Sukses Tambak Berkelanjutan Berau: Panen Melimpah Tanpa Rusak Alam

Udang windu, hasil panen petambak di Kampung Pegat Batumbuk, Kabupaten Berau, Kaltim. (FOTO:NET)
Rabu, 17 Juni 2026 | 10:55:17 WIB

BERAU - Cerita dari Berau ini memberikan sebuah wejangan bernilai tinggi bahwa lingkungan bukanlah musuh dalam proses mengais rezeki.

Sebaliknya, alam ialah rekan yang wajib dipelihara.

Di daerah pesisir Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, tersimpan suatu narasi yang membuktikan bahwa progres ekonomi tidak mesti menumbalkan kelestarian alam.

Dua hal itu dapat melangkah beriringan tanpa merusak ekosistem yang menjadi penyokong eksistensi publik.

Di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran, para petambak menikmati hasil panen yang meluap.

Suka cita mereka tidak lagi bersumber dari kebiasaan silam yang kerap merusak hutan bakau, melainkan dari strategi budidaya yang lebih bersahabat dengan lingkungan.

Mereka mempraktikkan cara yang tersohor dengan sebutan Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE), sebuah sistem pengelolaan udang dan perikanan lain yang menyatukan dongkrakan produktivitas dengan pemulihan alam.

Panen ini menjadi bentuk konkret kerja sama antara Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Dinas Perikanan Kabupaten Berau, serta warga lokal dalam Program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle (SOMACORE).

Lebih dari sekadar aktivitas panen biasa, momen ini mengawali babak anyar bagi sektor perikanan pesisir Berau.

Pencapaian tersebut memperlihatkan bahwa memelihara alam justru menjadi aspek krusial untuk menjamin sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi anak cucu di masa depan.

Selama bertahun-tahun, budidaya tambak konvensional sering kali bergantung pada penambahan lahan, bahkan sampai merusak hutan mangrove yang bertugas sebagai pelindung natural sektor pantai.

Imbasnya, mutu air merosot, kondisi tanah memburuk, dan capaian panen kian tidak menentu.

Musnahnya ekosistem mangrove pun mengakibatkan berkurangnya pasokan pakan alami yang selama ini menopang produktivitas tambak.

SECURE hadir guna menggeser cara pandang itu lewat asas yang simpel namun revolusioner: capaian yang lebih oke tidak mesti didapatkan dengan membuka area yang lebih lapang.

Di dalam sistem ini, tata guna lahan dikelola secara lebih cerdas.

Cuma berkisar 20 persen dari total lahan yang dipakai untuk kegiatan budidaya, sedangkan 80 persen sisanya dipulihkan fungsinya sebagai area konservasi dan pemeliharaan mangrove.

Bagi segelintir kalangan, strategi ini barangkali terdengar seperti pembatasan volume bisnis.

Namun, realitas di lapangan memperlihatkan urusan yang kontras.

Produktivitas malah mengalami lonjakan.

Satu di antara sekian sampel dapat dijumpai pada tambak kepunyaan Abdul Rahman di Kampung Pegat Batumbuk.

Sebelum mempraktikkan SECURE, seluruh kawasan tambaknya dimanfaatkan untuk budidaya, namun hasil panen udang windu cuma berkisar 100 kilogram pada tiap masa tanam.

Sekarang, kendati area budidaya menciut hingga tersisa seperlima dari luas awal, hasil yang didapat justru meroket.

Pada agenda panen yang dilangsungkan Selasa, 3 Juni tahun ini, tambaknya mendatangkan 115 kilogram udang windu, 141 kilogram udang bintik, 1,9 ton ikan bandeng, serta 50 kilogram kepiting bakau.

Hasil tersebut mengindikasikan bahwa tata kelola tambak yang mencermati kondisi alam dapat memicu produktivitas yang lebih menjanjikan.

Peningkatan produksi udang windu berkisar 15 persen menjadi konfirmasi bahwa mutu manajemen jauh lebih krusial ketimbang sekadar luas wilayah.

Keberhasilan ini tidak muncul secara instan.

Melalui bimbingan mendalam dan sekolah lapang, para petambak diajak mengenali ritme kerja ekosistem sekaligus memanfaatkan kekayaan alam secara maksimal tanpa merusaknya.

Satu di antara materi pokok yang diulurkan ialah pembuatan pupuk kompos dan Mikroorganisme Lokal (MOL) dari material organik yang didapati di sekeliling tambak.

Kompos bermanfaat mendongkrak kesuburan bagian dasar perairan sekaligus memicu pertumbuhan pakan alami sehingga ketergantungan pada pakan pabrikan dapat dipangkas.

Sementara itu, MOL menolong menjaga stabilitas unsur hara serta mikroba di dalam air, menangkal ledakan hama ataupun penyakit, sekaligus mengawal kejernihan dan mutu air tambak.

Dampaknya, ongkos operasional menjadi lebih miring, sedangkan kondisi alam tetap terawat.

Variasi mencolok lainnya bersumber dari implementasi sistem nursery atau pendederan.

Bila mulanya bibit udang dan ikan langsung disebar ke area pembesaran, kini bibit terlebih dahulu dirawat di kolam kecil dalam rentang waktu tertentu.

Di fase ini, bibit dipelihara sampai dirasa cukup kuat dan sanggup menyelaraskan diri dengan kondisi alam sebelum dipindahkan ke kolam utama.

Jumardi, petambak asal Kampung Suaran yang mengurusi tambak bersama sang ayah, Satar, mencicipi langsung faedah cara tersebut.

Bagi dirinya, nursery menjadi satu di antara wawasan anyar yang paling berfaedah.

Sebelumnya, benih udang windu dan bandeng langsung disebar sehingga tingkat kesuksesannya tidak selalu memuaskan.

Kini, benih menjadi lebih bertenaga dan angka kelangsungan hidupnya menanjak, memicu Jumardi lebih percaya diri dalam memutar roda usaha tambak.

Hasilnya terpampang nyata.

Pada panen di hari yang sama, tambak kepunyaan Jumardi dan keluarganya mendatangkan 284,2 kilogram udang windu serta 120 kilogram udang bintik, sebuah pencapaian yang jauh lebih konstan dan mendatangkan untung jika dikomparasikan dengan sebelumnya.

Salah satu pilar utama kesuksesan sistem SECURE ialah eksistensi hutan mangrove yang direhabilitasi dan dijaga kelestariannya.

Mangrove bukan sekadar tumbuhan pesisir atau area kosong belaka.

Ekosistem ini mengemban fungsi ganda yang amat vital.

Secara ekologis, mangrove beroperasi sebagai benteng pertahanan alami yang memproteksi daratan dari pengikisan serta ombak laut, sekaligus menjadi salah satu wadah penampung karbon terbesar di sektor pesisir.

Khasiatnya pun dirasakan langsung dalam aktivitas budidaya.

Akar-akar pohon mangrove ikut menyaring air laut, mengawal stabilitas kadar garam, serta menyajikan area bernaung dan pasokan pakan alami untuk aneka biota, termasuk udang dan ikan.

Tatkala ekosistem ini terpelihara, ancaman gangguan alam seperti fluktuasi suhu dan penurunan mutu air dapat ditekan.

Lantaran itulah, kendati luas budidaya menyusut, produktivitas justru menanjak lantaran ekosistem tempat tumbuh komoditas menjadi lebih higienis dan alami.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Berau, Abdul Majid, merespons positif capaian tersebut sebagai prototipe pembangunan yang pantas dijadikan cerminan.

"Pendekatan ini menunjukkan bahwa budidaya dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Selain meningkatkan hasil budidaya, model SECURE juga menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat," ujar Majid.

Format ini juga selaras dengan gagasan Ekonomi Biru, yang menempatkan kesehatan alam sebagai fondasi utama kemajuan ekonomi.

Saat alam terawat, ancaman gagal panen mengecil, ongkos produksi menjadi lebih efisien, dan kualitas hasil panen menanjak sehingga nilai instrumen jualnya pun kian melambung.

Bagi Direktur Program Kelautan YKAN, Muhammad Ilman, kesuksesan agenda ini tidak semata-mata ditakar dari nominal hasil panen yang didapatkan.

Menurut dia, SECURE bukan melulu membicarakan urusan produksi udang, melainkan perihal bagaimana publik merajut kembali interaksi yang lebih sehat dengan ekosistem pantai.

"Ketika mangrove dipulihkan dan kapasitas petambak diperkuat, kami dapat melihat sistem pengelolaan yang lebih tangguh, baik secara ekonomi maupun ekologis," kata Ilman.

Transformasi yang berlangsung di Kampung Pegat Batumbuk dan Kampung Suaran menjadi saksi bahwa dengan bekal pengetahuan yang akurat serta tekad untuk berbenah, kemakmuran dapat diraih tanpa perlu menghancurkan alam.

Sistem ini pun memicu diversifikasi hasil produksi.

Bukan cuma udang, petambak ikut memanen ikan bandeng dan kepiting bakau, sehingga keran pendapatan mereka menjadi lebih bervariasi.

Kisah dari Berau ini menyerahkan wejangan bernilai tinggi bahwa lingkungan bukanlah musuh dalam proses mengais rezeki.

Kebalikannya, alam ialah rekan yang wajib dipelihara.

Tatkala diurusi dengan penuh kearifan, alam akan menyuguhkan hasil yang meluap dan konstan.

Di tengah bentangan pantai yang asri dan perairan yang bening, masa depan sektor perikanan Berau saat ini tampak lebih gemilang, berimbang, awet, dan dipenuhi harapan.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati