Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 9 Maret 2026

Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 9 Maret 2026
Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Senin 9 Maret 2026

JAKARTA - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menjadi perhatian pelaku pasar pada awal pekan ini. 

Sejumlah faktor baik dari dalam negeri maupun global dinilai masih memberikan tekanan terhadap mata uang Garuda. Kondisi tersebut membuat rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini.

Ketidakpastian di pasar keuangan global serta perkembangan ekonomi domestik menjadi dua faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah. Para analis menilai kombinasi sentimen tersebut berpotensi membuat nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek.

Baca Juga

Cek Tabel Cicilan KUR BRI Maret 2026 Pinjaman Rp50 Juta, Simulasi, Plafon, Syarat dan Cara Pengajuan

Selain dinamika pasar internasional, kondisi fiskal domestik juga ikut menjadi sorotan pelaku pasar. Hal ini terjadi setelah lembaga pemeringkat internasional memberikan pandangan terbaru terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Dengan latar belakang berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026 diperkirakan masih bergerak dalam kisaran tertentu terhadap dolar AS.

Rupiah Diprediksi Bergerak Fluktuatif

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini Senin 9 Maret 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif tetapi cenderung ditutup melemah di rentang Rp16.920 hingga Rp17.010 per dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, Jumat, 6 Maret 2026, rupiah melemah 20 poin atau 0,12% ke Rp16.925 per dolar AS.

Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih terjadi meskipun perubahan nilainya relatif terbatas. Kondisi pasar global yang masih dipenuhi ketidakpastian membuat investor cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan.

Sementara itu, indeks dolar AS turut melemah 0,31% menuju level 99,01. Penurunan indeks dolar ini menunjukkan bahwa mata uang Amerika Serikat juga mengalami tekanan di pasar global.

Namun demikian, pelemahan indeks dolar tidak serta-merta membuat rupiah menguat. Hal ini karena faktor domestik juga memainkan peran penting dalam menentukan arah pergerakan nilai tukar.

Pergerakan Mata Uang Asia Beragam

Selain rupiah, sejumlah mata uang di kawasan Asia juga menunjukkan pergerakan yang bervariasi pada perdagangan terakhir.

Sebagian mata uang tercatat menguat terhadap dolar AS, sementara lainnya justru mengalami pelemahan. Kondisi tersebut mencerminkan dinamika pasar keuangan global yang masih dipengaruhi berbagai sentimen ekonomi dan geopolitik.

Yen Jepang tercatat terapresiasi sebesar 0,04% terhadap dolar AS. Mata uang Korea Selatan, yakni won, bahkan mencatat penguatan lebih tinggi dengan kenaikan sebesar 0,76%.

Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru melemah. Rupee India tercatat mengalami pelemahan sebesar 0,09% terhadap dolar AS.

Sementara itu, ringgit Malaysia juga mengalami penurunan sebesar 0,08% terhadap mata uang Amerika Serikat.

Pergerakan yang beragam tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya dirasakan oleh rupiah, tetapi juga dialami oleh sejumlah mata uang lain di kawasan Asia.

Faktor Internal Tekan Nilai Tukar Rupiah

Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh faktor internal, menyusul langkah Fitch Ratings yang menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif.

Menurutnya, keputusan lembaga pemeringkat tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berkaitan dengan kondisi fiskal dan kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Seiring hal tersebut, pemerintah diketahui berupaya mengerek tax ratio atau rasio pajak usai menjadi salah satu pertimbangan Fitch Ratings.

“Dalam satu dekade terakhir, tax ratio Indonesia selalu berada di kisaran 9% hingga 10% terhadap PDB. Bahkan, angkanya cenderung menurun seperti yang terjadi pada tahun lalu dari 10,08% pada 2024 menjadi 9,31% pada 2025,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis, Jumat (6/3/2026).

Rasio pajak yang relatif rendah dinilai menjadi salah satu tantangan bagi pemerintah dalam meningkatkan penerimaan negara. Kondisi tersebut juga menjadi perhatian lembaga pemeringkat ketika menilai stabilitas fiskal suatu negara.

Belanja Sosial dan Risiko Fiskal

Selain tax ratio, faktor lain yang turut menjadi sorotan adalah tingginya belanja sosial pemerintah. Salah satu program yang mendapat perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Program tersebut disebut menelan porsi sekitar 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB) untuk periode 2025 hingga 2029.

Besarnya anggaran yang dialokasikan untuk program tersebut dinilai dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dalam jangka menengah.

Pelaku pasar biasanya akan mempertimbangkan kondisi fiskal suatu negara ketika menentukan keputusan investasi. Jika risiko fiskal dinilai meningkat, maka tekanan terhadap mata uang domestik juga dapat terjadi.

Sentimen Global dari Konflik Timur Tengah

Selain faktor domestik, Ibrahim juga menyoroti adanya tekanan dari faktor eksternal yang berasal dari dinamika geopolitik global.

Menurutnya, pasar masih mencermati perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah yang terus meningkat.

Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dilaporkan telah memasuki hari ketujuh. Konflik tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan serta dampaknya terhadap perekonomian global.

Situasi geopolitik tersebut juga memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi di berbagai negara.

“Harga minyak yang lebih tinggi cenderung memicu inflasi dan dapat membuat para pembuat kebijakan lebih berhati-hati dalam memangkas suku bunga dalam waktu dekat,” pungkasnya.

Jika inflasi global meningkat, bank sentral di berbagai negara kemungkinan akan menunda kebijakan pelonggaran moneter. Kondisi ini dapat memengaruhi arus modal global serta pergerakan mata uang di berbagai negara.

Proyeksi Pergerakan Rupiah Pekan Ini

Melihat berbagai sentimen yang ada, pergerakan rupiah diperkirakan masih berada dalam kisaran tertentu sepanjang pekan ini.

Adapun untuk sepanjang minggu ini, rupiah diprediksi bergerak dalam kisaran Rp16.850–Rp17.010 per dolar AS.

Rentang pergerakan tersebut mencerminkan potensi fluktuasi yang masih cukup lebar di pasar valuta asing. Investor dan pelaku pasar kemungkinan akan terus memantau perkembangan sentimen global maupun domestik yang dapat memengaruhi arah pergerakan rupiah.

Dengan berbagai faktor yang memengaruhi pasar, pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan tetap dinamis dalam beberapa waktu ke depan.

Mazroh Atul Jannah

Mazroh Atul Jannah

navigasi.co.id adalah media online yang menyajikan berita sektor energi dan umum secara lengkap, akurat, dan tepercaya.

Rekomendasi

Berita Lainnya

Eagle High Plantations Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Tahap 4 Tahun 2026

Eagle High Plantations Terbitkan Obligasi Berkelanjutan Tahap 4 Tahun 2026

Hunian Komersial PKG Berpotensi Tinggi, Subsidi Tetap Stabil Dan Berkualitas

Hunian Komersial PKG Berpotensi Tinggi, Subsidi Tetap Stabil Dan Berkualitas

BYD Kembangkan Infrastruktur Cepat Isi Baterai Mobil Listrik 2026

BYD Kembangkan Infrastruktur Cepat Isi Baterai Mobil Listrik 2026

PGN Optimalkan Layanan Gas Dan LNG Dengan Keandalan Sistem Tinggi

PGN Optimalkan Layanan Gas Dan LNG Dengan Keandalan Sistem Tinggi

Strategi Chandra Asri Tingkatkan Nilai Tambah Domestik Dan Daya Saing Regional

Strategi Chandra Asri Tingkatkan Nilai Tambah Domestik Dan Daya Saing Regional