Permintaan Global Meningkat, Harga Bahan Baku Whey Protein Melonjak

Ilustrasi Whey Protein (FOTO: NET)
Senin, 15 Juni 2026 | 16:42:02 WIB

JAKARTA - Permintaan secara global terhadap komoditas produk tinggi protein terus merangkak naik dengan sangat pesat.

Namun, di sisi lain pihak sektor industri susu saat ini mengalami kesulitan besar untuk mengejar lonjakan angka kebutuhan tersebut.

Selama kurun waktu ini, para atlet serta kelompok orang dewasa lanjut usia banyak memanfaatkan smoothie ataupun jenis minuman protein yang dicampur dengan konsentrat protein whey guna membangun sekaligus menjaga massa otot mereka.

Bahan whey sendiri merupakan sebuah produk sampingan yang dihasilkan dari proses pembuatan keju.

Bahan baku ini kemudian dikeringkan hingga bertransformasi menjadi bentuk bubuk dan banyak diaplikasikan dalam beraneka macam produk suplemen.

Belakangan waktu ini, protein whey tidak lagi cuma sekadar dimanfaatkan untuk pemenuhan konsumsi minuman olahraga saja.

Sejumlah perusahaan makanan mulai memasukkannya ke dalam berbagai lini produk mereka, mulai dari sereal sarapan, Pop Tarts, keripik kentang, bagel, tortilla, hingga varian minuman Starbucks.

Langkah taktis itu dieksekusi demi memuaskan permintaan konsumen terhadap jenis makanan dan minuman yang mengandung tinggi protein.

Menurut lembaga perusahaan riset pasar bernama NielsenIQ, rata-rata toko supermarket di Amerika Serikat saat ini menyediakan 38.708 produk yang menyertakan kandungan protein pada lembar kemasannya.

Akan tetapi, tren masif tersebut mulai memicu timbulnya persoalan baru.

Tingkat permintaan yang teramat tinggi memicu pasokan protein whey grade pangan kian menipis dan mendorong grafik harga ke level tertinggi.

"Permintaan sangat kuat dan tampaknya melampaui pasokan saat ini," kata Kathleen Wolfley, wakil presiden Ever.Ag Insights, penyedia data dan konsultan untuk industri pertanian.

Wolfley memaparkan, harga grosir untuk komoditas protein whey mulai bergerak naik pada tahun 2024.

Laju grafik kenaikannya makin cepat pada periode tahun lalu dan terus berlanjut sepanjang tahun ini.

Konsentrat protein whey dengan kadar kandungan protein sebesar 80 persen kini diperdagangkan di angka lebih dari 13 dollar AS per pon di bursa komoditas susu Amerika Serikat.

Jenis varian tersebut sering digunakan oleh jajaran produsen makanan serta produk suplemen.

Nilai angka itu setara dengan lebih dari Rp 231.127 per pon, dengan acuan kurs Rp 17.779 per dollar AS.

Banderol harganya melonjak tajam hingga menyentuh angka 250 persen jika dibandingkan dengan periode tahun lalu, merujuk pada data Ever.Ag.

Isolat protein whey, yang merupakan versi jauh lebih murni dengan kadar kandungan protein minimal 90 persen, juga ikut naik sebesar 150 persen dibandingkan posisi tahun lalu.

Imbas kenaikan harga bahan baku ini pun mulai dirasa dampaknya oleh kalangan konsumen.

Harga bubuk konsentrat protein whey di kawasan Amerika Serikat naik berkisar 15 persen dalam kurun setahun terakhir, menurut data perusahaan pelacak harga Datasembly.

Bubuk whey isolat yang kastanya lebih premium mencatatkan lonjakan harga yang dirasa jauh lebih tajam.

Kondisi pelik serupa kini juga tengah melanda wilayah Eropa.

Pada fase akhir Mei, konsentrat protein whey sebesar 80 persen sukses menyentuh rekor baru yakni di level 26.450 euro atau setara 30.518 dollar AS per metrik ton.

Nilai nominal tersebut setara dengan kisaran Rp 542,58 juta per metrik ton.

Harga itu melesat lebih dari dua kali lipat jika dikomparasikan dengan kondisi kurang dari setahun sebelumnya, menurut lembaga DCA Market Intelligence, perusahaan penentu harga komoditas yang berbasis di Belanda.

Susu sejatinya memiliki dua unsur kandungan protein utama, yakni kasein dan whey.

Dalam jalannya proses pembuatan keju, unsur kasein akan membentuk bagian dadih yang padat.

Sementara itu, whey memiliki bentuk cairan yang kemudian dikeringkan hingga menjadi bubuk.

Departemen Pertanian Amerika Serikat menjabarkan bahwa setiap satu pon keju dipastikan akan memproduksi sembilan pon whey.

Angka konsumsi susu di wilayah Amerika Serikat terpantau telah turun selama kurun beberapa dekade terakhir lantaran konsumen bermigrasi ke minuman lain, seperti soda.

Namun, tingkat konsumsi produk keju dinilai tetap kokoh dan kuat di sana.

Negara dengan tingkat konsumsi keju dalam skala besar tentu akan memproduksi banyak pasokan protein whey.

Sebagian dari kelebihan pasokan di masa sebelumnya diekspor menuju ke China serta negara lainnya.

Kini, tingginya permintaan domestik terhadap makanan ringan serta produk tinggi protein memicu lebih banyak protein whey bertahan di dalam negeri Amerika Serikat.

Volume ekspor konsentrat protein whey 80 persen dan isolat protein whey dari Amerika Serikat menuju ke China merosot tajam hingga 47 persen pada periode Januari hingga April jika dikomparasikan dengan periode yang sama pada tahun lalu.

Data statistik tersebut bersumber dari Vesper, sebuah firma pelacak harga komoditas yang berbasis di kota Amsterdam.

"Tidak ada cukup produk untuk pelanggan AS, dan oleh karena itu ekspor telah dihentikan sebanyak mungkin," kata analis susu Vesper Jasper Endlich.

Negara China kemudian bergerak mencari lebih banyak pasokan protein whey dari kawasan Eropa.

Namun, Eropa juga didera kelangkaan imbas berkurangnya pasokan kiriman dari Amerika Serikat.

Lonjakan kenaikan permintaan whey juga ikut dipengaruhi oleh faktor penggunaan obat penurun berat badan jenis GLP-1.

GLP-1 merupakan varian jenis obat yang banyak dimanfaatkan untuk membantu menekan nafsu makan seseorang.

Contoh konkretnya adalah produk dengan merek Wegovy serta Zepbound.

Wolfley memaparkan penggunaan obat obesitas tersebut bertindak menjadi salah satu faktor utama yang memicu permintaan konsentrat protein whey melonjak tajam.

Para pengguna GLP-1 biasanya diberikan saran untuk mengonsumsi nutrisi protein dalam jumlah cukup.

Tujuannya adalah agar mereka bisa merasa kenyang dalam waktu lebih lama serta mampu menjaga massa otot di kala berat badan merosot turun.

Morgan Stanley memberikan estimasi bahwa sekitar 6 persen pasien obesitas dan diabetes di Amerika Serikat menggunakan obat GLP-1 pada periode tahun lalu.

Di tingkat global, porsinya terpantau berada di kisaran angka 2 persen.

Beberapa hasil estimasi bahkan menyebutkan angka penggunaan GLP-1 menyentuh 12 persen dari total keseluruhan populasi orang dewasa di Amerika Serikat.

Sebab, tidak semua pengguna dari obat tersebut berstatus menderita gangguan penyakit obesitas ataupun diabetes.

Perusahaan makanan dan nutrisi kemudian menciptakan lebih banyak produk dengan asupan tambahan protein guna memikat minat konsumen tersebut.

Produk protein juga menyasar kelompok orang-orang yang mengganti menu makanan mereka dengan shake protein demi menurunkan berat badan.

Kondisi pasokan yang ketat serta biaya bahan baku yang kian mahal memaksa sebagian produsen untuk menaikkan harga jual produk bubuk protein serta produk dengan tambahan protein.

Now Foods, produsen makanan kesehatan dan suplemen yang berbasis di Illinois, memberikan pernyataan bahwa wadah bubuk protein whey secara konsisten menjadi produk paling laris dalam kategori nutrisi olahraga mereka.

Namun, setelah kurun dua tahun membayar bahan baku dengan patokan harga lebih mahal, perusahaan akhirnya mengerek naik harga produk protein whey pada fase awal tahun ini.

Manajer merek olahraga Now, Bryan Morin mengutarakan, pihak perusahaan tidak memperkirakan bakal adanya kenaikan harga lanjutan untuk produk bubuk protein whey di tahun ini.

Now berikhtiar menyerap sebagian dari kenaikan biaya tersebut dengan taktik mengurangi porsi diskon.

Perusahaan juga membuka pertimbangan untuk perluasan portofolio produk dengan mengandalkan konsentrat protein susu.

Bubuk tersebut mengandung konsentrasi lebih sedikit whey dan patokan harganya dinilai jauh lebih murah.

"Dari perspektif kami, dinamika pasar yang lebih luas terus menunjukkan lanskap protein yang ketat dan terus berkembang," kata Morin.

Sejumlah produsen dikabarkan mulai menanamkan investasi untuk menambah kapasitas volume produksi protein whey mereka.

Namun, pasokan tambahan tersebut dipastikan tidak akan tiba dalam waktu dekat ini.

Glanbia, korporasi nutrisi asal Irlandia, menyebutkan pada November akan mendongkrak produksi isolat protein whey mereka di kawasan New Mexico.

Namun, kapasitas tambahan tersebut baru akan tersedia secara komersial pada tahun 2027.

Pada Februari, perusahaan susu asal Kanada, Agropur memberikan pernyataan akan mendongkrak produksi protein whey di pabrik mereka yang berlokasi di Quebec, Nova Scotia, South Dakota, dan Wisconsin pada periode 2029.

Sementara itu, tingginya patokan harga dapat memicu sebagian konsumen untuk memangkas aktivitas pembelian bubuk protein whey.

Apalagi, harga bahan makanan secara umum belakangan waktu ini juga merangkak naik.

Wolfley memberikan penilaian bahwa penurunan permintaan di tingkat ritel dapat membantu meredakan tingkat kelangkaan yang terjadi di tingkat grosir.

"Dinamika pasokan-permintaan dapat mulai membaik, tetapi kami tidak tahu apakah itu dinamika besok atau dalam setahun. Beberapa hal ini membutuhkan waktu," kata Wolfley.

 

Reporter: Ganis Akjul Karyawati