Breaking

Pakar UGM Ungkap Bahaya Konsumsi Obat Asam Lambung Sembarangan

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Jumat, 29 Mei 2026
Pakar UGM Ungkap Bahaya Konsumsi Obat Asam Lambung Sembarangan
Ilustrasi Obat (Sumber: NET)

JAKARTA - Konsumsi produk obat untuk mengatasi penyakit gangguan asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD) berpotensi memicu timbulnya bermacam-macam dampak buruk bagi kesehatan apabila ditelan secara asal-asalan.

Guru Besar Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Zullies Ikawati mengutarakan, proses penentuan produk obat asam lambung yang dinilai tepat, dasarnya tidak melulu hanya bersandar pada takaran besaran dosis semata.

Langkah pemilihan obat asam lambung seyogianya wajib diselaraskan dengan kondisi indikasi medis pasien, tingkat intensitas kekambuhan, ada tidaknya temuan luka di lambung, faktor usia pasien, gangguan kesehatan lain yang tengah diidap, hingga jenis obat lain yang sedang dikonsumsi rutin.

“Because it was ideal, sufferers do not continually guess for themselves what medicine to take,” kata Zullies kepada Kompas.com, Sabtu (23/5/2026).

Terdapat bermacam-macam ancaman bahaya dari aktivitas penggunaan obat asam lambung yang tidak terkendali dengan baik atau dibeli secara asal-asalan.

Kondisi komplikasi tersebut utamanya sangat rentan terjadi bilamana obat dikonsumsi dalam periode jangka waktu yang panjang tanpa dibarengi adanya kontrol pemeriksaan medis secara rutin.

Beberapa rincian risiko bahayanya mencakup: indikasi adanya serangan penyakit berat bisa menjadi "tersembunyi" sehingga berujung terlambat untuk dideteksi dini, terjadinya defisit kandungan vitamin B12, kekurangan magnesium, hingga kendala pada proses penyerapan kalsium tubuh.

Selain daripada itu, tingkat risiko paparan infeksi saluran pencernaan tertentu didapati dapat meningkat, memicu terjadinya efek kontradiksi dengan produk obat lain, timbulnya problem pada organ ginjal pada beberapa situasi, hingga memicu gejala rebound acid hypersecretion atau suatu kondisi di mana kadar asam lambung justru melonjak drastis ketika konsumsi obat disetop secara tiba-tiba pascapenggunaan dalam durasi yang lama.

Apabila gangguan yang muncul hanya berupa keluhan skala ringan yang sesekali saja muncul, Zullies memberikan pandangan bahwa langkah pemilihan obat bebas di pasaran kemungkinan masih aman untuk diterapkan secara bijaksana.

Kendati demikian, apabila gangguan kesehatan yang dirasakan oleh tubuh sudah tergolong masuk fase kronis, maka dirinya memberikan anjuran yang kuat agar pasien lekas memeriksakan kondisi kesehatannya menuju ke dokter spesialis.

“Tetapi bila sering kambuh, nyeri berat, sulit menelan, berat badan turun, muntah darah, BAB hitam, atau perlu minum obat terus-menerus, maka sebaiknya diperiksa dokter karena bisa saja bukan ‘maag biasa’,” terang Zullies.

Dirinya pun memberikan untaian saran strategis supaya aktivitas mengonsumsi obat asam lambung senantiasa disesuaikan dengan petunjuk dari tim medis.

Zullies memberikan poin rekomendasi agar pasien menjatuhkan pilihan pada varian jenis obat yang paling ringan namun dirasa masih mampu bekerja secara efektif terlebih dahulu di dalam tubuh.

Zullies Ikawati menyampaikan bahwa terdapat beberapa tingkatan tahapan pada obat asam lambung, yang mana pengelompokannya bergantung pada kekuatan performa obat, tipe mekanisme kinerjanya, serta level keparahan dari gangguan kesehatan yang tengah ditangani.

“So there was indeed a kind of gradual therapy in handling ulcers, GERD, or other stomach acid disorders,” ungkap Zullies.

Produk obat asam lambung secara garis besar dapat diklasifikasikan ke dalam tiga tahapan atau kelompok utama, di antaranya yaitu: 1. Kelompok antasida.

Beberapa contoh varian obat asam lambung yang masuk ke dalam kategori antasida ini, mencakup aluminium hidroksida, magnesium hidroksida, serta kalsium karbonat.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua