Penyebab Satu Keluarga Tewas di Posong: Ini 5 Fase Racun Gas CO

Polisi saat menunjukan barang bukti seperti tungku pembakaran yang diduga menjadi penyebab tewasanya satu keluarga saat glamping di Posong saat konpers.(FOTO:NET)
Rabu, 17 Juni 2026 | 14:21:21 WIB

JAKARTA - Fakta seputar pemicu meninggalnya seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama tiga orang anggota keluarganya tatkala sedang berkemah di kawasan Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah, kini telah terkuak.

Jajaran aparat kepolisian memberikan penegasan bahwasanya keempat korban tersebut wafat akibat menghirup racun gas karbon monoksida (CO) yang bersumber dari peranti penghangat berbahan briket atau arang di dalam ruangan tenda yang tertutup rapat.

Menurut pemaparan dari Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan, Prof Agus Dwi Susanto, SpP, CO dikategorikan ke dalam golongan gas asfiksian yang secara agresif merusak serta memutus pasokan oksigen pada sistem aliran darah manusia.

Karakteristiknya bertolak belakang dengan gas iritan yang mampu memicu reaksi batuk, sehingga alur proses keracunan karbon monoksida ini acap kali bergulir tanpa disadari sama sekali oleh para korbannya.

"When gas CO ini terhirup oleh seseorang, masuk ke saluran napas, dia akan masuk ke pembuluh darah yang ada di paru yang disebut namanya alveoli. Di situ CO akan masuk ke dalam darah, ketika dia ada di dalam darah, dia akan bersaing dengan oksigen yang kami hirup. Kekuatan CO mengikat HB (hemoglobin) itu 300 kali lebih kuat daripada oksigen mengikat HB," jelas Prof Agus.

Mengenai tingkatan keparahannya, Prof Agus menjabarkan lima tahapan kadar CO di dalam darah (Carboxyhemoglobin atau HbCO) yang beroperasi secara simultan, kilat, serta menggerogoti organ tubuh secara bertingkat: Pada Fase 1 (Kadar 5-10%), tahapan ini merupakan keadaan awal yang memicu indikasi sangat ringan, sehingga kerap kali diabaikan atau sekadar dipandang sebagai rasa letih biasa saja.

Dampak yang mulai dirasakan oleh pihak korban mencakup sakit kepala serta pusing yang samar, dan korban bakal merasa agak mengantuk imbas dari organ otak yang mulai kehabisan pasokan oksigen.

Melangkah pada Fase 2 (Kadar 20-30%), andaikata paparan gas terus berlanjut, akumulasi zat racun bakal bertambah banyak dan memicu sakit kepala yang teramat hebat yang disertai rasa mual hingga muntah.

Aspek yang terhitung cukup unik pada tahapan ini ialah ritme embusan napas korban bakal berubah menjadi lebih cepat atau terengah-engah.

Kendati sistem tubuh sengaja memacu frekuensi bernapas lantaran mengidentifikasi adanya kekurangan oksigen, keadaan ini justru berbalik menjadi bumerang yang memicu korban menghirup lebih banyak gas CO yang telah mengepung kawasan sekitar mereka.

Berikutnya pada Fase 3 (Kadar 30-40%), kondisi mental korban bakal mulai terganggu dengan hadirnya disorientasi atau perasaan linglung.

Di samping hal itu, organ jantung dipaksa beroperasi dan berdetak jauh lebih cepat demi menambal kekurangan oksigen, hingga pada ujungnya membuat korban terjatuh tidak sadarkan diri.

Pada Fase 4 (Kadar 40-50%) yang tergolong sebagai kondisi sangat kritis, tubuh korban bakal mendapati gejala kejang-kejang sebelum akhirnya seketika masuk ke fase koma yang amat dalam.

Secara bersamaan, kondisi tekanan darah pada tubuh korban juga bakal seketika merosot sampai ke tingkat yang paling drastis.

Terakhir ialah Fase 5 (Kadar di atas 60%) yang memosisikan diri sebagai tahapan paling fatal.

Tatkala persentase kadar HbCO di dalam sistem aliran darah sudah melampaui angka 60 persen, segenap organ tubuh dipastikan lumpuh total serta tidak lagi berfungsi imbas dari lenyapnya pasokan oksigen secara menyeluruh.

Dampaknya, korban bakal seketika mengalami keadaan henti napas, henti jantung, hingga berujung pada kematian.

Kondisi fatal ini bakal menjadi berlipat-lipat lebih mematikan seandainya korban menghirup kepungan gas CO tersebut sewaktu tengah beristirahat ataupun tertidur dengan lelap.

Efek rasa kantuk yang hadir di tahapan awal bakal melebur secara langsung dengan tidur normal korban, sehingga peralihan kondisi dari tidur biasa menjadi pingsan lalu koma bakal berlangsung sepenuhnya tanpa disadari.

"Biasanya orang nggak menyadari itu kalau saat dia keracunan CO, karena tadi nggak ada rasanya, nggak ada baunya, nggak berwarna, nggak tahu tuh. Kalau otaknya kekurangan oksigen juga kadang-kadang mulai agak-agak ngantuk gitu kan. Kalau udah 40-50 persen tuh udah pingsan, koma. Tertidur seterusnya, terus abis itu meninggal. Memang nggak sadar," tutur Prof Agus.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati