Breaking

Wagub Rano Karno Puji Inovasi Keamanan Si Jaga Warga di Gandaria

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Kamis, 28 Mei 2026
Wagub Rano Karno Puji Inovasi Keamanan Si Jaga Warga di Gandaria
Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno. (Sumber: NET)

JAKARTA - Sistem proteksi lingkungan bertumpu pada teknologi digital bernama “Si Jaga Warga” yang diterapkan oleh masyarakat RT 11/RW 07, Gandaria Utara, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, mendapat penghargaan khusus dari Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno.

Sistem tersebut baru saja memenangi predikat juara sistem keamanan lingkungan (siskamling) tingkat DKI Jakarta.

Menurut kacamata Rano, inovasi yang dipelopori Ketua RT 11, Imam Basori, itu sangat layak dicontoh kawasan lain di Jakarta karena dinilai mampu mendongkrak keamanan lingkungan, khususnya di area pemukiman warga serta gang-gang sempit.

“Kalau sistem ini bisa diterapkan di setiap gang saja, minimal wilayah itu aman,” kata Rano saat mengunjungi RT 11 pada Rabu (27/5/2026).

Rano memaparkan, ketenteraman Jakarta tidak semata-mata bertumpu pada aparat, melainkan juga membutuhkan kontribusi proaktif dari masyarakat.

Ia pun menaruh rasa hormat kepada warga Jakarta yang dinilai aktif mengawal serta mengomunikasikan kondisi kawasannya sepanjang satu tahun masa kepemimpinannya bersama Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung.

“Kami bersyukur selama satu tahun di Jakarta ini, ternyata yang menjaga Jakarta itu adalah masyarakatnya. Enggak ada gunanya tentara, polisi, tapi kalau masyarakat Jakartanya enggak care,” ujar dia.

Mendorong replikasi, siap memfasilitasi CSR Rano mengharapkan sistem keamanan dan terobosan “Si Jaga Warga” dapat dijadikan teladan bagi lingkungan lain di Jakarta.

Ia bahkan sempat menanyai Imam Basori perihal kesiapannya membagikan pengalaman serta pengetahuannya kepada jajaran pengurus RT lain.

“Mudah-mudahan ini kalau bisa dicontoh, artinya Mas siap dong untuk memberikan pelatihan? Kita undang beberapa kampung, kita terapkan sistem ini,” kata Rano.

Ia juga mengutarakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersiap mendukung pencarian sokongan dana corporate social responsibility (CSR) untuk menyokong penambahan fasilitas penunjang sistem keamanan tersebut.

“Kalau belum ada, entar kita pikirin. Kita cari CSR-nya,” ujar dia.

Memuji kekompakan warga Saat bertatap muka dengan warga RT 11 Gandaria Utara, Rano berseloroh teringat masa-masa awal pembuatan serial “Si Doel Anak Sekolahan” pada awal era 1990-an.

Hal tersebut diutarakannya seusai memantau soliditas warga dalam mendirikan sistem keamanan lingkungan berbasis teknologi secara swadaya.

“Waktu saya bikin pertama ‘Si Doel’, saya enggak punya uang. Punya uang tapi enggak mungkin cukup untuk membuat HTML enam episode,” ujar Rano.

“Sementara pemain saya pemain mahal. Yang murah cuma Mandra aja,” lanjutnya sambil bersenda gurau.

Rano lantas memutar ingatan pertemuannya dengan aktor legendaris Benyamin Sueb pada awal penggarapan serial tersebut.

Kepada aktor senior sekaligus putra Betawi asli itu, Rano menyatakan dirinya memohon sokongan moril, bukan perkara upah.

“Makanya pertama kali waktu saya ketemu Benyamin, saya enggak ngomong honor. Saya tanya, ‘Be, tolongin saya’,” ujar Rano.

Menurut dia, situasi itu serupa dengan tindakan Imam Basori sewaktu merangkul warga dan tokoh masyarakat mendirikan sistem keamanan lingkungan di kawasannya.

“Saya yakin Mas Imam ini pertama kali ketemu tokoh masyarakat di sini, enggak minta sumbangan, tapi ‘tolong bantu saya’,” tutur dia.

Rano menilai keberhasilan membangun sistem keamanan kampung bukan sekadar perkara logistik dana, melainkan adanya rasa kepemilikan dan kemauan kolektif dari warga.

“Kalau sumbangan tapi enggak punya jiwa di sini, enggak jadi apa-apa,” ujar dia.

Oleh sebab itu, ia mengaku terkesan dengan sistem keamanan yang dibangun dari kesadaran mandiri warga tersebut.

Inovasi “Si Jaga Warga” Sebagai informasi tambahan, sistem keamanan lingkungan “Si Jaga Warga” dipersenjatai beragam sarana, berawal dari pengeras suara malam di enam lokasi, tombol darurat, QR patroli, hingga akses CCTV yang dapat dipantau warga lewat gawai.

Uniknya, piranti pengeras suara tersebut memakai pendekatan kultur Betawi agar terasa semakin dekat dengan warga.

“Kalau Jakarta berarti kan harus Betawi-nya. Enggak mungkin dong dari Jawa Timur kan enggak nyambung. Nah kalau Betawi-nya kan nyambung nih,” kata Imam Basori atau akrab disapa Ibas saat ditemui Kompas.com di tempat tinggalnya, Kamis (14/5/2026).

Ia mengimbuhkan, penggunaan logat Betawi bermaksud menghidupkan kedekatan emosional di tengah masyarakat.

“Meskipun logatnya mereka Betawi-nya udah enggak kental ya, tapi dengan kami pakai logat Betawi itu, jadi mereka berasa masih masa lalu,” ucapnya.

Di samping itu, tombol darurat disiapkan untuk situasi mendesak yang dapat seketika memicu pemutaran maklumat lewat pengeras suara.

Materi maklumat pun dikonsep ringkas serta lekat dengan rutinitas warga sehari-hari.

“Nah, itu isinya imbauan masyarakat, khususnya anak-anak nih jam malam, jam 22.00 WIB sudah bisa kembali lagi ke rumah, istirahat,” ungkap Imam.

“Jadi, orangtua diingatkan juga tentang listrik maupun kompor dan juga kendaraan bermotornya,” lanjut dia.

Bila tombol darurat dipencet, pengurus RT bisa langsung memohon pertolongan warga sekitar melalui pengeras suara.

“Tapi setidaknya, kan denger kenceng banget. Awalnya kami ini RT lain, keluar semua karena simulasi,” ujarnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua