Breaking

Mengalir dalam Diri Prabowo Subianto: Menghidupkan Spirit Soekarno

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Kamis, 02 Juli 2026
Mengalir dalam Diri Prabowo Subianto: Menghidupkan Spirit Soekarno
Presiden Prabowo Subianto. (FOTO:NET)

JAKARTA - Kisah masa remaja Prabowo Subianto yang ditulis dalam buku Petite Histoire (Sejarah Kecil) Indonesia oleh jurnalis senior Rosihan Anwar menceritakan momen ketika ia berkelahi dengan teman asingnya saat di sekolah.

Peristiwa ini dialami oleh ia sewaktu menetap di luar negeri dalam masa pengasingan mendampingi ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo.

Di masa tersebut, Sumitro dikenal sebagai rival politik Soekarno yang kerap bersilang pendapat secara tajam.

Melihat putranya pulang dengan kondisi berantakan sehabis berkelahi, Pak Mitro selaku ayah langsung menginterogasi Prabowo perihal alasan di balik perkelahian tersebut.

Tanggapan dari Prabowo remaja ternyata di luar dugaan Sumitro karena ia menjelaskan bahwa teman asingnya itu telah melecehkan Soekarno yang merupakan kepala negaranya.

Usai mendengar penjelasan sang anak, Sumitro sama sekali tidak menunjukkan amarah ataupun memarahinya.

Ia justru merasa takjub kepada putranya yang masih sangat muda namun sudah memiliki rasa nasionalisme tinggi kepada tanah airnya, sebuah kualitas langka bagi anak seusianya.

Prabowo remaja bahkan berbalik melontarkan pertanyaan kepada Sumitro yang menuntut jawaban instan bahwa perselisihan politik antara ayahnya dan Soekarno tidak boleh menjadi pembenaran untuk diam saja saat orang luar merendahkan Soekarno.

Peristiwa masa lalu inilah yang disinyalir menjadi titik awal munculnya rasa kagum dan kecintaan mendalam dari Prabowo, yang kini dipercaya rakyat sebagai Presiden ke-8 Indonesia, terhadap sang proklamator sekaligus presiden pertama Republik Indonesia tersebut.

Prabowo dikenal sebagai sosok yang berkarakter tegas, terbuka, serta sangat lugas dalam mengekspresikan pandangan maupun perasaannya.

Dalam berbagai momen, termasuk saat peresmian Museum Marsinah di Nganjuk, Jawa Timur, dua bulan lalu, Prabowo menyatakan secara tegas bahwa Bung Karno bukan merupakan milik dari satu kelompok partai politik saja.

Pernyataan yang kerap diulang-ulang ini mengirimkan pesan politik yang kuat bagi siapa saja yang berniat mengklaim Soekarno secara sepihak, bahwa rasa cinta dan kagum kepada Soekarno tidak bisa diukur dari silsilah keluarga atau kedekatan organisasi di masa lampau saja.

Langkah ini melainkan lebih kepada proses mendalami pemikiran, konsep ideologi kerakyatan, serta semangat perjuangan Soekarno yang tetap relevan sampai sekarang.

Dalam pola pikir Prabowo, apabila Soekarno diibaratkan sebagai nyala api, maka ia memposisikan diri sebagai bara yang bertugas menjaga agar api tersebut tidak padam.

Prabowo tampak totalitas dalam merepresentasikan dirinya agar terlihat selaras dengan Soekarno.

Gaya suaranya sewaktu berpidato terdengar lantang, tegas, dan bergemuruh, sangat mirip dengan Soekarno yang tersohor sebagai orator ulung sekaligus pemersatu massa.

Tidak ketinggalan ia juga mengadopsi gestur menunjuk ke atas serta ke depan, hingga mengetuk meja yang identik dengan cara Soekarno saat membakar semangat rakyat lewat pidatonya.

Ia pun memilih menggunakan baju safari yang identik dengan Soekarno, yaitu setelan safari dengan empat saku di bagian depan atas saran dari penjahit kepercayaannya, Yasbun, semenjak tahun 2004.

Demi memperkuat kemiripan tersebut, ia tidak canggung memakai peci hitam berbahan beludru dengan posisi sedikit miring ke kiri, meniru gaya khas Soekarno yang menyimbolkan keberpihakan pada rakyat kecil.

Hampir tidak ada figur lain yang menyamai totalitas Prabowo dalam mengadopsi gaya berpakaian Soekarno.

Sosok Soekarno seolah hadir kembali lewat penampakan fisik dari Prabowo.

Saat berhasil memenangkan Pilpres satu putaran pada Februari 2024 dengan meraih 58,6 persen dari total suara sah nasional untuk menjadi Presiden RI ke-8, titik temu antara Prabowo dan Soekarno kian jelas karena keduanya sama-sama menjabat sebagai presiden sekaligus panglima tertinggi militer.

Kedudukan sebagai presiden ini menjadi kesempatan bagi Prabowo untuk menerapkan gagasan-gagasan Soekarno ke dalam praktik politik dan kebijakan pemerintahan yang ia jalankan.

Momen ini sekaligus menjadi pembuktian paling sakral atas kekagumannya pada Soekarno, bukan sekadar meniru hal luar seperti cara berorasi dan berbusana, melainkan menyangkut cara pandang kepemimpinan dan seni mengelola kekuasaan negara.

Memang tidak dipungkiri jika sebagian kebijakannya saat ini masih kental dipengaruhi oleh pemikiran serta visi masa lalu ayahnya, Sumitro, seperti pembentukan Danantara dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Akan tetapi, jika publik mengamati dan mendengarkan dengan lebih saksama, napas pemikiran Soekarno sesungguhnya jauh lebih kuat memengaruhi isi kepala Prabowo.

Hal yang jarang disadari oleh publik adalah sebuah kenyataan bahwa Soekarno dan Prabowo sama-sama seorang poliglot yang fasih menguasai beragam bahasa asing.

Soekarno tercatat menguasai bahasa Belanda, Inggris, Jerman, Arab, Prancis, serta Jepang.

Sementara itu, Prabowo memiliki kemahiran dalam berbahasa Inggris, Prancis, Belanda, dan Jerman.

Keahlian dalam berbahasa asing yang dimiliki oleh kedua tokoh ini mempunyai kesamaan proses, yakni sama-sama ditempa sejak usia muda.

Penguasaan bahasa asing tersebut mempermudah keduanya untuk menyerap ilmu pengetahuan secara luas dari berbagai buku literatur barat yang pada zaman dulu tergolong sebagai barang langka.

Di kemudian hari, ketika keduanya memiliki ketertarikan yang sama pada bidang politik internasional dan diplomasi, kecakapan bahasa asing ini yang menjadi fondasi utamanya.

Kemampuan berbahasa asing secara fasih yang ditunjang dengan pemahaman mendalam terhadap budaya luar negeri mengantarkan keduanya untuk terjun langsung menjadi motor penggerak diplomasi, hal yang memicu dominasi Prabowo saat ini dalam menjalankan diplomasi secara personal.

Langkah ini bahkan terkesan meminimalkan peran dari instansi diplomatik nasional lainnya.

Prabowo menaruh kekaguman yang besar pada konsep geopolitik milik Soekarno.

Di tengah kuatnya pengaruh teori geopolitik barat dari para ahli dunia—seperti Alfred Thayer Mahan dengan teori negara maritim, Rudolf Kjellen dengan konsep ruang hidup, hingga Halford Mackinder dengan teori jantung bumi.

Soekarno di zamannya sebagai pemimpin dari negara berkembang yang baru merdeka mampu tampil visioner melalui gagasan geopolitik yang digali langsung dari akar kebudayaan bangsa.

Konsep geopolitik Soekarno terwujud dalam wawasan nusantara yang tidak hanya bertumpu pada faktor geografis semata seperti wilayah darat atau laut, melainkan mengintegrasikan unsur ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta pertahanan keamanan dengan kondisi geografi, demografi, dan kekayaan alam.

Wawasan nusantara ini memiliki kaitan erat dengan konsep ketahanan nasional, yakni kemampuan suatu bangsa untuk bertahan di tengah berbagai tantangan dan ancaman yang menghadang.

Soekarno mempraktikkan teori geopolitik ciptaannya secara brilian lewat pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955 serta pembentukan Gerakan Non-Blok pada 1961 untuk menghimpun negara-negara baru agar bisa duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara maju.

Prestasi diplomasi di zaman Soekarno inilah yang berusaha dihidupkan kembali oleh Prabowo lewat kunjungan diplomasi ke berbagai negara, menjalin hubungan multilateral, serta berkomitmen tidak ikut terseret dalam persaingan kekuatan besar dunia seperti Amerika, Rusia, dan Tiongkok, mirip dengan strategi Soekarno dalam menyikapi era perang dingin.

Tanpa mengecilkan besarnya pengaruh Soekarno bagi Prabowo, hal menarik yang patut dicermati dari perjalanan politik kedua tokoh ini adalah keteguhan mereka untuk berjuang membangun negeri lewat jalur partai politik.

Soekarno merupakan tokoh pendiri Partai Nasional Indonesia (PNI) pada tahun 1927, sedangkan Prabowo memilih berjuang di dunia politik dengan mendirikan Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) pada tahun 2008.

Saat ini, situasi politik di tingkat nasional maupun internasional terus berkembang dinamis disertai berbagai macam tantangan baru.

Semangat Soekarno yang sangat kuat mewarnai arah politik Prabowo kini tengah menghadapi fase pengujian oleh waktu.

Besarnya pengaruh Amerika Serikat dalam peta politik dunia membuat Prabowo tampak mulai goyah dan condong berlawanan dengan prinsip anti-Barat ala Soekarno setelah memutuskan bergabung ke dalam Board of Peace (BoP).

Indonesia terancam kehilangan jati diri dalam aspek kebudayaan seperti yang tertuang dalam ajaran Trisakti Soekarno tatkala Prabowo berniat memasukkan bahasa asing seperti Prancis dan Portugis ke dalam mata pelajaran sekolah nasional.

Padahal, kenyataannya masih banyak warga di wilayah terdepan, terluar, dan terpencil yang bahkan belum mahir dalam menggunakan bahasa Indonesia.

Target untuk mewujudkan kemandirian ekonomi sesuai mandate Trisakti Soekarno juga masih harus dibuktikan oleh sejarah, apakah strategi ekspor komoditas utama lewat satu pintu benar-benar ditujukan demi kedaulatan negara atau malah menjadi celah korupsi baru bagi oknum di dalam negeri.

Napas pemikiran Soekarno diyakini akan terus mengiringi jalannya karier politik Prabowo ke depan.

Meskipun persaingan menuju Pilpres 2029 masih terhitung lama, namun dinamika politik elektoral di masa mendatang tampaknya akan tetap diwarnai oleh unsur-unsur Soekarno.

PDI-P yang menempatkan diri sebagai pewaris sah pemikiran Soekarno menjadi satu-satunya partai yang memilih berada di luar lingkaran pemerintahan pendukung Prabowo saat ini demi menjalankan fungsi penyeimbang atau penantang di masa depan.

Di sisi lain, terdapat figur Jokowi yang telah memulai pergerakan politik lebih awal bersama dengan PSI.

Jokowi, walaupun tidak terlalu sering menyamakan penampilan fisiknya dengan Soekarno, dinilai sebagai sosok penerus taktik serta pemikiran politik Soekarno yang sangat piawai.

Baik PDI-P, Jokowi, maupun Prabowo diprediksi akan terjebak dalam situasi saling berebut pengaruh Soekarno.

Apakah Prabowo yang saat ini memegang kendali kekuasaan mampu keluar sebagai pemenang dalam mengimplementasikan pemikiran Soekarno secara nyata? Waktu yang akan memberikan jawaban.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua