Potensi Tsunami Gempa Filipina di Sangihe Meluas hingga 75 Cm
KEPULAUAN SANGIHE - Situasi pasca-guncangan gempa bumi dengan kekuatan magnitudo (M) 7,7 yang menghantam Mindanao, Filipina, bertransformasi menjadi semakin krusial bagi kawasan pesisir di Indonesia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui rilis data paling mutakhir mengonfirmasi bahwa terjangan ombak laut yang mengarah ke wilayah daratan terpantau terus melonjak secara berlipat ganda.
Instansi BMKG mengumumkan bahwa dimensi gelombang tsunami paling tinggi saat periode sekarang terkonfirmasi sudah menyentuh angka 0,75 meter atau 75 sentimeter di kawasan Talengan, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, tepat pada jam 08.20 WIB.
Lonjakan itu dinilai amat mendadak bila disandingkan dengan pembaruan rilis data dari BMKG sebelumnya, yang pada waktu itu mengidentifikasi datangnya ombak perdana masih bertengger di bawah angka 20 sentimeter di wilayah Talaud serta Halmahera Barat.
Bukan sekadar di Talengan, peranti pemantau pasang surut air laut (tide gauge) milik BMKG pun mengidentifikasi adanya pergerakan ombak tsunami yang semakin membesar di sejumlah titik pesisir lainnya:
Tahuna (Kepulauan Sangihe, Sulut): Terdeteksi pukul 06.58 WIB dengan ketinggian 0,30 meter (30 cm).
Paleleh (Buol, Sulawesi Tengah): Terdeteksi pukul 07.34 WIB dengan ketinggian 0,45 meter (45 cm).
Tanjung Sidupa (Bolaang Mongondow Utara, Sulut): Terdeteksi pukul 07.39 WIB dengan ketinggian 0,32 meter (32 cm).