Breaking

Terbongkar! Motif Ibu di Bantul Tega Ikat dan Lakban Anak Kandung

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Jumat, 05 Juni 2026
Terbongkar! Motif Ibu di Bantul Tega Ikat dan Lakban Anak Kandung
Warga Kedaton, Pleret, Bantul, DI Yogyakarta, digegerkan dengan penemuan seorang balita perempuan berusia tiga tahun, dalam kondisi tangan dan kaki terikat serta mulut tertutup lakban.(Sumber:NET)

BANTUL - Jajaran aparat kepolisian berhasil mengungkap faktor pemicu di balik tindakan keji TKS (25), seorang ibu di wilayah Bantul yang tega mengikat bagian kaki dan tangan serta menutup area mulut anak balitanya memakai lakban hingga didapati dalam keadaan lemas di dalam rumah kontrakan.

Kepada tim petugas, pihak pelaku memberikan pengakuan bahwa dirinya mengalami kondisi kelelahan yang luar biasa lantaran mesti mengasuh sang anak seorang diri, sementara sang suami menempuh kerja di Jakarta dan cuma memiliki kesempatan pulang satu kali dalam sebulan.

Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, memberikan penjelasan bahwasanya sepanjang waktu ini TKS membesarkan sang buah hati, ACB (3), tanpa mendapatkan bantuan dari pihak mana pun di dalam rumah kontrakan mereka yang beralamat di Padukuhan Kedaton, Kalurahan Pleret, Kapanewon Pleret, Kabupaten Bantul.

Di sisi yang lain, suaminya yang berinisial RF (30) terpaksa mesti merantau menuju ke Jakarta demi memberikan nafkah bagi keluarga dan cuma mengantongi jatah waktu pulang ke Yogyakarta satu bulan sekali.

"Tindakan melakban tersebut tidak dipikirkan oleh pelaku risiko apa yang terjadi pada anak karena sudah terlalu capek mengurus anak sendiri. Sedangkan ayah korban/suami pelaku kerja di Jakarta pulang ke Yogyakarta setiap sebulan sekali," tutur Rita dalam keterangannya, yang dikutip dari Tribun Jogja, Kamis (4/6/2026).

Dipicu oleh Munculnya Rasa Lelah Mengasuh Seorang Diri

Berdasarkan pemaparan dari Rita, beban tekanan serta rasa lelah yang ditanggung oleh TKS sepanjang mengasuh anak tanpa ditemani oleh figur suami disinyalir kian menumpuk.

Dalam situasi kondisi psikologis yang berada dalam tekanan berat tersebut, pelaku pada akhirnya nekat melangsungkan tindakan kejam yang sejatinya tidak pantas dilakukan terhadap anak kandungnya sendiri.

TKS melakukan aksi mengikat bagian pergelangan tangan serta kaki korban dengan memanfaatkan selembar kain selendang beserta lakban bening.

Tidak cuma sampai di situ, area mulut balita yang malang tersebut turut disumpal serta ditutup secara rapat mengandalkan lakban.

Seusai melancarkan tindakan bejatnya, pihak pelaku bergegas pergi meninggalkan sang anak yang berada dalam kondisi tidak berdaya seorang diri di dalam area kamar kontrakan.

Rita memberikan imbuhan bahwasanya sesudah melakban bagian mulut anaknya, TKS mengantongi niat untuk pergi berjalan-jalan dengan tujuan demi menyegarkan kembali pikiran serta mengusir rasa penat.

Terbongkar Berawal dari Adanya Suara Tangisan

Aksi kejam ini pada akhirnya berhasil terkuak berkat adanya rasa curiga dari salah seorang tetangga kontrakan, Abdul Baqir Zein Ikhsan.

Pada momen Senin (1/6/2026) waktu malam hari, dirinya mendengar adanya suara tangisan dari anak kecil yang bersumber dari dalam area rumah korban sewaktu ia tengah melangsungkan aktivitas membakar sate di kawasan depan kontrakan.

"Saksi 1 sedang bakar sate di depan kontrakan mendengar suara tangisan anak kecil dari kamar kontrakan yang ditempati oleh korban sekitar pukul 20.00 WIB," ungkap Rita.

Merasakan ada hal yang tidak wajar, pihak saksi bergegas menghubungi pemilik bangunan kontrakan guna melakukan pengecekan situasi di dalam rumah.

Lantaran kondisi pintu dalam keadaan terkunci, keduanya terpaksa menjebol akses pintu masuk dengan jalan mencongkel bagian jendela mengandalkan alat linggis.

Ketika berhasil melangkah masuk, mereka mendapati korban sudah berada dalam keadaan yang teramat lemas.

"Kedua tangan diikat menggunakan lakban bening dan kedua kaki diikat menggunakan lakban bening dan selendang warna merah maroon," jelas Rita.

Di samping adanya ikatan di bagian kaki serta tangan, area mulut korban juga didapati dalam keadaan tertutup secara rapat oleh balutan lakban plastik bening.

Pihak Suami Mengambil Opsi Jalan Damai

Sesudah diamankan oleh pihak aparat yang berwajib, TKS secepatnya melewati serangkaian tahapan pemeriksaan secara intensif dengan tujuan mendalami urutan kronologi serta motif utama dari tindakannya.

Akan tetapi, dalam jalannya perkembangan proses hukum perkara ini, suami pelaku yang sekaligus bertindak sebagai ayah kandung korban dikabarkan mengambil keputusan untuk membereskan persoalan ini melalui jalur kekeluargaan.

Rita memberikan pemaparan bahwasanya RF telah berlapang dada memberikan maaf atas tindakan yang dilakukan oleh istrinya.

Ia juga menyatakan komitmen untuk membenahi pola komunikasi serta situasi internal di dalam rumah tangga mereka supaya peristiwa yang memilukan semacam ini tidak kembali terulang di masa depan.

"Suami selaku kepala rumah tangga/wali dari korban meminta agar kejadian tersebut diselesaikan secara kekeluargaan," terang Rita.

"Ayah kandung korban untuk saat ini memaafkan pelaku dan sanggup untuk memperbaiki rumah tangga sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi," sambungnya.

Kondisi Kesehatan Korban Mulai Berangsur Membaik

Kondisi dari kesehatan ACB di waktu sekarang ini dikabarkan terus memperlihatkan adanya tren perkembangan yang positif sesudah pada waktu sebelumnya sempat terkapar lemas di dalam bangunan rumah kontrakan tersebut.

Di saat sekarang ini, balita yang menginjak usia 3 tahun itu telah dievakuasi serta mendapatkan perawatan oleh pihak keluarga dari lini ayahnya di kawasan Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

"Kondisinya baik, dan saat ini sedang dirawat bude-nya di Patuk, Gunungkidul," pungkas Rita, seperti dikutip dari Kompas.com, Rabu (3/6/2026).

Sebagai bagian dari informasi, korban mula-mula diselamatkan oleh warga masyarakat sekitar dalam keadaan yang memprihatinkan dengan kedua bagian tangan serta kaki yang terikat secara erat, disertai mulut yang didekap menggunakan lakban bening.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua