Alami Dermatitis Langka, Punggung Wanita Ini Bergaris Mirip Cambukan

Wanita Berruam Mirip Cambukan Akibat Jamur Shiitake. (Sumber: NET)
Selasa, 02 Juni 2026 | 15:45:34 WIB

JAKARTA - Sebuah kasus medis yang tergolong tidak biasa dilaporkan menimpa seorang perempuan berusia 23 tahun di wilayah Florida, Amerika Serikat.

Ibu yang statusnya masih berada dalam periode memberikan ASI tersebut terpaksa harus dilarikan menuju unit gawat darurat setelah bagian permukaan punggungnya dipenuhi oleh bentukan ruam kemerahan berpola garis mirip sabetan pecut yang parah.

Melansir informasi dari Live Science, kejadian pada Oktober 2021 yang dimuat di dalam jurnal kedokteran Journal of Education & Teaching Emergency Medicine ini sempat memicu rasa kebingungan bagi para dokter, sebelum akhirnya sukses teridentifikasi bahwasanya pemicu utamanya merupakan santapan yang dikonsumsi sehari sebelumnya, yakni jamur shiitake.

Pada momen permulaan, ruam tersebut sejatinya hanya tampak berupa bintik radang berukuran kecil di area punggung bagian atas.

Pihak pasien pun sempat memeriksakan kondisi diri ke klinik darurat setempat dan memperoleh resep obat jenis steroid serta antihistamin.

Akan tetapi, kondisi kesehatan kulitnya justru kian memburuk dan meluas hingga ke area punggung bawah dengan pola garis panjang acak yang tampak persis seperti cedera akibat cambukan.

Petugas medis sempat melakukan pengecekan atas potensi adanya gejala alergi berkategori berat, gangguan pada saluran pernapasan, hingga riwayat penyakit meningitis.

Meski begitu, seluruh indikator vital pada tubuh pasien dipastikan berada dalam batas normal, terkecuali temperatur badannya yang kedapatan agak naik mencapai angka 37,3°C.

Saat tim medis mulai menelusuri rentetan riwayat menu makanannya, perempuan itu menyampaikan informasi bahwa dirinya sempat mengonsumsi masakan yang dicampur jamur shiitake sehari sebelum rasa gatal mulai melanda punggungnya.

Berpatokan pada basis informasi tersebut, dokter pun menarik kesimpulan bahwa pasien mengalami Shiitake Dermatitis.

Dalam ranah dunia kedokteran, gangguan kesehatan ini dikenal pula dengan sebutan Flagellate Dermatitis (Dermatitis Bendera).

Nama unik tersebut pertama kali diperkenalkan oleh seorang peneliti yang berasal dari negara Jepang bernama Takehiko Nakamura pada tahun 1977.

Penamaan ini terinspirasi dari keberadaan kaum Flagel di zaman pertengahan, yaitu sebuah kelompok keagamaan yang para anggotanya memiliki kebiasaan memecut diri sendiri demi memperlihatkan keyakinan mereka.

Secara medis, problem alergi ini dipicu oleh keberadaan zat lentinan yang terkandung di dalam bahan jamur.

Bagi beberapa individu yang mengantongi tingkat sensitivitas tinggi, zat lentinan dapat merangsang produksi protein peradangan dalam tubuh (interleukin-1 dan sitokin) secara berlebih, sehingga memunculkan ruam berbentuk sabetan di kulit.

Gejala ini pada umumnya bakal mencuat ke permukaan apabila jamur shiitake dikonsumsi mentah-mentah atau diolah dengan cara dimasak kurang matang.

Pihak dokter memberikan kepastian bahwa gangguan kesehatan ini sama sekali tidak menimbulkan risiko apa pun bagi bayi pasien, sehingga proses menyusui tetap boleh diteruskan secara aman.

Pasien pun diberikan saran untuk melanjutkan terapi pemulihan lewat pemakaian krim hidrokortison topikal, klotrimasol, serta meminum obat antihistamin oral.

Setelah melewati masa durasi tiga minggu, ruam yang menyerupai luka pecut tersebut dilaporkan telah bersih total tanpa menyisakan bekas luka.

Walaupun komoditas jamur shiitake sangat digemari di berbagai belahan dunia, fenomena Shiitake Dermatitis ini termasuk ke dalam kategori sangat jarang ditemukan secara global.

Sejauh ini dilaporkan baru ada kisaran 100 kasus yang terdokumentasi secara resmi dalam publikasi ilmiah, dengan sebagian besar laporan datang dari kawasan benua Asia.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati