Ahli Gizi UGM Tegaskan MSG atau Micin Tidak Menyebabkan Kebodohan
JAKARTA - Opini mengenai mecin atau micin selaku bahan penguat rasa yang kurang sehat nyatanya masih diyakini oleh sebagian besar masyarakat sampai sekarang.
Monosodium glutamat (MSG) atau yang populer dijuluki sebagai mecin atau micin, kerap kali dituding menjadi biang keladi kebodohan, terutama buat anak-anak.
Ahli Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) Toto Sudargo, menjernihkan anggapan tersebut.
Ia menekankan bahwa MSG atau micin sama sekali tidak membawa bahaya.
"Yang mengatakan bahwa konsumsi MSG itu bahaya, sesungguhnya adalah orang yang tidak pernah memperdalam bagaimana MSG atau monosodium glutamat itu ya," tegas Toto saat dihubungi Kompas.com pada Selasa (19/5/2026).
MSG diproduksi lewat metode ekstraksi asam glutamat yang didapati di berbagai jenis bahan pangan natural, layaknya daging, ikan, rumput laut, tomat, hingga keju.
Oleh karena itu, Toto menyampaikan bahwa warga tidak usah merasa cemas terhadap MSG.
Micin malah menjadikan hidangan memiliki cita rasa gurih dan semakin lezat.
Nama buruk yang melekat pada MSG mulanya bersumber dari zat riset yang menyertakan ratusan ekor tikus dan disuntik MSG dengan takaran masif saban hari.
Efeknya, kawanan tikus tersebut mendapati penurunan performa pada organ otak.
Ketika tikus-tikus itu berkembang besar, mereka memiliki volume tubuh yang lebih mini.
Mereka pun mengalami kelebihan berat badan serta kendala dalam berkembang biak, seperti dinukil Kompas.com.
"Jadi itu adalah percobaan dari 100 tikus kalau setiap hari makannya MSG, baru ada kerusakan pada sel otak," terang Toto.
Sementara dalam pemakaian riil sehari-hari, takaran MSG pada makanan umumnya tergolong sangat minim.
MSG biasanya dimanfaatkan sebagai penambah rasa masakan.
Melalui dosis yang minim saja, santapan sudah memunculkan rasa gurih berkat MSG sehingga dinilai tidak berisiko, terlebih hingga memicu kebodohan.
"Andai kata MSG ini sebagai apa namanya food additive atau penyedap, saya yakin pemakainya sangat sedikit dan ketika kebanyakan, rasanya enggak enak," ujar dia.
"Jadi saya kasihan dengan MSG itu menjadi tertuduh. Padahal kenapa sih minyak jelantah, garam, dan gula yang jelas-jelas menyebabkan kerusakan-kerusakan pada pankreas, tetap aman-aman saja," sambung Toto.
Kendati begitu, Toto memaparkan, seturut kajian ilmiah, anak-anak penyandang autisme seyogianya menjauhi konsumsi MSG lantaran dapat memperburuk masalah sistem saraf.
"Tapi ya jangankan MSG, wong gluten sama kafein aja enggak boleh dikonsumsi oleh anak-anak yang autisme, kan gitu sebenarnya," pungkas dia.