Menguak Fakta Sejarah Masjid Bersejarah Berbalut Mitos Bangun Semalam

Masjid yang dikenal dengan Masjid Si Pitung (FOTO: NET)
Kamis, 11 Juni 2026 | 16:17:45 WIB

JAKARTA - Pernahkah Anda mendengar narasi seputar struktur bangunan megah yang bisa berdiri kokoh hanya dalam durasi satu malam saja?

Di wilayah Indonesia, kisah legenda dengan corak seperti ini nyatanya bukan monopoli dari Candi Prambanan atau Tangkuban Perahu belaka.

Sederet tempat ibadah masjid bersejarah di Tanah Air juga diselimuti oleh romansa kisah misterius yang serupa.

Mulai dari kawasan Jakarta, Cirebon, Tegal, hingga Malang, mitos perihal proses konstruksi kilat ini terhitung sangat melekat erat di sanubari masyarakat.

Namun, benarkah terdapat bangunan masjid yang didirikan hanya dalam waktu semalam?

Bagaimana realitas rekam sejarah yang sesungguhnya berada di balik fenomena tersebut?

Berikut ini dipaparkan beberapa masjid yang kerap diisukan berdiri dalam semalam bersandingan dengan ulasan dari analisis sejarahnya.

Bangunan yang populer dengan julukan Masjid Si Pitung tersebut merupakan salah satu rumah ibadah tua di Jakarta yang dibangun pada abad ke-17 di mana gaya arsitekturnya mengombinasikan empat elemen kebudayaan yaitu Jawa, Betawi, Eropa, serta Tionghoa.

Jakarta rupanya turut menyimpan narasi mengenai keberadaan masjid gaib.

Adalah Masjid Al Alam yang berlokasi di Marunda, Cilincing, Jakarta Utara, yang diposisikan selaku salah satu tempat ibadah muslim paling sepuh di area ibu kota.

Posisinya berada dalam kondisi tersembunyi di kawasan tepian Pantai Marunda.

Dilansir dari detikTravel, salah satu figur pengelola Masjid Al Alam, Kusnadi, memaparkan bahwa mengacu pada kisah turun-temurun dari para sesepuh kampung, masjid yang pada fase awal berbentuk surau ini didirikan oleh barisan para wali (aulia) hanya dalam durasi satu malam.

Oleh karena faktor itu, rumah ibadah ini pada masa lampau sempat diberi tajuk Masjid Agung Aulia.

"Sejarah (pembangunan) Masjid Al Marunda itu sangat singkat, Masjid Aulia Al Marunda dibangun dalam waktu semalam. Itu cerita dari orang tua kami bahwa didirikan dalam waktu semalam oleh para aulia," kata Kusnadi.

Pihak Otoritas Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selanjutnya menetapkan bangunan rumah ibadah ini masuk ke dalam daftar cagar budaya pada tahun 1975.

Berdasarkan hasil investigasi dari Dinas Kepurbakalaan pada tahun 1982, masjid dengan kombinasi arsitektur Jawa, Tionghoa, Eropa, serta Betawi ini diestimasikan berdiri pada abad ke-16, berbarengan dengan momentum tibanya Pasukan Fatahillah ke Batavia demi melancarkan gempuran ke Sunda Kelapa.

Masjid ini turut populer dengan identitas nama Masjid Si Pitung lantaran lokasinya yang berdampingan dengan Rumah Si Pitung serta diyakini sempat menjadi tempat singgah sang jawara legendaris Betawi tersebut.

Hal menarik lainnya, di area ini terdapat sumur "tiga rasa" yang airnya diklaim sanggup memunculkan sensasi rasa asin, tawar, ataupun manis bagi tiap peziarah yang berlainan.

Beralih menuju kawasan Jawa Barat, terdapat Masjid Agung Sang Cipta Rasa yang berlokasi di area lingkungan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Berbeda dengan karakteristik masjid lainnya, narasi pembangunan semalam pada masjid yang telah tegak berdiri sejak tahun 1489 ini dipandang lumayan rasional jika ditinjau secara teknis.

Dikutip dari publikasi laporan detikTravel, segenap warga Cirebon paham betul dengan kisah bahwa Sunan Kalijaga mengomandoi langsung proses pembangunan masjid ini mulai dari waktu magrib hingga menjelang datangnya subuh.

Kendati terdengar mustahil untuk diwujudkan, seorang pelancong bernama Fitriani mengutarakan hal itu sangat mungkin terealisasi lantaran kejeniusan rancang bangun pada era lawas.

Apabila dicermati secara saksama, struktur utama dari masjid ini dikonstruksikan memanfaatkan tiang-tiang kayu masif yang dipasang menggunakan pasak kayu tanpa melibatkan paku logam sama sekali.

"Ini kan tiangnya disambung-sambung dengan pasak, kalau istilah sekarang ini namanya bangunan knock down. Dirakitnya kan cepat, mungkin saja memang dibangun dalam semalam," ujarnya.

Salah satu pilar yang paling ikonik di tempat ini ialah 'Saka Tatal', yakni sebuah tiang unik yang dirancang dari rangkaian potongan-potongan kayu (tatal) yang disatukan menjadi satu pilar utuh.

Di samping arsitekturnya yang menyerupai karakteristik bangunan peninggalan Majapahit dan desain pintu masuk utama yang sengaja dirancang rendah agar jemaah merunduk sebagai simbol rasa hormat, masjid ini juga populer dengan adat 'Adzan Pitu'-yaitu kumandang azan jumat yang disuarakan oleh tujuh orang muazin secara serempak.

Narasi sejenis juga dapat dijumpai di kawasan Desa Kalisoka, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah.

Di tempat bersangkutan tegak berdiri Masjid Kasepuhan Pangeran Purbaya yang memegang korelasi sangat kuat dengan histori lahirnya Kota Slawi.

Mengutip laporan detikNews, salah satu representasi keluarga Kasepuhan Kalisoka, Zamzami, memaparkan bahwa konon berlandaskan cerita yang beredar di masyarakat, proses pendirian masjid ini cuma memakan durasi sehari semalam tanpa ada satu pun warga yang menyadarinya.

Catatan sejarah mendokumentasikan, pada tanggal 18 Mei 1601, tokoh pendiri Tegal yang bernama Ki Gede Sebayu menggelar sebuah sayembara guna menebang pohon jati raksasa yang bakal difungsikan untuk mendirikan bangunan masjid.

Agenda sayembara tersebut diramaikan oleh 25 orang peserta (dalam istilah bahasa Jawa: selawe, yang kemudian bertransformasi menjadi akar asal-usul dari nama Slawi).

Kompetisi tersebut berhasil dimenangkan oleh Pangeran Purbaya yang kelak dinikahkan dengan putri dari Ki Gede Sebayu dan didelegasikan menjadi tokoh ulama syiar agama Islam di kawasan tersebut.

Sampai dengan saat ini, struktur fisik masjid tersebut terpantau masih merawat keaslian arsitekturnya yang tergolong unik, yakni tidak dilengkapi dengan kubah melainkan sebuah menara yang pada sisi bawahnya difungsikan sebagai tempat sumur berwudu.

Apabila tiga tempat ibadah sebelumnya sarat dengan nuansa kuno tradisional, lain halnya dengan kondisi Masjid Tiban yang berlokasi di area Turen, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Masjid megah dengan struktur 10 lantai yang didominasi oleh perpaduan kelir biru-putih khas Timur Tengah ini sempat menjadi perbincangan hangat lantaran diisukan didirikan dalam semalam berkat bantuan dari kawanan jin.

Melansir pemberitaan detikTravel dan dokumen jurnal ilmiah dengan tajuk Pengembangan Wisata Religi dan Budaya Multikultural di Masjid Tiban Malang Jawa Timur yang disusun oleh Ahmad Beady Busyrol Basyar, pihak manajemen pondok pesantren Salafiah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah (yang merupakan nama otentik dari Masjid Tiban) secara tegas menepis mitos bersangkutan.

Istilah kata 'Tiban' dalam kamus bahasa Jawa memang memegang arti 'tiba-tiba', namun pada kenyataannya bangunan masjid ini sama sekali tidak didirikan dalam waktu satu malam saja.

Rangkaian proses konstruksi masjid sejatinya telah bergulir dalam waktu yang sangat panjang, diawali dari momentum peletakan batu pertama pada periode tahun 1987 mengacu pada hasil salat istikharah KH Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh.

Struktur bangunan ini bahkan terekam masih memegang status sebagai bangunan semi-permanen hingga menginjak tahun 1992.

Menariknya, arsitektur megah yang berdiri di atas lahan dengan total luas mencapai 8 hektare ini murni dikerjakan secara gotong royong oleh barisan para santri dibersamai warga sekitar dengan memanfaatkan material tanah merah, tanah liat, beserta lumpur.

Kini, bangunan setinggi 10 lantai yang dilengkapi dengan fasilitas akuarium masif, kebun binatang mini, hingga kompleks area pertokoan tersebut menjelma sebagai salah satu destinasi wisata religi dengan daya pikat paling magnetis di wilayah Jawa Tengah.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati