Breaking

Pasar Rangkasbitung Sepi, Banyak Pedagang Gulung Tikar

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Minggu, 31 Mei 2026
Pasar Rangkasbitung Sepi, Banyak Pedagang Gulung Tikar
Pasar Rangkasbitung di Kabupaten Lebak, Banten dikeluhkan sepi oleh para pedagang. (Sumber: NET)

LEBAK - Lorong-lorong di Pasar Rangkasbitung tampak sunyi pada Sabtu (30/5/2026) siang.

Deretan kios dengan rolling door berwarna biru berjajar dalam keadaan tertutup dan terkunci.

Beberapa papan nama toko masih menggantung di atas kios yang tak lagi beroperasi.

Hanya segelintir pedagang yang bertahan membuka lapaknya, menunggu pembeli yang sesekali melintas.

Suasana yang dulu ramai dengan suara tawar-menawar kini berubah menjadi lorong lengang yang dipenuhi kios-kios kosong.

Sebagian pedagang memilih menutup usahanya setelah tak mampu lagi menanggung biaya operasional di tengah penurunan pembeli yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Di depan tokonya yang menjual pakaian anak-anak dan dewasa, Vita hanya bisa duduk menunggu pembeli yang tak kunjung datang.

Menurut dia, kondisi pasar mulai berubah sejak pandemi Covid-19 berlalu.

Jika saat pandemi pedagang masih bisa bertahan, situasi justru semakin berat belakangan ini.

"Sudah lama sepinya. Habis Corona malah makin sepi. Tapi, dua tahun ini makin parah, ditambah di depan dipasang portal, jadi orang makin malas datang," kata Vita saat ditemui di tokonya, Sabtu.

Menurut Vita, saat ini dia memilih bertahan berjualan bukan lagi memikirkan keuntungan, tetapi bagaimana mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Kami sekarang bukan nyari untung lagi. Yang ada modal habis terus. Mau cari penglaris saja susah. Utang numpuk, pendapatan enggak ada. Mau beli beras saja susah," ujarnya.

Menurut dia, kondisi tersebut membuat banyak pedagang memilih menutup usahanya.

Bahkan, tidak sedikit yang terlilit utang hingga asetnya disita pihak bank.

Padahal, kata Vita, menjelang Ramadhan dan Lebaran biasanya menjadi masa panen bagi pedagang pakaian.

Namun, beberapa tahun terakhir, suasana itu nyaris tak terlihat lagi.

"Dulu pas mau puasa dan Lebaran toko buka semua. Sekarang banyak yang tutup. Banyak yang enggak bisa bayar utang," kata dia.

Meski kondisi semakin sulit, Vita tetap bertahan karena tidak memiliki pilihan pekerjaan lain.

Ia juga mengaku kesulitan mengikuti tren penjualan secara daring.

Harga barang yang dijual melalui platform online dinilai terlalu murah dibandingkan harga yang didapat pedagang saat berbelanja stok ke pusat grosir seperti Tanah Abang.

"Kami belanja barang sudah mahal, tetapi di online bisa lebih murah. Saya enggak masalah ada online, tetapi harganya jangan terlalu jauh. Tolonglah pedagang kecil juga dipikirkan," katanya.

Keluhan serupa disampaikan Uni, pedagang pakaian dalam yang berjualan tak jauh dari toko Vita.

Perempuan itu mengaku kondisi usahanya semakin sulit dalam beberapa tahun terakhir.

Bahkan, ada kalanya ia tidak memperoleh pemasukan sama sekali selama berhari-hari.

"Nyari penglaris saja susah. Dua hari berturut-turut enggak dapat uang sama sekali. Sedih, pengin nangis. Weekend juga kosong," ujar Uni.

Ia menggambarkan suasana Pasar Rangkasbitung saat ini jauh berbeda dibandingkan masa-masa ketika pasar masih menjadi tujuan utama masyarakat untuk berbelanja.

"Mau dibilang kuburan bukan kuburan, tetapi lebih ramai kuburan karena banyak yang lewat," katanya.

Menurut Uni, banyak pedagang pakaian yang akhirnya beralih profesi menjadi pedagang makanan ringan atau usaha lain demi menyambung hidup.

"Banyak yang tutup. Banyak yang pindah jualan gorengan dan jualan makanan karena pakaian susah lakunya," ungkapnya.

Uni mengaku masih bertahan karena kios yang ditempatinya merupakan milik sendiri.

Namun, kondisi itu tidak serta-merta membuat beban menjadi ringan.

Selain harus menghadapi sepinya pembeli, para pedagang juga tetap dibebani berbagai biaya operasional seperti listrik dan juga iuran harian dari pengelola.

"Harus bayar salar tiap hari, kalau jualan ramai sih enggak apa-apa, tapi ini sepi tapi salar jalan terus," ujar dia.

Menurut Uni, kondisi tersebut membuat sebagian pedagang tidak lagi mampu mempertahankan usahanya.

Di sudut lain pasar, Ujang, pemilik Toko Anisa yang menjual gamis perempuan, juga merasakan kondisi serupa.

Pria yang telah berdagang sejak 1989 itu menilai kondisi Pasar Rangkasbitung saat ini cukup memprihatinkan.

Menurut dia, jumlah pengunjung yang datang ke pasar terus menurun dari tahun ke tahun.

"Pasar Rangkasbitung sekarang memprihatinkan. Daya beli menurun, pengunjung yang masuk pasar juga tidak banyak," kata Ujang.

Ia mengatakan jumlah pedagang yang bertahan juga semakin berkurang karena banyak yang memilih menutup usaha untuk menghindari biaya operasional yang terus berjalan.

Ujang mengaku pernah mengalami satu hingga dua hari tanpa pelanggan yang datang ke tokonya.

Meski demikian, ia memilih tetap bertahan karena berdagang merupakan satu-satunya sumber mata pencarian keluarganya.

"Saya jualan dari tahun 1989. Harapannya pasar ini bisa ramai lagi seperti dulu, sekarang coba bertahan sambil kencangkan ikat pinggang," kata Ujang.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua