Kebakaran di Kemayoran Jakpus Hanguskan 304 Bangunan Warga
JAKARTA - Peristiwa kebakaran besar yang menghanguskan area pemukiman padat penduduk akhirnya berhasil dikendalikan setelah petugas pemadam berjuang memadamkan kobaran api selama tujuh jam sampai dini hari.
Saat pagi tiba, situasi di area yang terbakar hanya menyisakan tumpukan puing bekas kebakaran seperti abu, seng, dan balok kayu yang gosong.
Pihak kepolisian melaporkan kerugian material berupa ratusan unit rumah yang ditinggali oleh ratusan kepala keluarga kini hancur menjadi arang.
Keadaan ini memaksa ratusan warga yang kehilangan tempat berteduh untuk menetap di lokasi penampungan darurat yang dipersiapkan oleh seorang pengusaha lokal.
"Lalu ada delapan korban mengalami luka-luka, terdiri dari enam perempuan dan dua laki-laki. Korban luka telah mendapatkan penanganan medis di Rumah Sakit Hermina," ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, di lokasi pengungsian, Selasa.
Pemerintah setempat langsung bertindak dengan mendirikan belasan tenda pengungsian untuk menampung seluruh pasokan bantuan dan warga yang kehilangan tempat tinggal.
Bantuan makanan siap konsumsi serta air bersih juga segera dikirimkan ke posko darurat untuk keperluan para korban terdampak.
Warga yang mengalami musibah sangat mengharapkan adanya bantuan dari pihak instansi terkait agar bisa membangun kembali tempat beralih tinggal mereka.
Salah satu penduduk usia lanjut mengisahkan bahwa seluruh bangunan kontrakan miliknya beserta hunian saudaranya kini tidak ada yang tersisa.
Semua properti miliknya sekarang telah hangus terbakar setelah dilahap si jago merah.
"Semuanya habis. Ada delapan rumah," ujar Kotnawi usai memeriksa puing-puing sisa rumahnya, Selasa.
Pria yang telah puluhan tahun tinggal di lingkungan itu mencari nafkah dari hasil berjualan baju di pasar yang lokasinya berdekatan dengan tempat kebakaran.
Ia menyatakan harapan besar untuk merenovasi kembali rumahnya jika memperoleh bantuan dana atau bahan bangunan dari pemerintah.
"Mau bangun lagi. Mau rehab kalau ada bantuan. Saya sih mohon bantuannya saja kalau bisa gitu, untuk memperbaiki," tutur Kotnawi. "Namanya kan kami usaha di sini, tinggal di sini. Jadi kan kalau enggak ada tempat tinggal, bingung," jelasnya.
Meski begitu, para penghuni paham betul bahwa status lahan yang mereka tempati selama puluhan tahun itu merupakan properti milik salah satu kementerian negara.
Perihal kepemilikan tanah tersebut diakui memang telah diketahui bersama oleh publik yang bermukim di sana.
Penduduk lainnya pun membenarkan hal yang sama mengenai status kepemilikan lahan negara tempat hunian mereka berada selama ini.
Ibu rumah tangga itu terpaksa merelakan rumah hasil jerih payahnya bersama sang suami turut musnah dilalap api pada malam itu.
"Itu tempat (rumah) sendiri. Tapi misalkan digusur ya bareng-bareng soalnya kan tanahnya tanah pemerintah. Saya cuma nempelin bangunan," katanya, Selasa.