JAKARTA - Pengembangan tenaga nuklir kini menjadi salah satu perhatian utama dalam strategi energi Indonesia. Pada awal terbentuknya Dewan Energi Nasional (DEN) periode 2026–2030, fokus ini mendapatkan sorotan khusus oleh Ketua Harian DEN, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia. Menurutnya, upaya mendorong pemanfaatan energi nuklir adalah bagian integral dari mendorong sumber energi baru dan terbarukan di Tanah Air.
Pernyataan tersebut ia sampaikan pada momentum pelantikan anggota Dewan Energi Nasional di Istana Negara, Jakarta. Bahlil, yang dilantik menjadi Ketua Harian DEN, menegaskan bahwa perangkat kebijakan yang disiapkan belum final, tetapi arah utama pengembangan energi nasional telah ditetapkan, termasuk energi nuklir yang akan menjadi salah satu pilar energi masa depan Indonesia.
Dewan Energi Nasional: Struktur Baru dan Arah Kerja
Pelantikan Dewan Energi Nasional bukan sekadar seremoni. Ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat tata kelola energi nasional. Presiden RI, Prabowo Subianto, menjabat sebagai Ketua Dewan Energi Nasional, dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka sebagai Wakil Ketua. Sementara itu, Bahlil Lahadalia memegang posisi strategis sebagai Ketua Harian.
Baca JugaBPJPH Dorong Produk Halal Nasional Mendunia Lewat Kerja Sama USDA
Selain itu, tujuh anggota dari unsur pemerintah ditunjuk untuk turut mendukung kerja DEN, termasuk Menteri Keuangan, Menteri Perhubungan, Menteri Perindustrian, Menteri Pertanian, Menteri Pendidikan Tinggi, Kepala Bappenas, dan Menteri Lingkungan Hidup. Delapan anggota lainnya merepresentasikan unsur pemangku kepentingan seperti akademisi, industri, teknologi, lingkungan hidup, dan konsumen.
Bahlil menyatakan bahwa setelah pelantikan, DEN akan segera mengadakan rapat perdana untuk memetakan langkah kerja setahun ke depan serta melaporkan hasilnya kepada Presiden Prabowo. Ia menekankan bahwa meskipun masih dalam tahap perencanaan awal, energi nuklir sudah masuk dalam daftar fokus prioritas Dewan yang baru dibentuk ini.
Empat Pilar Kebijakan Energi Nasional
Dalam penjelasannya, Bahlil memaparkan bahwa arah kebijakan sektor energi di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo akan berkutat pada empat fokus utama. Pertama adalah memperkuat kedaulatan energi, sehingga Indonesia tidak lagi terlalu tergantung pada sumber asing. Kedua yakni meningkatkan ketahanan energi, yang saat ini hanya mampu bertahan sekitar 21 hari, tetapi diharapkan dapat diperpanjang menjadi tiga bulan melalui pembangunan infrastruktur penyimpanan dan cadangan energi.
Selanjutnya, fokus ketiga adalah kemandirian energi, karena Indonesia masih mengimpor BBM dalam jumlah besar, baik solar maupun bensin. Bahlil menegaskan bahwa pengembangan berbagai sumber energi, termasuk EBT dan nuklir, akan memainkan peran penting dalam mengurangi ketergantungan impor tersebut. Keempat adalah pencapaian swasembada energi secara bertahap, dengan tujuan akhir memastikan pasokan energi sepenuhnya tersedia bagi kebutuhan domestik.
Nuklir dan Energi Baru Terbarukan: Bagaimana Hubungannya?
Walaupun energi nuklir sering dipandang lepas dari kategori energi baru dan terbarukan (EBT), Bahlil menegaskan bahwa dalam konteks strategi energi nasional, nuklir tetap diposisikan sebagai salah satu sumber energi yang dapat mendukung transisi energi yang bersih dan berkelanjutan. Pernyataan ini menunjukkan perubahan pendekatan kebijakan yang lebih proaktif dalam melihat peran nuklir di masa depan.
Bahlil menjelaskan bahwa Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) yang tengah dibangun tidak hanya berfokus pada energi terbarukan konvensional seperti panas bumi, angin, dan surya, tetapi juga mencakup upaya mendorong pemanfaatan tenaga nuklir sebagai bagian dari diversifikasi energi. Ia menyatakan, “Kami sudah kerja dengan membangun beberapa tahapan RUEN sampai dengan bagaimana membangun berbagai kebijakan, termasuk di dalamnya adalah pembangunan energi baru dan terbarukan, dan juga adalah mendorong untuk pakai tenaga nuklir.”
Artinya, meski perincian teknis implementasi masih menunggu hasil rapat dan arahan Presiden, komitmen awal sudah jelas: energi nuklir tidak lagi sekadar wacana, tetapi bagian dari strategi jangka panjang dalam kebijakan energi nasional.
Tantangan dan Peluang di Depan Mata
Walaupun telah mendapat perhatian strategis dan dukungan tinggi dari pimpinan nasional, implementasi energi nuklir bukan tanpa tantangan. Beberapa isu krusial — seperti aspek regulasi, persiapan infrastruktur, manajemen risiko, serta penerimaan publik — masih perlu dibahas secara matang dalam rapat DEN yang akan datang.
Namun di sisi lain, masuknya energi nuklir dalam fokus DEN juga membuka peluang besar. Nuklir dianggap mampu menyediakan listrik yang stabil sebagai base load (beban dasar) bagi sistem energi nasional. Ini merupakan nilai tambah dalam menghadapi ketidakpastian pasokan energi dan tantangan pemenuhan kebutuhan listrik nasional di masa depan.
Dengan demikian, penempatan energi nuklir di antara fokus utama kerja Dewan Energi Nasional bukan sekadar simbol — tetapi merupakan bagian dari upaya menyusun peta jalan yang lebih luas untuk mencapai ketahanan dan kemandirian energi Indonesia di era modern.
Fery
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global
- Jumat, 30 Januari 2026
Kemlu Raih Opini Kualitas Tertinggi Ombudsman, Perkuat Layanan Publik
- Jumat, 30 Januari 2026
Tim Aerobatik TNI AU Siap Tunjukkan Kehebatan di Singapura Air Show 2026
- Jumat, 30 Januari 2026
Berita Lainnya
Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026
- Jumat, 30 Januari 2026
12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun
- Jumat, 30 Januari 2026
Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global
- Jumat, 30 Januari 2026
Terpopuler
1.
2.
3.
4.
Mundur dari BEI, Ini Rekam Jejak Karier Iman Rachman
- 30 Januari 2026
5.
Strategi OJK dan BEI Pertahankan Posisi di Indeks MSCI
- 30 Januari 2026











.jpg)