Impor China Meningkat 18,21 Persen, Permintaan Forwarder Naik Tajam
JAKARTA - Arus impor komoditas dari China ke Indonesia memperlihatkan lonjakan besar sepanjang awal 2026.
Melalui data Badan Pusat Statistik (BPS), nominal impor Indonesia pada Januari 2026 dibukukan sebesar US$21,20 miliar, atau terangkat 18,21% dari Januari 2025 secara year-on-year.
Kenyatanya, China tetap menjadi negara primer dengan nominal impor US$7,89 miliar atau 43,75% dari keseluruhan impor nonmigas Indonesia pada Januari 2026.
Arus ini terus berjalan sampai kuartal pertama, yang mana nominal impor Indonesia pada Januari-Maret 2026 terangkat 10,05% menjadi US$61,30 miliar.
Selaras dengan arus itu, permohonan jasa forwarder China pun ikut melonjak.
Jasa forwarder China ialah layanan manajemen impor yang mengurus pengantaran komoditas dari China ke Indonesia, berawal dari pemuatan komoditas di gudang penyuplai sampai mendarat di alamat tujuan.
Natindo Cargo, korporasi yang fokus memfasilitasi jasa import China, membukukan kenaikan permohonan hingga 31,48% pada awal tahun ini bila disandingkan dengan masa setahun lalu.
Kelompok Produk Paling Banyak Diimpor
Melalui data, kelompok produk yang paling banyak didatangkan dari China dikuasai oleh komoditas konsumen dengan perputaran cepat.
Lima kelompok teratas mencakup sepatu, tas, aksesori gawai, garmen (pakaian), serta perlengkapan fesyen.
Kelompok ini disukai lantaran mempunyai selisih keuntungan memikat bagi pengecer serta permohonan pasar yang konstan sepanjang tahun.
Pelaku UMKM serta pengecer daring menjadi pangsa terbesar pengguna jasa impor.
Arus live shopping serta terangkatnya transaksi grosir lintas negara menjadi elemen stimulan utama lonjakan permohonan.
Opsi Jalur Pengantaran: Laut, Udara, serta Express
Salah satu tolok ukur utama pengusaha dalam menentukan jasa forwarder ialah perkiraan waktu pengantaran.
Secara umum, tersedia tiga pilihan jalur pengantaran impor dari China ke Indonesia:
Jalur Laut (Sea Cargo): perkiraan 21-30 hari, pas untuk pengantaran kuantitas besar dengan ongkos lebih murah.
Jalur Udara (Air Cargo): perkiraan 7-8 hari, tepat untuk komoditas yang memerlukan kecepatan.
Jalur Express: durasi pengantaran bahkan sanggup lebih kilat dari perkiraan jalur udara, guna keperluan mendesak.
"Kebutuhan pebisnis Indonesia terhadap layanan impor dari China terus meningkat, terutama untuk volume kecil hingga menengah. Pebisnis kini bisa memilih jalur sesuai kebutuhan, mulai dari sea cargo yang ekonomis hingga express untuk pengiriman cepat," ujar Head of Import Natindo Cargo Samuel Andrew dalam keterangan tertulis, Jumat (29/5/2026).
Metode Door to Door Menjadi Idola
Layanan Jalur Langsung dengan metode semua ada atau door to door menjadi opsi yang paling banyak disukai.
Melalui metode ini, seluruh tahapan pengantaran dari gudang asal di China sampai mendarat di alamat tujuan di Indonesia diurusi dalam satu kesatuan layanan.
Metode semua ada menyajikan kepastian ongkos di awal, tanpa ongkos tambahan yang keluar di tengah tahapan.
Pengusaha cukup menyerahkan komoditas di lokasi pemuatan, dan forwarder bakal membereskan seluruh tahapan logistik sampai komoditas mendarat di tangan penerima.
UMKM serta Belanja Daring Terus Melaju
Sektor UMKM serta kegiatan belanja daring di Indonesia dibukukan sebagai dua bidang dengan kemajuan paling kilat dalam sekian tahun belakangan.
Pelaku UMKM saat ini kian aktif melebarkan variasi produk dengan mendatangkan langsung dari China, sementara pembeli Indonesia pun kian terbiasa dengan pola belanja produk impor lewat platform digital.
Arus live shopping, bingkisan, sampai pengecer level rumah tangga ikut memicu kemajuan permohonan komoditas impor.
Banyak pelaku usaha rintisan yang mengawali bisnis dengan modal minim lewat metode impor langsung dari penyuplai di China.
Guna memenangi keperluan ini, sejumlah penyedia jasa import China semacam Natindo Cargo tersedia dengan layanan door to door lewat jalur laut, udara, serta express, dengan fokus pada keterbukaan ongkos serta kemudahan pelacakan bagi pelaku UMKM sampai bisnis level menengah.