Ben Swarna, Petugas Kebersihan Magelang Rakit ATM Sampah Murah
MAGELANG - Di tangan Ben Swarna Sugi, reverse vending machine (RVM) tidak perlu dibuat dengan merogoh kocek hingga puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Dengan modal hanya Rp 2,5 juta ditambah keahlian mumpuni dalam merancang perangkat lunak, Ben mengaku sukses merakit prototipe mesin pengumpul plastik itu dalam waktu cma tiga bulan.
RVM sendiri merupakan mesin otomatis yang berfungsi menerima kemasan minuman bekas seperti botol plastik dan kaleng agar dapat didaur ulang kembali.
Mesin ini mengumpulkan sampah kemasan secara terpilah dan bersih, di mana pengguna RVM nantinya akan memperoleh insentif berupa uang digital ataupun voucer.
Ben menamai RVM buatannya dengan sebutan Recoin, kependekan dari recycle to coin.
Demi memudahkan pemahaman warga lokal, pria berusia 36 tahun ini kerap menyebut mesin ciptaannya sebagai “ATM sampah”.
Ia terdorong merakit mesin itu usai mengamati langsung perilaku buang sampah para tetangganya di Kampung Dukuh, Kota Magelang, Jawa Tengah, yang tidak pernah dipilah sama sekali.
“Kalaupun dipisah, cuma ada dua-tiga botol dan enggak laku. Harus tunggu 1 kilogram, setara 40 botol, biar laku,” tutur Ben kepada Kompas.com, Sabtu (4/7/2026).
Pengetahuan soal nilai jual kemasan minuman bekas tersebut tidak lepas dari pekerjaan Ben sehari-hari.
Lulusan Agribisnis Pengolahan Hasil Pertanian di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Temanggung ini rupanya aktif menjadi petugas kebersihan di kampungnya selama dua tahun terakhir.
“Sebelumnya kerja di bidang IT di Yogyakarta. Sudah enak, uangnya banyak. Tapi, ada semacam panggilan spiritual untuk pekerjaan saat ini,” cetus dia.
Ben melakukan riset mendalam terlebih dahulu sebelum mengeksekusi pengerjaan Recoin, mulai dari merancang struktur rangka fisik mesin hingga membuat peranti lunak sebagai otaknya.
Proses riset hingga perakitan mesin tersebut dilakoni Ben sejak Januari sampai Maret 2026.
Mesin pengumpul plastik otomatis sebetulnya sudah jamak di luar negeri.
Namun di Indonesia sendiri, Ben baru menemukan sedikit lokasi keberadaan mesin canggih tersebut.
Contohnya seperti RVM di perpustakaan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan kawasan Malioboro, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Mesin di kedua lokasi itu dikelola oleh Plasticpay, sebuah perusahaan rintisan (startup) besar yang bergerak di bidang reverse vending machine.
“Harga satu mesin bisa ratusan juta rupiah. Saya pun pakai material kayu, triplek yang murah,” ucap Ben.
Meski berbahan kayu murah, ia mengklaim Recoin jauh lebih unggul ketimbang mesin garapan startup lain dari segi user experience (UX).
Pengguna Recoin tidak perlu repot-repot mengunduh aplikasi tambahan di gawai mereka, karena seluruh interaksi fitur dilakukan langsung di situs web.
Secara sederhana, pengguna akan menerima pranala (link) setelah memindai kode batang (QR code) di mesin Recoin.
Lewat pranala itu, pengguna mesti membuat akun lebih dulu dengan mengisi nomor ponsel dan kata sandi.
Pranala yang sama juga menjadi akses masuk utama jika sudah mempunyai akun Recoin.
“Recoin pakai PWA (progressive web app) yang tidak makan memori gawai. Yang bikin malas orang itu karena harus install aplikasi,” kata Ben.
Untuk setiap botol plastik dan kaleng yang dibuang ke dalam Recoin, pengguna akan mendapatkan insentif instan senilai Rp 50.
Ben bahkan memodali sendiri uang sekitar Rp 100 000 di awal sebagai dana insentif warga.
Pengguna Recoin baru bisa menarik uangnya ketika saldo yang terkumpul sudah mencapai Rp 5 000.
Proses penarikan saldo dapat dilakukan lewat dompet digital seperti Dana, OVO, serta transfer langsung ke rekening bank.
Dalam menjalankan ekosistem ini, Ben bekerja sama dengan dua pengepul besar sampah kemasan minuman.
Di tingkat pengepul, harga penjualan sampah plastik tersebut dihargai sebesar Rp 4 000 per kilogram.
“Saya dapat keuntungan Rp 90-100 per botol yang dijual. Hasilnya untuk insentif dan operasional,” ungkapnya.
Usaha mengenalkan Recoin awalnya dilakukan dengan menempatkan mesin itu di titik-titik berbeda di Kampung Dukuh.
Namun karena terkendala sistem, kini warga harus datang langsung ke rumah Ben untuk membuang sampah kemasan minuman mereka.
Ben menilai mesin ciptaannya itu disambut dengan sangat baik oleh warga setempat.
Tak hanya dari dalam Kampung Dukuh, bahkan warga dari kampung-kampung seberang rela datang jauh-jauh untuk mencoba kecanggihan Recoin.
“Ini bukan rivalnya bank sampah. Tapi, pelengkap bank sampah,” tuturnya.
Kenyataan tersebut sejatinya belum membuat Ben berpuas diri.
Kampung Dukuh merupakan permukiman padat penduduk dengan akses gang sempit yang hanya selebar satu mobil.
Kampung ini juga jauh dari lalu-lalang masyarakat luas selain warga Dukuh sendiri.
Dengan kondisi wilayah yang demikian, menurut Ben, bisa saja ada orang luar yang sungkan untuk masuk dan mencoba Recoin.
Ia membayangkan suatu saat nanti Recoin dapat diletakkan di pusat-pusat keramaian kota, seperti Alun-alun Magelang, kawasan Pecinan, hingga area Rindam IV/Diponegoro.
Nama Recoin mulai dikenal luas setelah purwarupa ini dipamerkan dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di kompleks Armada Estate pada 17 Juni lalu.
Ben berkesempatan ikut berpameran usai Recoin sukses menyabet juara 2 dalam ajang Kreativitas dan Inovasi Masyarakat (Krenova) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah Kota Magelang.
“Juara 2 dapat Rp 3 juta,” kata Ben tersenyum.
Belakangan, sebuah sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Magelang tertarik untuk memiliki dan menerapkan sistem Recoin di area sekolah.
Ben pun setuju temuannya tersebut dioperasikan di sana.
Ia mengaku sama sekali tidak menerima bayaran uang sepeser pun dari pihak sekolah.
Sebagai gantinya, Ben akan bertindak sebagai pengepul tunggal untuk seluruh sampah kemasan minuman yang terkumpul dari para siswa di sekolah tersebut.