Kebakaran Pasar Jiung Kemayoran: Kisah Pilu Rumah yang Hangus
JAKARTA - Pada momen Senin malam itu, kondisi langit di kawasan Kemayoran terpantau sedang tidak membisikkan suasana yang ramah.
Di lingkungan Kampung Pasar Jiung, keadaan udara yang biasanya dipadati oleh keharuman aroma gorengan serta keriuhan dari percakapan antarwarga, secara mendadak berubah menjadi sangat mencekam.
Kira-kira pada pukul 20.55 WIB, kobaran api terpantau tidak sekadar menyala biasa.
Amukan si jago merah tersebut menjalar dengan amat gesit di antara bangunan rumah warga yang berdiri secara berhimpitan, melumat habis papan kayu, bagian atap, sekaligus lembaran kenangan yang telah dirajut oleh warga setempat selama kurun waktu bertahun-tahun.
Bagi sosok Supriatin, yang mengemban amanah selaku Sekretaris RT 12 hingga RT 16 RW 04 Kelurahan Kebon Kosong, momen malam itu merupakan sebuah mimpi buruk yang menjelma menjadi kenyataan yang kelam.
Tatkala jilatan api mulai merontokkan kawasan permukiman tersebut, dirinya kebetulan sedang berada di dekat area lokasi tempat usahanya.
Hadirnya kabar mengenai insiden kebakaran itu sontak memicu rasa panik di hatinya hingga membuat dirinya bergegas untuk segera pulang.
Akan tetapi sewaktu dirinya telah menginjakkan kaki di area depan rumah, pemandangan yang tertangkap oleh matanya bukan lagi wujud tempat tinggal yang selama ini dikenalnya dengan baik.
Sisi dinding-dinding rumah terpantau telah berubah memerah akibat diterpa oleh hawa panas yang ekstrem.
Amukan kobaran api tampak menguasai hampir ke seluruh bagian dari struktur bangunan.
Paparan suhu udara yang teramat menyengat memicu rasa sulit bagi siapa pun untuk berupaya mendekat ke lokasi.
Supriatin mendadak histeris.
Dirinya berupaya keras untuk ikut menerobos masuk bersama dengan barisan warga lainnya demi menyelamatkan aneka aset barang berharga.
Namun langkah kakinya terpaksa harus terhenti.
Kondisi di lapangan dinilai sudah berada dalam tingkat yang terlalu membahayakan keamanan jiwa.
Petugas pemadam kebakaran dengan sigap segera mengevakuasi dirinya agar menjauh dari area lokasi kejadian.
Rasa panik yang mendera Supriatin sejatinya bukan semata-mata dipicu lantaran rumah serta harta bendanya terancam hangus menjadi abu.
Di dalam salah satu bangunan rumah yang kini kondisinya telah rata dengan tanah tersebut, sang istri tercinta ternyata sedang dalam keadaan sakit.
Supriatin membagikan kisah mengenai betapa mencekamnya proses evakuasi yang berlangsung di tengah-tengah kepungan kepulan asap hitam yang tergolong sangat pekat.
Istrinya yang pada saat kejadian sedang menderita gangguan pengapuran terpaksa mengalami sesak napas yang hebat sebagai akibat dari kepulan asap yang merangsek masuk ke seluruh sudut ruangan rumah.
Di tengah situasi lapangan yang sedemikian kacau, dirinya menyaksikan para tetangga berlarian pontang-panting demi mencari celah jalan keluar melewati area gang-gang sempit yang telah bermutasi menjadi lorong api.
"Saya sudah, sudah begini saja, sudah nangis-nangis saja. Ya sudah, sudah pasrah," tuturnya mengenang detik-detik penuh keputusasaan itu.
Di tengah-tengah rasa kepasrahan yang mendalam tersebut, seorang tetangga tiba mendatangi dirinya dengan membawa kabar baik bahwa sang istri telah berhasil diselamatkan oleh jajaran petugas pemadam kebakaran dan kini berada dalam status selamat.
Supriatin pun seketika dapat menghela napas secara panjang.
Untaian rasa syukur langsung terucap dengan tulus dari bibirnya.
Di tengah-tengah kondisi rumah yang nyaris ludes tak bersisa dilalap oleh amukan api, kepastian keselamatan sang istri menjadi satu-satunya kabar baik yang masih tersisa pada malam yang kelam itu.
Musibah kebakaran sejatinya bukanlah berstatus sebagai tamu asing bagi kawasan Pasar Jiung.
Lingkungan permukiman yang padat penduduk ini tercatat mempunyai rentetan riwayat sejarah yang panjang dengan peristiwa-peristiwa serupa.
Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri, Safrizal ZA, yang datang meninjau secara langsung ke lokasi kejadian perkara, memberikan peringatan bahwa insiden kebakaran tercatat telah berulang kali melanda kawasan tersebut.
Peristiwa yang paling terakhir bahkan dilaporkan baru saja terjadi pada tahun 2024 silam, dengan lokasi yang tidak berada jauh dari titik kebakaran pada kali ini.
Sembari menatap sisa-sisa dari struktur bangunan yang kini menghitam, Safrizal menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam.
"Tentu kita tidak menginginkan ini terjadi lagi ke depan. Mungkin hari ini tidak ada korban jiwa, tapi kalau ini tidak ditangani secara serius kami mengkhawatirkan suatu hari terjadi lagi akan menimbulkan korban jiwa masyarakat," ujarnya di sela kunjungan ke lokasi pengungsian.
Pada masa sekarang ini, bertempat di area Lapangan Jusuf Hamka, ratusan keluarga terpaksa harus menjalani roda kehidupan harian mereka di bawah naungan tenda-tenda darurat.
Berdasarkan perolehan data sementara, tercatat ada sekitar 250 unit rumah tinggal serta 330 kepala keluarga yang ikut terdampak oleh bencana kebakaran tersebut.
Akan tetapi di balik deretan angka-angka statistik itu, terdapat kenyataan hidup riil dari masyarakat yang ikut berubah drastis hanya dalam rentang waktu semalam.
Mereka merupakan kalangan pedagang sayuran, penjual bakso keliling, kaum buruh, serta masyarakat kecil yang kesehariannya menggantungkan sumber penghidupan pada denyut roda ekonomi di kawasan Pasar Jiung.
Kawasan Pasar Jiung sendiri selama masa ini populer dikenal sebagai sebuah wilayah yang dipenuhi oleh unsur paradoks.
Area permukiman warga berdiri secara sangat rapat di atas kepemilikan lahan yang status hukumnya tergolong kompleks.
Sebagian di antaranya merupakan wilayah yang tercatat pernah melewati fase pembongkaran untuk kemudian didirikan kembali secara swadaya oleh masyarakat setempat.
Supriatin memegang peran sebagai salah satu sosok saksi hidup dari jalannya perjalanan panjang dari kawasan tersebut.
Dirinya diakui telah menetap tinggal di lingkungan Pasar Jiung semenjak tahun 1969, melewati bermacam-macam pergantian zaman, mulai dari era kepemimpinan Presiden Soeharto hingga mencapai masa sekarang ini.
Bagi diri pribadinya, bangunan rumah yang hangus terbakar itu bukan sekadar sebuah bangunan fisik semata.
Rumah tersebut memegang arti sebagai tempat untuk tumbuh, bekerja mencari nafkah, membesarkan anak keluarga, hingga menjadi tempat menyimpan memori jejak perjalanan hidup selama kurun waktu puluhan tahun.
Sesudah berjuang keras selama waktu berjam-jam, amukan kobaran api pada akhirnya berhasil dipadamkan secara total.
Sebanyak 165 personel dari Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan dikerahkan ke lapangan dengan ditopang oleh suplai bantuan 35 unit mobil pemadam kebakaran.
Akan tetapi ketika amukan api berhasil dikendalikan, hal yang tersisa di lapangan hanyalah puing-puing gosong serta atmosfer kesunyian yang terasa amat menyesakkan dada.
Pihak pemerintah pusat melalui pernyataan Safrizal ZA menegaskan bakal terus menjalin koordinasi bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta demi memastikan kondisi lokasi benar-benar telah aman sebelum warga diizinkan untuk kembali berkunjung.
"Biasanya kita akan memastikan sampai satu hari, due hari bahwa di lokasi kebakaran itu tidak ada lagi material-material yang berbahaya yang bisa menimbulkan kebakaran lagi," katanya.
Bagi kalangan warga lokal seperti Supriatin, kepastian mengenai hal tersebut dirasa masih berada dalam jarak yang sangat jauh.
Dirinya pada saat ini harus berani berlapang dada menghadapi fakta terpahit bahwa rumah yang selama puluhan tahun menjadi tempat bernaung aman bagi keluarganya kini telah musnah terbakar.
Kendati demikian, secercah harapan kecil masih diupayakan untuk tetap dipelihara di dalam hatinya.
"Saya bersihkan-bersihkan lagi, bisa alhamdulillah, sampai jadi kediaman anak, bisa punya cucu," ujarnya.
Untaian kalimat yang sederhana itu merefleksikan sesuatu yang nilainya jauh lebih besar daripada sekadar agenda mendirikan bangunan rumah kembali.
Dirinya sedang berupaya kuat untuk merawat impian agar tetap hidup di tengah-tengah hamparan puing-puing yang telah menghitam.
Pihak pemerintah juga melayangkan janji untuk melangsungkan proses pendataan secara menyeluruh demi memastikan program bantuan darurat dapat tersalurkan secara tepat sasaran.
Langkah penanganan nantinya bakal dikoordinasikan melewati Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi DKI Jakarta dengan melibatkan andil dari Dinas Sosial, PMI, serta organisasi Baznas untuk pemenuhan pasokan logistik maupun program pemulihan psikososial bagi warga terdampak.
Di saat yang bersamaan, rentetan pembahasan mengenai masa depan dari kawasan Pasar Jiung kini mulai mengemuka ke permukaan.
Opsi mengenai program relokasi warga menuju ke hunian yang kondisinya lebih aman serta layak bakal menjadi bagian penting dari ruang diskusi antara pihak pemerintah, elemen warga, serta Pengelola Kawasan Kemayoran setelah masa tanggap darurat resmi berakhir.
Namun di luar dari seluruh rancangan kebijakan regulasi serta sajian angka statistik itu, sejatinya terdapat sebuah tragedi kemanusiaan riil yang sedang berlangsung di lapangan.
Musibah kebakaran terbukti tidak hanya menghanguskan fisik bangunan saja.
Ia juga turut merenggut rasa aman di dalam hati masyarakat.
Warga yang pada hari kemarin masih mengantongi fasilitas atap untuk berteduh nyaman, kini dipaksa harus berbagi ruang di area lapangan terbuka.
Barang-barang yang kebetulan berhasil diselamatkan—seperti selembar dokumen ijazah, album foto keluarga, atau satu set pakaian—secara mendadak bermutasi menjadi harta yang paling bernilai tinggi yang mereka miliki saat ini.
Rumah-rumah yang kondisinya kini telah rata dengan tanah barangkali bakal dibangun kembali di masa depan, sebagaimana yang telah dipraktikkan oleh warga setempat berkali-kali pada masa sebelumnya.
Mereka terbukti memiliki tingkat daya tahan kehidupan yang luar biasa, sebuah kemampuan instingtif untuk bangkit kembali dari keterpurukan yang tergolong sulit diuraikan dengan logika biasa.
Akan tetapi bobot pertanyaannya terpantau akan tetap sama: sampai kapankah hal ini harus terus terulang?
Momen malam kebakaran di kawasan Pasar Jiung semestinya tidak boleh berakhir hanya sebagai sebuah kabar duka yang perlahan-lahan sirna dilupakan begitu saja.
Aroma bau hangus yang pada saat ini masih menempel pekat di pakaian para pengungsi barangkali bakal lenyap dalam hitungan beberapa hari ke depan.
Tetapi lembaran ingatan mengenai amukan api yang merambat liar di gang-gang sempit, tentang suasana kepanikan warga yang berlarian ke sana kemari mencari keselamatan, dan tentang bangunan rumah yang lenyap dalam hitungan menit akan bertahan dalam memori jauh lebih lama.
Di bawah payung langit Kemayoran, barisan warga Pasar Jiung kini terpaksa menjalani hari-hari kehidupan mereka di dalam lokasi pengungsian sementara yang bertempat di Lapangan Jusuf Hamka, Jalan Benyamin Sueb.
Mereka setia menanti datangnya hari esok, sembari menaruh harapan besar ada sebuah jawaban pasti atas nasib yang tersisa di balik hamparan puing-puing yang telah menghitam.