Dua Mahasiswa Indonesia Raih Silver MAD STARS Lewat Ambisi Nyaris Delusi
- Jumat, 30 Januari 2026
JAKARTA - Di tengah ketatnya persaingan industri kreatif global, dua mahasiswa Indonesia berhasil menorehkan prestasi yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga sarat makna. Sayid Muhammad Usammah Alhabsyie dan Aeriell Handjaja, dua mahasiswa dari latar belakang kampus berbeda, sukses membawa pulang silver awards dari ajang MAD STARS 2025 kategori Young Stars yang digelar di Korea Selatan. Prestasi ini sekaligus menandai kemenangan pertama Indonesia dalam kategori tersebut.
Ajang MAD STARS dikenal sebagai salah satu kompetisi paling prestisius di dunia industri kreatif global. Kompetisi ini mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara yang berfokus pada inovasi di bidang marketing, advertising, dan digital content, dengan penilaian langsung dari para profesional industri kelas dunia. Keberhasilan Sayid dan Aeriell bukan hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang keberanian mengusung isu sensitif dengan pendekatan kreatif berbasis teknologi mutakhir.
Kompetisi Global Bergengsi dengan Seleksi Ketat
Baca Juga12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun
MAD STARS bukanlah kompetisi biasa. Ratusan mahasiswa dari berbagai belahan dunia harus melalui proses seleksi portofolio secara daring sebelum akhirnya dipilih oleh dewan juri. Dari ribuan karya yang masuk, hanya tim-tim terbaik yang berhak melaju ke babak final.
Sayid, mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, dan Aeriell, mahasiswa BINUS University, berhasil lolos tahap awal tersebut. Mereka kemudian diundang ke Busan, Korea Selatan, pada 26–29 Agustus 2025, untuk mengikuti babak final secara langsung.
Di tahap penentuan, setiap tim diberi tantangan yang sama: menciptakan ide kampanye kreatif dalam waktu hanya 30 jam, berdasarkan tema yang baru diumumkan saat kompetisi berlangsung. Seluruh karya dinilai oleh lebih dari 350 juri profesional dari sekitar 70 negara, menjadikan standar penilaian sangat tinggi dan kompetitif.
Isu Rokok Elektrik Dikemas Lewat Pendekatan AI
Dalam babak final, Sayid dan Aeriell memilih mengangkat isu bahaya penggunaan rokok elektrik (e-cigarette atau vaping). Isu tersebut dikemas dengan pendekatan yang tidak biasa, yakni memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) sebagai medium utama penyampaian pesan.
Karya mereka diberi judul “The Deathfluencer.” Ide ini bermula dari sebuah pertanyaan reflektif yang kuat, “Bagaimana jika korban pertama e-cigarettes bisa hidup kembali?” seperti dikutip dari situs FISIP UI. Melalui teknologi AI, mereka mencoba “menghidupkan kembali” sosok korban pertama rokok elektrik untuk menggambarkan kehidupan indah yang seharusnya bisa dijalani, namun terenggut akibat vaping.
Pesan utama dari kampanye ini tegas: rokok elektrik bukan sekadar tren gaya hidup, melainkan ancaman nyata bagi masa depan generasi muda. Pendekatan emosional yang berpadu dengan teknologi mutakhir membuat pesan kampanye mereka terasa relevan, kuat, dan menggugah kesadaran.
Kemenangan Pertama Indonesia di Young Stars
Kreativitas dan keberanian konsep yang ditawarkan Sayid dan Aeriell berhasil mengungguli puluhan finalis dari berbagai negara. Capaian ini bukan hanya membawa mereka ke podium kemenangan, tetapi juga mencatatkan sejarah sebagai kemenangan pertama Indonesia di kategori Young Stars MAD STARS.
Keberhasilan tersebut tidak datang secara instan. Sayid mengungkapkan bahwa proses menciptakan ide kreatif memang penuh tantangan. “Ide kreatif itu sulit, tapi karena sulit dan tidak semua orang bisa, di situlah letak keseruannya,” kata Sayid.
Ia menilai bahwa kecintaannya pada proses penciptaan ide menjadi faktor penting yang membuatnya mampu bertahan dan terus berkembang. Pengalaman mengerjakan berbagai proyek kampus serta mengikuti kompetisi nasional turut membentuk kemampuannya dalam creative problem solving, strategi pemasaran, dan storytelling visual.
Ambisi Besar dan Konsistensi Terarah
Bagi Sayid, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh bakat, tetapi juga oleh ambisi besar yang diiringi konsistensi terarah. Ia meyakini bahwa keberanian untuk bermimpi besar justru menjadi pemicu seseorang melangkah lebih jauh.
“Good things happen when you have a delusional level of ambition. Punya mimpi yang ‘gila’ justru membuat kita berani melangkah sejauh mungkin,” ujar Sayid. Menurutnya, sikap realistis yang berlebihan justru dapat membatasi potensi seseorang.
Ia juga menyampaikan pesan khusus bagi mahasiswa Indonesia agar segera menemukan arah hidup dan tujuan pribadi. Dengan tujuan yang jelas, seseorang dapat menentukan komitmen apa yang perlu dijalankan untuk mencapainya. “Kalian sebaiknya secepat mungkin mencari tahu apa yang ingin kalian capai. Konsistensi hanya bisa muncul kalau kita tahu mau ke mana dan seberapa besar keinginan kita untuk sampai ke sana. Find your way, then you’ll find how you can go there,” ucapnya.
Prestasi Sayid dan Aeriell membuktikan bahwa ambisi yang kerap dianggap berlebihan, ketika disertai kerja keras dan konsistensi, justru dapat melahirkan pencapaian luar biasa di panggung dunia.
Fery
navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.
Rekomendasi
Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global
- Jumat, 30 Januari 2026
Kemlu Raih Opini Kualitas Tertinggi Ombudsman, Perkuat Layanan Publik
- Jumat, 30 Januari 2026
Tim Aerobatik TNI AU Siap Tunjukkan Kehebatan di Singapura Air Show 2026
- Jumat, 30 Januari 2026
Berita Lainnya
Panduan Lengkap Cara Top Up E-Money Mandiri di Livin’ by Mandiri 2026
- Jumat, 30 Januari 2026
12 Cara Mengaktifkan DANA Cicil 2025 & Syaratnya agar Muncul di Akun
- Jumat, 30 Januari 2026
Wamenlu Pastikan Indonesia Siap Menjadi Pemain Kunci Industri Semikonduktor Global
- Jumat, 30 Januari 2026
Terpopuler
1.
2.
3.
4.
Mundur dari BEI, Ini Rekam Jejak Karier Iman Rachman
- 30 Januari 2026
5.
Strategi OJK dan BEI Pertahankan Posisi di Indeks MSCI
- 30 Januari 2026











.jpg)