Breaking

Komisi X DPR Minta Kejelasan Aturan Bahasa Prancis di Sekolah

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Minggu, 31 Mei 2026
Komisi X DPR Minta Kejelasan Aturan Bahasa Prancis di Sekolah
Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. (Sumber: NET)

JAKARTA - Ketua Komisi X DPR, Hetifah memberikan tanggapan mengenai arahan Presiden Prabowo Subianto yang menghendaki agar bahasa Prancis mulai diajarkan pada lembaga pendidikan di Indonesia.

Menurut pandangannya, diperlukan adanya cetak biru implementasi yang konkret mengenai bagaimana teknis pengajaran bahasa Prancis tersebut bakal diterapkan di sekolah-sekolah kelak.

"Kami tentu mendukung upaya pemerintah meningkatkan kemampuan bahasa asing peserta didik sebagai bekal menghadapi persaingan global. Namun, terkait arahan Presiden untuk memperluas pembelajaran Bahasa Prancis, perlu ada kejelasan implementasi di sekolah mengingat penguatan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib juga baru dijalankan tahun ini," kata Hetifah kepada wartawan, Sabtu (30/5/2026).

Baca juga: Prabowo Dorong Bahasa Prancis Diajarkan di Sekolah, PDIP: Perlu Kajian Mendalam

Hetifah memberikan perhatian khusus mengenai aspek kesiapan dari ketersediaan tenaga pendidik bahasa Prancis.

Dirinya tidak menghendaki pihak sekolah mendapatkan beban tambahan akibat dari regulasi baru tersebut lantaran jumlah guru yang kompeten belum tersedia secara proporsional.

"Yang perlu menjadi perhatian adalah kesiapan sumber daya pendidikan, terutama ketersediaan dan kompetensi guru. Jangan sampai sekolah dibebani kebijakan baru tanpa dukungan tenaga pengajar yang memadai serta sarana pembelajaran yang cukup," ujarnya.

Dirinya berpendapat bahwa formula penyampaian materi bahasa asing mestinya dikonsep secara atraktif serta edukatif.

Dengan demikian, para murid akan merasa termotivasi serta lebih mudah dalam mencerna materi pelajaran yang diberikan.

"Pembelajaran bahasa asing harus dibuat menarik dan menyenangkan bagi siswa. Pendekatan melalui percakapan, permainan, musik, film, budaya, dan teknologi digital akan lebih efektif dibandingkan metode yang terlalu menekankan hafalan dan teori," ucapnya.

Aspek kompetensi dari para pengajar, menurut penuturan Hetifah, juga memegang peranan krusial yang wajib diprioritaskan.

Dirinya mendesak pihak eksekutif untuk menjamin bahwa regulasi yang hendak digulirkan bersifat masuk akal serta relevan dengan urgensi para siswa.

"Kami berpandangan bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa asing tidak ditentukan oleh banyaknya bahasa yang diajarkan, tetapi oleh kualitas pengajaran, kesiapan guru, dan minat siswa. Karena itu, pemerintah perlu memastikan setiap kebijakan berjalan bertahap, realistis, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik," imbuhnya.

Baca juga: Hasil Lawatan ke Prancis, Prabowo Bawa Pulang Capaian Kerja Sama Rp 61,25 T

Pada kesempatan sebelumnya, Prabowo menyatakan telah mengeluarkan instruksi kepada seluruh institusi pendidikan di Indonesia guna memberikan pelajaran bahasa Prancis kepada para murid.

Prabowo mengutarakan bahwa langkah tersebut diambil dengan mempertimbangkan dinamika global di masa yang akan datang.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Prabowo di sela-sela agenda kunjungan resminya di Istana Kepresidenan Élysée, Paris, Kamis (28/5).

Prabowo mengutarakan hal tersebut secara langsung di hadapan Macron.

"Sekarang saya sudah menginstruksikan bahwa semua tingkatan sekolah di Indonesia harus belajar bahasa Prancis, melihat perkembangan dunia ke depan," kata Prabowo.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua