Rekonstruksi Pasca-Konflik dan Tren EV Jadi Penopang Harga Logam 2026

Rekonstruksi Pasca-Konflik dan Tren EV Jadi Penopang Harga Logam 2026
Rekonstruksi Pasca-Konflik dan Tren EV Jadi Penopang Harga Logam 2026

JAKARTA - Pasar komoditas logam industri dunia tengah memasuki fase krusial pada awal tahun 2026. Alih-alih hanya bergantung pada siklus manufaktur tradisional, pergerakan harga komoditas strategis seperti nikel, aluminium, dan timah kini didorong oleh dua mesin pertumbuhan baru: ambisi global terhadap energi bersih dan kebutuhan masif akan pembangunan kembali infrastruktur di wilayah-wilayah pascakonflik. Fenomena ini menciptakan landasan harga yang kuat, mengimbangi sentimen negatif dari perlambatan ekonomi di sektor lain.

Dukungan permintaan global terhadap komoditas logam industri diperkirakan tetap kuat pada awal 2026, seiring meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik (electric vehicle/EV), baterai, serta potensi perbaikan infrastruktur pascakonflik di sejumlah kawasan dunia. Berdasarkan data Trading Economics pada Selasa (27/1/2026), performa harga menunjukkan lonjakan yang signifikan; aluminium naik 7,66% menjadi US$ 3.171 per ton, timah meroket 32,70% ke level US$ 56.816 per ton, dan nikel menguat 17,27% ke posisi US$ 18.643 per ton.

Sektor Baterai dan Harapan Damai sebagai Katalis Harga

Baca Juga

BPJPH Dorong Produk Halal Nasional Mendunia Lewat Kerja Sama USDA

Kenaikan harga logam industri ini bukanlah tanpa alasan fundamental. Pengamat Ekonomi, Mata Uang, & Komoditas, Ibrahim Assuaibi menilai, tren tersebut telah mendorong kenaikan harga aluminium dan nikel dalam beberapa waktu terakhir. “Untuk aluminium dan nikel, harganya memang terus mengalami kenaikan. Penggunaan untuk baterai dan kebutuhan industri menjadi pendorong utama,” ujar Ibrahim kepada Kontan.

Menariknya, Ibrahim melihat adanya peluang pertumbuhan permintaan dari sektor non-EV yang berasal dari proyeksi berakhirnya ketegangan geopolitik. Potensi perdamaian di sejumlah wilayah konflik global berpeluang menjadi katalis tambahan bagi permintaan logam industri. Di Eropa, peluang tercapainya perdamaian antara Rusia dan Ukraina dinilai akan memicu kebutuhan rekonstruksi infrastruktur dalam skala besar. Sementara di Timur Tengah, upaya pemulihan wilayah konflik juga diperkirakan membutuhkan pasokan bahan baku logam yang signifikan.

Potensi Lonjakan Permintaan Kuartal I-2026

Kebutuhan akan pembangunan kembali wilayah terdampak perang diperkirakan akan menyerap pasokan logam industri secara agresif dalam waktu dekat. “Rekonstruksi di Eropa dan Timur Tengah akan membutuhkan aluminium dan nikel dalam jumlah besar. Ini yang membuat permintaan kedua logam tersebut berpotensi terus meningkat, khususnya di kuartal I 2026,” jelas Ibrahim.

Meski demikian, pasar tetap diimbau untuk waspada terhadap fluktuasi jangka pendek. Ibrahim mengingatkan bahwa risiko koreksi harga tetap ada. Koreksi berpotensi terjadi ketika kondisi ekonomi global mulai membaik dan ketegangan geopolitik mereda, sehingga sentimen spekulatif di pasar komoditas berkurang. Namun, ia optimis koreksi tersebut tidak akan signifikan. “Koreksi pasti ada, tetapi saya melihat koreksinya tidak akan terlalu dalam. Permintaan masih tinggi, sementara pasokan relatif terbatas,” tambahnya.

Keterbatasan Pasokan vs Kebutuhan Pembangunan Global

Salah satu faktor pengunci yang menjaga harga tetap di level tinggi adalah ketidakseimbangan antara ketersediaan barang dengan laju kebutuhan. Keterbatasan pasokan aluminium, nikel, maupun timah menjadi faktor penahan koreksi harga. Kota-kota yang mengalami kerusakan parah akibat konflik, baik di Ukraina maupun di Jalur Gaza, diproyeksikan akan menjadi penyerap utama stok logam industri dunia saat proses pemulihan dimulai.

Ibrahim juga memberikan batasan tegas antara karakter logam industri dengan logam mulia seperti emas. Menurutnya, logam industri tidak akan mengikuti lonjakan harga emas yang berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe haven). Karakter logam industri berbeda karena lebih bergantung pada aktivitas ekonomi riil dan pembangunan infrastruktur. “Logam mulia seperti emas adalah instrumen lindung nilai dan cadangan devisa. Sementara aluminium, timah, dan nikel murni digunakan sebagai bahan baku industri dan pembangunan,” pungkasnya.

Proyeksi Harga Logam Industri Kuartal Pertama 2026

Menutup analisisnya, Ibrahim memberikan estimasi angka yang optimis untuk pergerakan harga di sepanjang tiga bulan pertama tahun ini. Untuk kuartal pertama 2026, Ibrahim memproyeksikan harga aluminium berada di kisaran US$ 3.450 per ton, timah sekitar US$ 57.500 per ton, dan nikel di level US$ 19.000 per ton.

Dengan proyeksi ini, pelaku industri dan investor diharapkan dapat mengantisipasi ketatnya pasar logam industri yang kini tidak lagi hanya ditentukan oleh diler mobil listrik, melainkan juga oleh meja diplomasi perdamaian dunia.

David

David

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026

Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026

12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun

12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun

Rekomendasi Hotel di Braga Bandung di Bawah Rp500 Ribu di 2026

Rekomendasi Hotel di Braga Bandung di Bawah Rp500 Ribu di 2026

Wapres Gibran Pastikan Pemulihan RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Wapres Gibran Pastikan Pemulihan RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global

Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global