas materai yang berisi jaminan keamanan penuh bagi dirinya selama berada di dalam markas.

Ilma mengaku dirinya tetap bersikap teguh untuk melayangkan penolakan.

Akan tetapi, seiring dengan berjalannya jam, kuantitas massa yang mendatangi area rumahnya dirasa kian bertambah masif sehingga memicu rasa ketakutan yang luar biasa di dalam benaknya.

"Ada satu orang bilang ke saya, 'Mba, misalnya kalau enggak ikut sama kami, takutnya ini semakin ramai, semakin tambah banyak'," kata Ilma menirukan ucapan salah seorang anggota GRIB kepada dirinya saat itu.

Kondisi pelik tersebut pada akhirnya memaksa dirinya untuk menyerah dan luluh setelah pemuka RW setempat hadir di lokasi kejadian serta menyatakan kesediaan untuk mengawal pendampingan dirinya menuju ke markas GRIB.

Bukan cuma sekadar mengekspos area bagian dalam rumah, Ilma juga turut mengarahkan petugas ke area parkir kendaraan yang menjadi titik awal keberangkatannya menuju ke markas GRIB Jaya.

Ia memaparkan bahwa kala itu terdapat dua unit mobil yang posisinya terparkir dalam jarak yang tidak terlampau jauh dari kediamannya.

Ilma berikutnya diinstruksikan untuk masuk ke dalam kabin salah satu mobil bersama dengan Ketua RW yang bertindak mendampingi dirinya.

Di kala momen tersebut, tepatnya sebelum roda mobil berputar, Ilma masih terus berupaya memutar otak guna mengulur waktu dengan berdalih bahwa dirinya mengidap gejala mabuk perjalanan setiap menaiki mobil sehingga memerlukan obat Antimo terlebih dahulu.

Ia pun pada akhirnya diberikan dispensasi untuk berjalan menuju ke gerai minimarket terdekat demi menebus obat tersebut.

Namun sayangnya, sosok yang dinanti juga kunjung menampakkan batang hidungnya di lokasi.

"Sebenernya sama kaya sebelumnya, untuk mengulur waktu. Saya bilang pas sebelum pergi 'saya mabokan jadi saya mau cari Antimo dulu', itu masih mengulur waktu. Terus pas naik mobil, kami mampir dulu ke Indomaret disuruh beli Antimo," kata dia.

Sesudah melewati drama mengulur waktu di gerai minimarket tersebut, rombongan konvoi itu lantas mengarahkan kemudi menuju ke Markas GRIB Jaya.

Berdasarkan penuturan Ilma, sesampainya dirinya menapakkan kaki di markas GRIB Jaya, ia langsung diminta untuk menanti kehadiran dari sang Ketua Umum GRIB Jaya, yakni Hercules.

"Setelah Pak Hercules datang, Pak Hercules masih tetap billing, 'kamu nih ya ngapain ancam-ancam saya dan istri saya'. Saya bilang, 'maaf Pak, bukan saya'. Tapi dia tetap tidak percaya," ujar Ilma.

Ia mengaku sempat mendapatkan rentetan tindakan intimidasi secara verbal atau lisan selama dirinya tertahan di area lokasi tersebut.

Ilma juga membeberkan bahwa dirinya sempat diperintahkan untuk mencopot hijab yang dikenakannya serta menyaksikan secara langsung momen saat Hercules menarik keluar senjata api dan meletuskannya sebanyak dua kali ke udara.

Sementara itu, di sela-sela jalannya agenda olah TKP, pihak tim penyelidik juga berusaha menggali kepastian mengenai ada atau tidaknya tindakan kontak fisik yang menimpa tubuh korban selama proses evakuasi dari rumah menuju markas berlangsung.

"Mba disentuh enggak atau dirangkul sama mereka?" tanya penyelidik.

"Enggak ada sih, cuma ya ikut aja karena pasrah," jawab Ilma.

Kendati lembaran peristiwa kelam itu tercatat telah kedaluwarsa hingga beberapa minggu yang lalu, Ilma mengaku efek traumatisnya masih mencengkeram kehidupannya sampai detik ini.

Ia mengutarakan bahwa dirinya belum memiliki nyali yang cukup untuk kembali menjalankan aktivitas secara normal di luar ruangan lantaran masih kerap dibayangi oleh rasa cemas yang hebat akan potensi terulangnya insiden serupa.

"Saat ini juga sebenarnya saya belum bisa ke mana-mana. Jadi jujur saya trauma gitu karena jadi takut-takut ada yang ngikutin, takut-takut apa gitu lho kalau keluar," kata dia.

Kondisi trauma psikologis tersebut dirasa kian menyiksa batinnya lantaran ia diwajibkan untuk memutar kembali memori dan menceritakan runtunan kronologi kejadian secara berulang kali kepada berbagai institusi berbeda, mulai dari jajaran penyidik kepolisian hingga lembaga negara urusan perlindungan saksi.

"Setiap misalnya saya cerita soal kronologis, saya harus cerita berulang kali ke LPSK, ke Komnas, ke Polda juga. Itu saya enggak kuat juga," ujarnya.

Ilma juga mengutarakan bahwa dirinya masih memendam rasa ketidakadilan yang mendalam atas segala perlakuan buruk yang telah menimpa dirinya.

Menurut sudut pandangnya, seluruh hak-hak asasi miliknya seakan telah didegradasi dan dirampas secara paksa ketika dirinya diintimidasi untuk angkat kaki dari rumah lalu digiring menuju ke markas GRIB Jaya.

"Pada saat kejadian saya benar-benar merasa enggak adil. Hak saya tuh enggak ada, seperti dirampas mereka," kata Ilma.

Oleh karena hal tersebut, ia menaruh asa yang teramat besar agar roda proses hukum yang saat ini tengah bergulir di kepolisian dapat segera dituntaskan secara bersih sekaligus mampu menyajikan keadilan yang hakiki, sekaligus menjadi tameng agar kasus serupa tidak menimpa masyarakat lain di masa depan.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua