Tiket Konser Mahal, The All American Rejects Beri Kritik Tajam

The All American Rejects (Sumber: NET)
Kamis, 28 Mei 2026 | 13:10:18 WIB

JAKARTA - Nilai jual tiket konser yang kian meroket pascapandemi saat ini sedang menjadi pusat perhatian hangat.

Keadaan industri musik sekarang ini ikut memicu kekhawatiran dari grup rock alternatif asal Amerika Serikat, The All American Rejects.

Lewat bincang-bincang teranyar, Tyson Ritter bersama Nick Wheeler secara blak-blakan melontarkan kritik terhadap mekanisme konser modern yang dinilai semakin menjauh dari jangkauan penikmat biasa.

Pandangan mereka memperlihatkan bahwa pentas musik masa kini perlahan-lahan sudah beralih menjadi sebuah hiburan eksklusif untuk golongan tertentu saja.

"Kami sedang berbicara tentang seni di sini. Kenyataan bahwa Anda dapat memodifikasi penggemar Anda, itulah permainan industri sekarang," kata Ritter.

"Ini telah menjadi pengalaman bagi kaum satu persen teratas (orang kaya), dan menurut saya itu sangat kacau. Karena orang-orang yang paling mencintai musik, orang-orang yang paling membutuhkan musik, adalah orang-orang yang hidupnya pas-pasan, orang-orang yang datang dari tempat asal kami," lanjutnya.

Grup musik yang melejitkan lagu Dirty Little Secret ini pun memastikan komitmen mereka untuk tidak terbawa ke dalam lingkaran kapitalisasi industri musik masa kini.

Tindakan untuk tetap eksis dekat dengan para fans melalui jalan yang lebih simpel mereka tentukan selepas kembali merilis album penuh seusai sempat absen selama 14 tahun.

The All American Rejects bahkan sempat menggelar tur mandiri berkonsep nyentrik sebagai bentuk nyata dari tindakan protes terhadap tingginya nominal harga tiket.

Demi menghadirkan pentas yang lebih ramah di kantong sekaligus intim bagi penggemar, mereka rela manggung di tempat-tempat mini seperti pesta rumahan, area bowling, hingga gudang padi.

Keputusan nekat tersebut tetap mendatangkan limpahan dukungan dari para fans yang merasa konser sekarang semakin sukar dijangkau, kendati salah satu agenda mereka sempat ditertibkan oleh aparat kepolisian setempat.

Kondisi industri pertunjukan saat ini juga dinilai sudah di luar nalar oleh Nick Wheeler.

"Bagaimana bisa biaya pergi ke luar negeri untuk melihat band favoritmu menjadi lebih murah daripada sekadar melihat mereka di kotamu sendiri?" ujar Wheeler.

"Sekarang tanggung jawab ini, terutama bagi penampil utama, berada di tangan para musisi itu sendiri. Penggemar berhak mempertanyakan, 'Apakah artis favorit saya perlu menghasilkan 75 juta dolar AS musim panas ini? Atau bisakah mereka menghasilkan 30 juta dolar AS saja? Apakah uang itu sudah cukup bagi Anda?'" imbuhnya.

Kenaikan drastis harga tiket konser memang menjadi gejala yang terus menuai kecaman pedas dalam beberapa tahun terakhir.

Pemerintah Inggris pun sempat menjanjikan peluncuran rancangan undang-undang yang akan mempersempit ruang gerak calo tiket serta pemberlakuan mekanisme harga dinamis yang dinilai semakin menyulitkan pencinta musik.

Namun demikian, aturan yang ditunggu-tunggu tersebut terpantau masih mandek dalam wujud draf sampai detik ini.

Tersendatnya regulasi ini pada akhirnya menyulut tindakan protes terbuka dari deretan pesohor belantika musik seperti Radiohead, Arctic Monkeys, Ed Sheeran, hingga Dua Lipa yang mendesak pihak pemerintah untuk selekasnya mengambil langkah konkret demi melindungi para penikmat musik.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati