Keyakinan Konsumen Indonesia Tetap Kuat Akhir 2025 Dorong Optimisme Ekonomi Nasional
- Jumat, 09 Januari 2026
JAKARTA - Di tengah dinamika ekonomi global yang masih penuh tantangan, persepsi masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional menjadi indikator penting arah perekonomian ke depan.
Pada penghujung 2025, optimisme konsumen Indonesia tercatat tetap terjaga. Hal ini menunjukkan bahwa daya tahan ekonomi domestik masih kuat, sekaligus mencerminkan kepercayaan publik terhadap stabilitas dan prospek ekonomi nasional dalam jangka menengah.
Bank Indonesia mencatat keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi Indonesia tetap kuat pada Desember 2025. Temuan tersebut tercermin dalam hasil Survei Konsumen Bank Indonesia yang secara rutin memotret persepsi dan ekspektasi masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun enam bulan mendatang.
Baca JugaKeyakinan Konsumen Indonesia Tetap Kuat Akhir 2025 Dorong Optimisme Ekonomi Nasional
Indeks Keyakinan Konsumen Tetap di Zona Optimis
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat pada Desember 2025. Hal ini tecermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Desember 2025 yang berada pada level optimis atau indeks lebih dari 100, yakni sebesar 123,5.
Capaian tersebut menandakan bahwa secara umum masyarakat masih memandang kondisi ekonomi nasional berada dalam situasi yang baik. Angka IKK yang solid juga mencerminkan keyakinan konsumen dalam menjaga aktivitas konsumsi di tengah berbagai penyesuaian ekonomi.
“Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Desember 2025 ditopang oleh Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) dan Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK),” kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Dengan kombinasi kedua indeks tersebut, BI menilai optimisme konsumen masih menjadi penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional.
Peran Kondisi Ekonomi Saat Ini
Lebih lanjut, IKE dan IEK tetap berada pada level optimis yang masing-masing sebesar 111,4 dan 135,6. Meski demikian, angka ini sedikit lebih rendah dibandingkan dengan indeks bulan sebelumnya yang masing-masing tercatat sebesar 111,5 dan 136,6.
Terkait persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini, BI mencatat bahwa tetap kuatnya IKE bersumber dari kenaikan Indeks Ketersediaan Lapangan Kerja (IKLK). Pada Desember 2025, IKLK tercatat sebesar 106,5, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di angka 103,7.
Peningkatan persepsi terhadap ketersediaan lapangan kerja mencerminkan keyakinan masyarakat bahwa peluang kerja masih terbuka dan pasar tenaga kerja relatif stabil. Faktor ini menjadi salah satu fondasi utama optimisme konsumen.
Kondisi ini juga menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di berbagai sektor masih mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan.
Penghasilan dan Daya Beli Konsumen
Selain ketersediaan lapangan kerja, indikator lain yang turut menopang IKE adalah Indeks Penghasilan Saat Ini (IPSI) dan Indeks Pembelian Barang Tahan Lama atau Durable Goods (IPDG). Kedua indeks tersebut tercatat berada pada level optimis.
BI mencatat IPSI berada di angka 120,2, sementara IPDG tercatat sebesar 107,6. Angka ini menunjukkan bahwa konsumen masih merasakan stabilitas pendapatan sekaligus memiliki kemampuan untuk melakukan pembelian barang tahan lama.
Stabilnya persepsi terhadap penghasilan menjadi faktor penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Dengan pendapatan yang relatif terjaga, konsumsi rumah tangga tetap dapat berlangsung meski dihadapkan pada berbagai tekanan eksternal.
Kondisi tersebut menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang bertumpu pada konsumsi domestik.
Ekspektasi Konsumen Enam Bulan Mendatang
Adapun terkait ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan, BI menyampaikan bahwa tetap kuatnya IEK Desember 2025 bersumber dari Indeks Ekspektasi Penghasilan (IEP). Indeks ini tercatat sebesar 140,8, sedikit lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yang berada di angka 140,6.
Peningkatan ekspektasi penghasilan menunjukkan bahwa konsumen masih optimistis terhadap potensi peningkatan pendapatan dalam waktu dekat. Harapan ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan konsumsi dan aktivitas ekonomi.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Ketersediaan Lapangan Kerja (IEKLK) dan Indeks Ekspektasi Kegiatan Usaha (IEKU) juga berada di level optimis. IEKLK tercatat sebesar 135,1 dan IEKU sebesar 130,8.
Meski demikian, kedua indeks tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya, masing-masing sebesar 135,3 dan 133,8.
Pola Konsumsi dan Pengelolaan Pendapatan
Survei BI yang sama juga mencatat dinamika pola pengelolaan pendapatan konsumen pada Desember 2025. Rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi atau average propensity to consume ratio tercatat sebesar 74,3 persen.
Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan atau utang (debt to income ratio) berada di angka 10,8 persen. Kedua rasio ini sedikit menurun dibandingkan dengan proporsi pada bulan sebelumnya.
Penurunan tersebut mengindikasikan adanya kehati-hatian konsumen dalam mengelola pengeluaran dan kewajiban keuangan. Di sisi lain, konsumen juga mulai meningkatkan porsi pendapatan yang disimpan.
Proporsi pendapatan konsumen yang disimpan atau saving to income ratio tercatat meningkat menjadi sebesar 14,9 persen. Kenaikan ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk memperkuat ketahanan finansial di tengah ketidakpastian global.
Secara keseluruhan, Bank Indonesia menilai kuatnya keyakinan konsumen pada akhir 2025 menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi nasional. Optimisme yang terjaga diharapkan dapat terus mendukung konsumsi rumah tangga sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Sindi
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Busui Wajib Lebih Hati-hati, Ini 5 Kandungan Skincare yang Berisiko Saat Masa Menyusui
- Sabtu, 10 Januari 2026
Produksi dan Konsumsi Jagung Melonjak 23 Persen, Pemerintah Siapkan Ekspor Nasional
- Sabtu, 10 Januari 2026
Berita Lainnya
Long Weekend Januari 2026 Jatuh Kapan? Ini Daftar Jadwal Tanggal Merahnya
- Sabtu, 10 Januari 2026
Busui Wajib Lebih Hati-hati, Ini 5 Kandungan Skincare yang Berisiko Saat Masa Menyusui
- Sabtu, 10 Januari 2026









