Breaking

Banjir dan Air Limbah Picu Risiko Paparan Bakteri Kebal Antibiotik

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Senin, 08 Juni 2026
Banjir dan Air Limbah Picu Risiko Paparan Bakteri Kebal Antibiotik
Sungai Cisadane tercemar limbah gudang bahan kimia. (Sumber: NET)

JAKARTA - Penelitian mutakhir memperlihatkan bahwa luapan air limbah di area perumahan berpotensi memicu seseorang terjangkit infeksi bakteri.

Hal tersebut mencakup jenis bakteri yang resisten terhadap antibiotik atau kebal dari beraneka macam obat-obatan, sehingga membuat penyakit yang ditimbulkan kian sukar disembuhkan.

Riset yang dipaparkan dalam ajang ASM Microbe 2026 di Washington, DC ini memberikan penekanan terkait urgensi investasi dalam modernisasi prasarana air beserta sanitasi.

Berdasarkan penuturan promotor utama riset itu, Nick An, alokasi dana demi memperkokoh sistem jaringan air serta sanitasi krusial dilakukan guna memproteksi kesehatan warga dari risiko yang kian meningkat ini.

"Hal ini terjadi ketika air limbah yang tidak diolah masuk ke rumah atau lingkungan melalui pipa yang rusak, tersumbat, atau kelebihan beban," tutur kandidat PhD di Departemen Kesehatan Global, Lingkungan, dan Kerja di Sekolah Kesehatan Masyarakat di Universitas Maryland, College Park ini, dilansir dari Phys, Sabtu (6/6/2026).

Di dalam riset ini, kelompok ilmuwan menghimpun sebanyak 107 sampel yang berasal dari 86 kediaman di Maryland dalam rentang waktu Oktober 2023 sampai Juni 2025.

Mereka meneliti sampel-sampel tersebut guna mendeteksi keberadaan bakteri Enterococci yang kerap dijadikan barometer adanya pencemaran kotoran.

Selanjutnya, mereka menguji apakah beraneka ragam antibiotik masih berfungsi optimal atau tidak dalam menangani bakteri ini.

Hasil temuan dari riset ini memaparkan, nyaris separuh atau 46 persen dari kediaman yang diperiksa terbukti memiliki kandungan Enterococci.

Di samping itu, sebesar 21 persen rumah tercatat mengandung bakteri E. faecalis dan sejumlah 27 persen mengandung E. faecium, yakni varietas Enterococci yang sanggup memicu infeksi pada orang dengan imunitas tubuh yang rendah.

Malah, jumlah hunian yang tercemar limbah atau air yang membawa Enterococci dalam waktu sebulan ke belakang ditemukan lebih dominan ketimbang hunian yang terbebas dari insiden serupa baru-baru ini.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa momentum terjadinya peristiwa kemungkinan memegang andil kr.usial dalam tingkat keterpaparan bakteri Enterococci.

Riset itu turut membeberkan bahwa eksistensi bakteri Enterococci yang kebal terhadap obat antibiotik dijumpai pada lebih dari sepertiga jumlah hunian.

Lebih dari 1 di antara 10 rumah kedapatan memiliki kandungan Enterococci yang sudah resisten terhadap beraneka macam obat-obatan.

Bakteri jenis tersebut tercatat sanggup bertahan terhadap tiga atau lebih kategori obat antibiotik.

Kala bakteri bermutasi menjadi kebal dari beberapa jenis antibiotik, maka penyakit infeksi yang ditimbulkan bakal kian sulit untuk ditangani lantaran opsi pemulihan yang manjur menjadi semakin sedikit.

Area perumahan yang mengalami insiden kontaminasi air limbah atau air bersih belakangan ini didapati memiliki kadar bakteri kebal obat 3 kali lipat lebih banyak jika disandingkan dengan rumah-rumah yang steril dari kejadian serupa baru-baru ini.

Kendati demikian, hasil akhir riset belum dapat divalidasi secara absolut apakah kesenjangan itu dipicu oleh faktor kebetulan belaka, mengingat skala sampel penelitian yang tergolong minim.

Riset ini memaparkan jika luapan air limbah serta musibah banjir dapat membawa bakteri yang resisten terhadap antibiotik masuk ke dalam lingkungan rumah.

Fenomena itu terjadi selaras dengan kian intensnya dinamika cuaca ekstrem serta bertambahnya usia pakai sarana saluran pembuangan, yang membuat lebih banyak sektor rumah tangga berisiko terpapar mikroorganisme pemicu penyakit tersebut.

Kelompok peneliti mempunyai agenda untuk mengumpulkan sampel tambahan dari rumah-rumah yang terdampak oleh luapan air limbah serta bencana banjir di sepanjang musim panas, sekaligus memeriksa sampel tersebut untuk mendeteksi bakteri yang menjadi target.

"Kami juga berencana untuk membagikan temuan kami di acara-acara komunitas di lingkungan tempat kami bekerja dan secara lebih luas di komunitas-communitas Maryland yang terdampak luapan air limbah," tutur An.

Riset terpisah yang dipublikasikan dalam jurnal Nature pada permulaan tahun 2026 mengekspos bahwa air limbah dari fasilitas rumah sakit yang mengalir melewati kawasan perkotaan di India turut menyokong bakteri patogen bermutasi menjadi kebal pada antibiotik standar.

Sisa-sisa kandungan antibiotik di dalam saluran pembuangan serta got secara nyata ikut 'melatih' bakteri untuk menghalau penanganan medis, sehingga mempertinggi risiko obat-obatan yang populer digunakan bakal kehilangan efektivitasnya.

Output dari riset ini mengindikasikan bahwa fenomena resistensi terhadap antibiotik kini tidak sekadar terisolasi di area rumah sakit saja, melainkan sanggup menyebar lewat jaringan pembuangan limbah kota hingga bermuara ke sungai.

Ampas antibiotik yang hanyut ke sistem drainase — baik yang bersumber dari rumah sakit, aktivitas rumah tangga, maupun sektor lainnya — memberi ruang bagi bakteri untuk berkembang biak serta saling mentransfer karakteristik resistensi terhadap obat.

Sistem drainase yang terbuka, saluran pembuangan limbah di kawasan pinggiran kota, serta air limbah rumah sakit yang tidak diolah terlebih dahulu kerap dialirkan secara langsung menuju sungai, yang akhirnya memicu risiko kesehatan bagi masyarakat yang tinggal di area hilir.

Sejumlah jenis antibiotik, termasuk amoksisilin, sempat terdeteksi di dalam air limbah dengan kadar konsentrasi yang lumayan pekat untuk memicu proses replikasi gen di antara bakteri, sehingga memberi peluang untuk saling mewariskan karakter kekebalan obat satu sama lain.

“Kami melihat sirkulasi aktif antara air limbah dan rumah sakit. Air limbah berfungsi sebagai reservoir untuk kemunculan dan penyebaran patogen XDR (patogen yang resisten terhadap banyak obat)," ujar penulis senior studi ini dan ahli mikrobiologi di Translational Health Science and Technology Institute, Bhabatosh Das, dilansir dari Down to Earth.

 

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua