Breaking

Wamentan Tegaskan Sektor Pertanian Jadi Mesin Pertumbuhan Daerah

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Selasa, 26 Mei 2026
Wamentan Tegaskan Sektor Pertanian Jadi Mesin Pertumbuhan Daerah
Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor yang digelar di Balai Kartini, Jakarta. (Sumber: NET)

JAKARTA - Wakil Menteri Pertanian Sudaryono memberikan penegasan bahwa pihak pemerintah terus menekan tingkat ketergantungan terhadap impor pangan melalui langkah peningkatan produksi di dalam negeri, penguatan produktivitas di sektor pertanian, serta optimalisasi lahan demi memperkokoh ketahanan pangan nasional.

“Dulu uang kita dipakai memperkaya negara lain lewat impor. Sekarang uang yang sama berputar di petani kita sendiri. Ini yang membuat ekonomi daerah bergerak,” kata Sudaryono dalam keterangan di Jakarta, Selasa.

Ia menitikberatkan hal tersebut di dalam agenda Konferensi Nasional Pengembangan Ekonomi Daerah bertema Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi Daerah melalui Sinergi Kebijakan Lintas Sektor yang diselenggarakan di Balai Kartini, Jakarta.

Negara Indonesia pada waktu sebelumnya dinilai masih mengandalkan pasokan impor pangan, khususnya komoditas beras, yang menyentuh angka kisaran 3 juta ton pada kurun tahun 2023 dan melonjak hingga menjadi sekitar 4 juta ton pada periode tahun 2024.

Akan tetapi, seiring dengan merangkak naiknya angka produksi di dalam negeri, pihak pemerintah mengambil keputusan untuk menutup rapat keran impor komoditas beras sepanjang tahun 2025 selaku bagian dari langkah memperkuat kemandirian serta ketahanan pangan nasional.

Pihak Kementerian Pertanian mengeluarkan catatan saat ini kuota stok cadangan beras pemerintah yang dikelola oleh Perum Bulog sukses menyentuh angka 5,3 juta ton hingga memasuki pekan ketiga di bulan Mei 2026.

Volume stok tersebut dipandang merupakan yang tertinggi di sepanjang sejarah perjalanan bangsa.

Sudaryono memberikan penegasan bahwa sektor pertanian kini telah menjelma menjadi salah satu mesin penggerak utama bagi pertumbuhan ekonomi di daerah seiring dengan catatan keberhasilan pemerintah dalam menaikkan produksi pangan nasional sekaligus menekan laju impor beraneka komoditas strategis.

Wamentan Sudaryono atau yang akrab disapa dengan sebutan Mas Dar menyebutkan bahwa regulasi kebijakan peningkatan produksi pangan serta pengurangan aktivitas impor memberikan imbas dampak yang langsung mengalir terhadap roda perputaran ekonomi masyarakat pedesaan.

Menurut pandangannya, sektor pertanian mengantongi efek berantai ekonomi yang cakupannya sangat luas lantaran sanggup langsung menyerap banyak tenaga kerja, membuka peluang lapangan usaha baru, hingga mendongkrak aktivitas ekonomi warga masyarakat di desa.

Ia memberikan contoh nyata keberhasilan Indonesia dalam menghentikan aktivitas impor beras untuk konsumsi medium pada kurun tahun 2025 serta raihan capaian swasembada jagung dan gula konsumsi yang telah melahirkan ruang produksi baru di dalam negeri yang pada waktu sebelumnya diisi oleh produk-produk impor.

“Artinya ada lapangan pekerjaan baru, ada masyarakat yang tadinya tidak berdaya menjadi berdaya karena produksi meningkat,” ujar Sudaryono.

Wamentan mengutarakan, grafik peningkatan produksi pangan nasional sanggup digapai melalui perantara bermacam-macam program percepatan produksi seperti halnya pompanisasi, pipanisasi, perbaikan sarana irigasi, optimalisasi area lahan rawa, hingga penyaluran bantuan benih unggul serta alat dan mesin pertanian.

Pihak Kementerian Pertanian, sambungnya, telah menyalurkan bantuan sekitar 70 ribu unit pompa guna mendongkrak indeks pertanaman lahan dari yang semula hanya satu kali tanam bertransformasi menjadi dua hingga tiga kali masa tanam di setiap tahunnya.

“Rahasianya sederhana, menanam lebih banyak supaya panennya lebih banyak,” ucap Sudaryono yang juga merupakan Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) itu.

Ia juga memberikan penjabaran bahwa sektor pertanian berstatus sebagai sektor ekonomi yang paling gampang untuk dijangkau oleh segenap lapisan masyarakat desa serta berkemampuan langsung memicu aktivitas ekonomi di daerah.

“Sektor pertanian itu bisa menjangkau semua lapisan masyarakat desa. Ketika produksi naik, maka usaha tumbuh, tenaga kerja terserap, dan ekonomi lokal bergerak,” jelasnya.

Wamentan Sudaryono juga memberikan sorotan tajam pada imbas dampak dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai bakal bertransformasi menjadi area pasar baru bagi komoditas pertanian serta peternakan nasional.

Ia menyebutkan pada saat sekarang ini investasi di bidang peternakan sapi perah mulai menampakkan pertumbuhan di pelbagai daerah lantaran melonjaknya tingkat kebutuhan susu di dalam negeri.

Pihak pemerintah pun terus memacu langkah pengembangan untuk komoditas strategis layaknya susu, daging sapi, komoditas bawang putih, serta kedelai demi memangkas ketergantungan impor secara bertahap.

“MBG ini menciptakan permintaan besar terhadap susu, sayur, telur, ayam, dan komoditas lainnya. Jadi bukan hanya anak-anak yang mendapat gizi, tapi ekonomi pertanian di daerah juga ikut bergerak,” terangnya.

Di samping untuk melengkapi pemenuhan kebutuhan domestik, Wamentan memaparkan bahwa penguatan di sektor pertanian juga mulai memicu adanya peningkatan angka ekspor nasional.

Bersandarkan pada data milik Badan Pusat Statistik (BPS), sambung Sudaryono, nilai nominal ekspor sektor pertanian untuk periode Januari-Desember 2025 bertengger di angka sebesar Rp756,59 triliun atau mengalami lonjakan hingga Rp166 triliun, sementara untuk angka impor tercatat mengalami penurunan di kisaran Rp41 triliun.

Tidak sampai di situ saja, Wamentan juga memberikan komentar berkaitan dengan penguatan nilai mata uang dolar Amerika Serikat yang dinilai justru dapat bertransformasi menjadi sebuah peluang emas bagi sektor pertanian yang berbasis ekspor lantaran komoditas layaknya kopi, karet, kelapa, cengkeh, gula aren, hingga produk serabut kelapa diperdagangkan dengan memanfaatkan mata uang dolar AS.

“Kalau ekspor kami naik, petani juga bisa menikmati nilai tambah karena dibayar dolar. Ini peluang bagi daerah untuk memperkuat komoditas ekspor pertanian,” imbuhnya.

Selain itu, Wamentan Sudaryono mengungkapkan bahwa pihak pemerintah juga tengah memperluas agenda cetak sawah baru di wilayah luar Pulau Jawa sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam merawat ketahanan pangan sekaligus membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di daerah.

“Cetak sawah bukan hanya soal pangan hari ini, tapi persiapan pangan dan ekonomi Indonesia 50 sampai 100 tahun ke depan,” tegasnya.

Ia memberikan imbuhan, sektor pertanian pada saat sekarang ini bertindak sebagai salah satu penyumbang nominal terbesar bagi produk domestik bruto (PDB) nasional bersandarkan pada rujukan data Badan Pusat Statistik (BPS).

Oleh karena alasan itu, pihak pemerintah terus mempertegas sokongan dukungan mulai dari alokasi pupuk bersubsidi, alat mesin pertanian, hingga akses fasilitas pembiayaan murah bagi kalangan petani.

“Kami yakin sektor pertanian sangat menjanjikan. Produksi ada, pasar ada, ekspor juga besar. Tinggal bagaimana semua pihak mendukung agar ekonomi desa tumbuh semakin kuat,” katanya.

 

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua