“Teman Tegar Maira” Tayang 5 Februari Angkat Isu Hutan Papua

“Teman Tegar Maira” Tayang 5 Februari Angkat Isu Hutan Papua

JAKARTA - Film “Teman Tegar Maira: Whisper from Papua” siap menyapa penonton Indonesia di bioskop pada 5 Februari 2026, melanjutkan kisah yang menyentuh dari seri sebelumnya. Film berdurasi 97 menit ini merupakan kelanjutan dari film Tegar yang sebelumnya meraih kesuksesan besar di dalam dan luar negeri. Tegar telah diputar di lebih dari 18 negara dan berhasil mendapatkan lebih dari 15 penghargaan internasional, menjadikannya salah satu karya Indonesia yang diperhitungkan di kancah global.

Dalam sekuel ini, sutradara Anggi Frisca membawa cerita dalam cakupan yang lebih luas. Film bergenre drama keluarga dan petualangan anak ini tidak hanya menghadirkan kisah yang menyentuh, tetapi juga pesan sosial yang kuat—khususnya tentang perlindungan hutan Papua, hak adat, dan krisis iklim—yang dikemas melalui sudut pandang anak-anak demi menyentuh hati penonton dari berbagai usia.

Menggali Keaslian dan Kehidupan dalam Cerita

Baca Juga

Rekomendasi Hotel di Braga Bandung di Bawah Rp500 Ribu di 2026

Alih-alih sekadar menjadi film petualangan biasa, Teman Tegar Maira membawa pendekatan yang lebih autentik dan mendalam. Pembuat film mengajak anak-anak serta komunitas lokal dari Kaimana, Papua untuk terlibat langsung dalam produksi. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali terlibat dalam proses pembuatan film, yang dilakukan melalui workshop akting dan immersion budaya bersama tim kreatif nasional dan lokal. Pendekatan ini menghadirkan nuansa otentik yang memperkaya pengalaman visual serta emosional penonton.

Dengan cara tersebut, film ini berhasil memadukan musik, budaya lokal, dan kehidupan sehari-hari di Papua sebagai bahasa emosional yang membawa pesan lebih kompleks tentang hubungan antara manusia dan alam. Musik menjadi salah satu elemen penting, dipimpin oleh Joanita Chatarine, penyanyi dan aktor asal Papua, yang juga tampil dalam film ini.

Persahabatan yang Memupuk Kesadaran Lingkungan

Cerita sentral film ini berkisar pada dua sosok anak yang berasal dari latar berbeda: Maira, gadis adat berusia 12 tahun yang hidup di pegunungan Papua, dan Tegar, anak kota berusia 11 tahun yang datang dengan kenangan tentang indahnya Papua dari cerita almarhum kakeknya.

Dalam latar hutan Papua yang penuh kabut, Maira dikenal sebagai anak yang berani berjuang untuk melindungi kampung dan hutan tempat tinggalnya. Ketika Tegar tiba, pertemuan mereka membuka sebuah perjalanan emosional yang secara bertahap mengubah hidup keduanya. Ancaman dari korporasi yang ingin merusak hutan hujan yang sakral mendorong mereka untuk berjuang mempertahankan masa depan kampung dan hak atas hutan yang menjadi tempat hidup masyarakat adat.

Hubungan persahabatan yang tumbuh antara Maira dan Tegar tidak hanya menjadi inti emosional cerita, tetapi juga sebuah cerminan tentang pentingnya kolaborasi lintas budaya untuk memperjuangkan nilai-nilai lingkungan dan sosial. Dari pertemanan sederhana ini, film mencoba menggugah penonton untuk merenungkan peran generasi muda dalam menjaga alam dan budaya lokal.

Karakter dan Kolaborasi dalam Produksi

Pemeran utama dalam film ini kembali diperankan oleh M Aldifi Tegarajasa sebagai Tegar, sedangkan karakter Maira dimainkan oleh Elisabeth Sisauta. Selain itu, film ini juga menampilkan sosok Joanita Chatarine, yang terlibat ganda sebagai pemain sekaligus pengembang unsur musikal dalam cerita.

Kekuatan musikal film ini menjadi salah satu poin penting yang membedakannya dari film anak pada umumnya. Kolaborasi antara musisi lokal Papua dan musisi nasional menciptakan komposisi musik orisinal yang memadukan ritme tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik yang lebih luas. Musik diolah menjadi bahasa universal yang mampu menjembatani cerita, alam, dan emosi, sehingga pengalaman menonton menjadi lebih menyentuh sekaligus mendalam bagi penonton segala usia.

Sutradara Anggi Frisca menyatakan harapannya bahwa film ini bisa menjadi pengingat akan keterikatan manusia dengan alam. “Yang menyelamatkan kita di saat bencana itu bukan uang, tapi pohon besar itu yang mungkin kita bisa sama-sama jaga. Dan semoga Tegar dan Maira bisa menjadi inspirasi anak-anak generasi berikutnya,” ujarnya dalam konferensi pers gala premier.

Kisah yang Lebih dari Sekadar Hiburan Anak

Lebih dari sekadar tontonan keluarga biasa, Teman Tegar Maira hadir sebagai film edukatif sekaligus sosial, yang berupaya menanamkan nilai kepedulian terhadap alam, budaya lokal, serta pentingnya persahabatan dan keberanian sejak usia dini. Film ini dirancang untuk membuka ruang dialog tentang masa depan hutan Papua, warisan budaya, sekaligus tanggung jawab generasi mendatang dalam menjaga keseimbangan lingkungan hidup.

Narasi hangat, visual pemandangan Papua yang memukau, serta perpaduan antara cerita lokal dengan pesan global menjadikan film ini lebih dari sekadar tontonan biasa. Ia menghadirkan refleksi mendalam tentang bagaimana sebuah komunitas, terutama yang hidup dekat dengan alam, memaknai dan memperjuangkan lingkungan mereka di tengah dinamika sosial dan ekonomi yang terus berubah.

Fery

Fery

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026

Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026

12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun

12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun

Rekomendasi Hotel di Braga Bandung di Bawah Rp500 Ribu di 2026

Rekomendasi Hotel di Braga Bandung di Bawah Rp500 Ribu di 2026

Wapres Gibran Pastikan Pemulihan RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Wapres Gibran Pastikan Pemulihan RSUD Aceh Tamiang Pascabencana

Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global

Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global