Sempat Tertahan Perang, Kapal PIS Akhirnya Keluar Selat Hormuz
JAKARTA - Kapal tangker kepunyaan PT Pertamina International Shipping (PIS), Gamsunoro, telah berhasil melewati kawasan Selat Hormuz pada hari Rabu (24/6) sekitar jam 20.00 WIB.
Rute perjalanan armada Gamsunoro sempat mengalami kendala dan terhenti akibat pecahnya konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran pada akhir Februari yang lalu.
Dampak dari kecamuk perang tersebut membuat jalur perairan Selat Hormuz sempat ditutup total bagi aktivitas pelayaran.
Kapal tanker ini terjebak dan tidak bisa melanjutkan pelayaran sejak periode awal Maret 2026 yang lalu.
Pihak pemerintah menegaskan bahwa upaya diplomasi dan proses negosiasi terus diupayakan tidak lama setelah kapal tersebut dilaporkan tertahan di sana.
"Itu masih dalam negosiasi kok. InsyaAllah sebentar lagi, doain ya, sebentar lagi selesai," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, 10 Maret 2026 silam.
Sesudah melewati masa penantian selama berbulan-bulan, titik terang serta kabar gembira akhirnya datang juga.
Akses perairan Selat Hormuz kembali dibuka sejalan dengan tercapainya kesepakatan gencatan senjata serta perdamaian antara pihak AS dan Iran.
Armada Gamsunoro pada akhirnya sukses mengarungi titik krusial di Selat Hormuz berkat sinergi serta koordinasi yang mendalam antara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI bersama Kedutaan Besar RI yang berada di Iran.
Gamsunoro dilaporkan sudah mengarungi jalur pelayaran selama kurun waktu 16 jam dari wilayah Teluk Arab pada hari Rabu pukul 01.06 waktu Dubai.
Kapal tanker tersebut melaju membelah lautan dengan tingkat kecepatan sebesar 7,5 knot dan sampai di kawasan mulut Selat Hormuz kisaran pukul 13.00 waktu setempat.
Kurang lebih empat jam berselang, Gamsunoro secara resmi dinyatakan sukses mengarungi Selat Hormuz dan telah memasuki area yang aman.
Agenda keberangkatan armada Gamsunoro ini sebetulnya sudah melewati serangkaian kalkulasi dan analisis yang sangat mendalam selama sebulan belakangan.
"Pemilihan waktu dan rute melintasi Selat Hormuz telah melalui pembahasan dan penilaian risiko yang sangat ketat," ujar Pjs. Corporate Secretary PIS, Vega Pita, dalam keterangan persnya, Kamis (25/6/2026).
Vega mengonfirmasi bahwa internal PIS sudah merumuskan puluhan poin kualifikasi yang wajib dipenuhi dan diselesaikan oleh pihak kapal terlebih dahulu.
Kriteria yang ketat tersebut meliputi jaminan perlindungan asuransi, pemenuhan aspek teknis beserta operasional, faktor keamanan, hingga tingkat kesiapsiagaan dari seluruh kru kapal.
"Kami mencatat puluhan persyaratan yang harus dipenuhi kapal, mulai dari asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru, sehingga diputuskan kapal dapat mulai bergerak dari Teluk Arab," jelasnya.
Dia mengimbuhkan bahwa jajaran manajemen PIS mengawasi secara penuh pergerakan armada Gamsunoro sepanjang rute pelayaran berlangsung.
Para kru kapal yang bertugas di lautan senantiasa menjalin kontak dengan tim darat yang berjaga di posko crisis center PIS demi menjamin aspek keselamatan armada.
Pihak korporasi juga terus menjalin komunikasi dengan bermacam elemen pemangku kepentingan serta otoritas berwenang guna mengamati dinamika situasi secara langsung.
PIS pun berkomitmen untuk senantiasa memastikan bahwa tiap laju operasional dijalankan dengan penuh kewaspadaan serta kehati-hatian.
Sementara itu untuk armada milik PIS lainnya yang terpantau masih berada di wilayah Teluk Arab, yakni VLCC Pertamina Pride, waktu ini tengah memasuki fase pematangan persiapan sebelum berlayar.
Proses persiapan ini dilaksanakan guna memastikan jaminan aspek keamanan, dinamika arus lalu lintas laut, tingkat kepadatan, potensi bahaya lain, serta menyelaraskan dengan panduan internasional.
"Kami juga memohon dukungan dan doa bagi kapal VLCC Pertamina Pride agar dapat segera melintasi Selat Hormuz dengan aman," tutupnya.