Breaking

Soroti Krisis Ekonomi, Anies Sebut Kondisi Negeri Tak Baik Saja

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Rabu, 20 Mei 2026
Soroti Krisis Ekonomi, Anies Sebut Kondisi Negeri Tak Baik Saja
Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. (Sumber: NET)

JAKARTA - Mantan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan memberikan pernyataan mengenai situasi kontemporer yang dianggap sedang tidak dalam kondisi aman.

Hal tersebut diutarakan oleh Anies lewat akun instagram @aniesbaswedan, di mana Kompas.com telah memperoleh verifikasi dari pihak tim Anies berkenaan dengan restu pengutipan argumen tersebut pada Rabu (20/5/2026).

"Teman-teman semua izinkan saya berbagi pandangan. Saya mengikuti dengan seksama apa yang sedang terjadi di negeri ini, dan terus terang kondisinya tidak baik-baik saja," katanya dalam akun instagram @aniesbaswedan yang ditayangkan Rabu.

Anies memaparkan bahwa nilai tukar rupiah anjlok ke level paling rendah sepanjang masa dan memicu lonjakan harga barang-barang kebutuhan.

Tidak cuma itu, ia pun menyoroti ruang kerja yang kian menyempit, daya konsumsi rumah tangga yang melemah, serta tabungan masyarakat yang kian terkuras.

"Dan ini berdampak pada hajat hidup orang banyak," katanya.

Eks kandidat presiden dalam pemilu 2024 ini turut menyampaikan bahwa tantangan geopolitik, perselisihan di timur tengah, serta bencana kekeringan akibat imbas El Nino terdahsyat sepanjang sejarah pengamatan kini sudah di pelupuk mata.

"Satu ujian saja berat, saat ini beberapa datang bersamaan maka beratnya berlipat," tutur Anies.

Oleh karena itu, Anies meyakini aspek yang paling diperlukan oleh pasar beserta publik saat ini cuma satu, yakni sebuah kepastian.

Ia menginginkan agar tidak ada ketenangan palsu maupun kendala yang ditutupi hal-hal manis, melainkan kepastian yang bersumber dari keterbukaan serta kejujuran, dari haluan yang benderang, serta dari jajaran penguasa yang memahami arah tujuan negara ini akan dibawa.

"Sayangnya itu yang justru tidak kami dapatkan. Data dipilih-pilih, hanya yang baik yang ditampilkan, yang buruk disembunyikan," ucap Anies.

Anies pun mengkritik tajam respons para pemangku kebijakan negara yang dianggap memandang remeh kondisi krisis di depan mata.

"Komentar pejabat soal situasi serius sering terdengar enteng bahkan bercanda Kebijakan berubah-ubah, hari ini begini, besok berbeda. Pasar bingung, publik bingung, investor menahan diri bahkan sebagian kabur," ucapnya.

Anies menilai figur teladan juga tidak nampak ketika publik diimbau untuk berhemat memangkas pengeluaran mereka.

Sifat paradoks dinilai nampak berjalan beriringan lantaran jajaran birokrasi justru sibuk memikirkan urusan yang bukan merupakan prioritas utama.

"Pemborosan di atas, pengetatan di bawah, ini tampak sebagai ketidakpekaan. Peringatan sudah datang dari mana-mana, dari ekonom dalam negeri, dari lembaga keuang internasional, dari media-media nasional dan internasional yang mengelamati Indonesia," imbuh Anies.

"Tidak mungkin mereka semua keliru bersama-sama di saat yang sama. Ini yang dipertaruhkan sudah hajat hidup ratusan juta orang maka situasi ini harus diperlakukan dengan keseriusan yang sepadan," katanya.

Para kritikus, tutur Anies, sudah mengimbau kepada pihak penguasa untuk menjabarkan secara terbuka perihal apa yang senyatanya tengah dialami oleh negara.

"Berhentilah memberi obat tidur kepada publik," katanya.

Ia menyarankan agar pihak eksekutif memaparkan kendala yang ada secara apa adanya serta memberikan arah kebijakan yang benderang sekaligus konsisten.

"Pimpin secara solid, ajeg dan dari atas sampai bawah. Itu yang menenangkan pasar dan itunya akan menenangkan rakyat," ucapnya.

Anies juga mengimbau agar segenap masyarakat bersiap dalam melewati periode-periode sulit yang ada di depan mata.

"Suka tidak suka, masa-masa berat masih ada di depan kita. Tekanan ekonomi belum reda, cuaca ekstrim akan hadir dan menerpa, dan dunia di luar sedang bergolak," katanya.

Anies bukan berniat mengajak publik untuk merasa pesimis, ia justru meminta agar masyarakat bisa optimis menembus tantangan berat, dengan syarat dilewati dengan kesadaran penuh tanpa delusi yang direkayasa.

"Kita pasti bisa, tapi syaratnya satu, serius. Mari kita serius mengurus bangsa ini Terima kasih," tandasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua