Ketahanan Finansial Jawa Timur: Kredit Rp623 Triliun dan Dana Tabungan Melimpah

Ketahanan Finansial Jawa Timur: Kredit Rp623 Triliun dan Dana Tabungan Melimpah
Ketahanan Finansial Jawa Timur: Kredit Rp623 Triliun dan Dana Tabungan Melimpah

JAKARTA - Dinamika ekonomi di Jawa Timur pada penghujung tahun 2025 menunjukkan sinyal kehati-hatian yang sangat terukur, baik dari sisi masyarakat sebagai debitur maupun perbankan sebagai penyedia likuiditas. Di tengah tekanan suku bunga global dan penyesuaian ekonomi domestik, "Arek Jatim" tercatat tetap aktif menggerakkan roda ekonomi melalui penarikan kredit yang signifikan. Namun, menariknya, tren ini dibarengi dengan lonjakan simpanan masyarakat yang menunjukkan sikap antisipatif terhadap ketidakpastian masa depan.

Hingga November 2025, masyarakat Jawa Timur telah menarik kredit sebesar Rp623 triliun dari perbankan. Angka ini mencerminkan pertumbuhan sebesar 2,29% secara tahunan (year on year/yoy). Meski tumbuh, laju ekspansi ini terlihat lebih selektif dibandingkan periode sebelumnya, menandakan adanya pergeseran strategi finansial di tingkat rumah tangga maupun pelaku usaha.

Pergeseran Portofolio Kredit: Investasi dan Konsumsi Mendominasi

Baca Juga

Lewat Pameran Wewangian Perfume Pop Market 2026, Bank Mandiri Dorong Gaya Hidup Berkelanjutan

Kepala OJK Provinsi Jawa Timur, Yunita Linda Sari, mengungkapkan bahwa penyaluran kredit di wilayah ini didominasi oleh sektor jangka panjang dan kebutuhan rumah tangga. Berdasarkan data yang dimiliki regulator, penyaluran kredit ke arek Jawa Timur terutama untuk kredit investasi sebesar 6,36% dan kredit konsumtif mencapai 5,99%.

Namun, pemandangan berbeda terlihat pada sektor produktif jangka pendek. Pinjaman usaha melalui kredit modal kerja justru mengalami penurunan sebesar -1,12%. Fenomena ini bukan tanpa alasan. Kondisi ini mengindikasikan dunia usaha dan masyarakat [Jawa Timur] sedang melakukan penyesuaian terhadap tingkat suku bunga dan kondisi ekonomi, sehingga ekspansi kredit berlangsung secara lebih selektif.

Sektor Penopang Ekonomi: Rumah Tangga dan Perdagangan Jadi Pilar

Jika membedah data berdasarkan sektor ekonomi, komposisi pinjaman di Jawa Timur terlihat cukup beragam dengan ketergantungan yang kuat pada sektor konsumsi dan distribusi. Pinjaman rumah tangga menjadi kontributor terbesar dengan menyumbang 30,32% dari total pinjaman yang disalurkan.

Di posisi berikutnya, sektor perdagangan besar dan eceran mengambil porsi 25,71%, disusul oleh industri pengolahan sebesar 19,49%. Sementara itu, sektor primer seperti pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi sebesar 7,80%. Perlambatan pertumbuhan kredit di beberapa sektor ini dianggap sebagai cerminan sikap kehati-hatian dalam penyaluran pembiayaan, seiring dengan penyesuaian strategi manajemen risiko di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.

Lonjakan Dana Pihak Ketiga: Masyarakat Gemar Menabung

Berseberangan dengan tren kredit yang selektif, budaya menabung masyarakat Jawa Timur justru semakin menguat. Hal ini terlihat dari pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang melampaui pertumbuhan kredit itu sendiri. Tabungan arek Jawa Timur di perbankan meningkat 4,49% yoy menjadi Rp826,887 triliun.

Kenaikan tabungan ini memberikan fondasi likuiditas yang sangat kokoh bagi industri perbankan di Jawa Timur. Kondisi likuiditas pada November 2025 terpantau berada pada level yang memadai dan terjaga, yang mencerminkan efektivitas manajemen risiko serta sikap kehati-hatian perbankan dalam menjaga stabilitas di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang.

Indikator Likuiditas dan Stabilitas Perbankan yang Tangguh

Kesehatan industri perbankan di Jawa Timur juga tercermin dari rasio-rasio keuangan yang berada jauh di atas ambang batas aman. Rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) tercatat sebesar 160,98%, sementara Alat Likuid/DPK (AL/DPK) berada di level 33,77%. Angka-angka ini terpaut sangat jauh di atas threshold masing-masing yang dipatok sebesar 50,00% dan 10,00%.

Lebih lanjut, rasio pinjaman terhadap simpanan atau Loan to Deposit Ratio (LDR) tercatat sebesar 75,35%. Kondisi ini menunjukkan bahwa perbankan masih memiliki ruang yang cukup lebar untuk mengantisipasi jika terjadi peningkatan permintaan kredit di masa mendatang.

Kualitas Kredit dan Penguatan Struktur Permodalan

Terkait dengan risiko gagal bayar, OJK meyakinkan bahwa kualitas kredit di Jawa Timur tetap terjaga meski dalam proses normalisasi pascapandemi. Rasio NPL net perbankan pada November 2025 tercatat sebesar 1,53% dan NPL gross sebesar 3,49%. Kenaikan tipis pada angka NPL tersebut merupakan bagian dari proses normalisasi kualitas kredit pascarestrukturisasi dan dinamika sektor usaha tertentu.

Dari sisi ketahanan modal, perbankan di Jawa Timur justru menunjukkan penguatan signifikan. Capital Adequacy Ratio (CAR) pada November 2025 tercatat sebesar 31,02%, meningkat dibandingkan posisi Desember 2024 yang sebesar 29,57%. “Peningkatan CAR ini mencerminkan penguatan struktur permodalan, baik melalui pengelolaan aset tertimbang menurut risiko yang lebih optimal maupun melalui penguatan modal bank,” ucap Yunita.

Secara keseluruhan, kinerja intermediasi perbankan di Jawa Timur tetap menunjukkan tren positif dengan profil risiko yang sangat terjaga. Likuiditas yang melimpah dan permodalan yang kuat menjadi modal utama bagi Jawa Timur untuk tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi di tahun 2026.

David

David

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026

Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026

12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun

12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun

Rekomendasi Hotel di Braga Bandung di Bawah Rp500 Ribu di 2026

Rekomendasi Hotel di Braga Bandung di Bawah Rp500 Ribu di 2026

Wapres Gibran Pastikan Pemulihan RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Wapres Gibran Pastikan Pemulihan RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global

Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global