Dampak Campur Pertalite-Pertamax Turbo Menurut Pakar BRIN

Ilustrasi berbagai jenis BBM (FOTO: NET)
Rabu, 08 Juli 2026 | 18:23:01 WIB

JAKARTA - Aksi mencampur bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite dengan Pertamax Turbo belakangan ini sedang ramai diulas oleh warganet.

Siasat ini diklaim sanggup menciptakan bahan bakar dengan angka oktan (RON) 92, setara Pertamax, sekaligus membikin pemakaian BBM lebih irit dan murah.

Dalam asersi yang beredar, kombinasi tersebut diracik dengan menyatukan 3 liter Pertalite (RON 90) dan 1 liter Pertamax Turbo (RON 98).

Banyak pengendara percaya perbandingan tersebut sanggup membuahkan BBM beroktan lebih tinggi tanpa kudu menebus Pertamax secara penuh.

Kepala Organisasi Riset Energi dan Manufaktur BRIN, Cuk Supriyadi Ali Nandar menerangkan bahwa persepsi mengoplos Pertalite dengan Pertamax Turbo dapat menghasilkan bahan bakar beroktan RON 92 sekaligus membikin pemakaian BBM lebih hemat tidak seutuhnya tepat.

"Bensin pada dasarnya terdiri atas dua komponen utama, yaitu base fuel dan aditif," kata Supriyadi kepada Kompas.com, Minggu (5/7/2026).

"Perbedaan setiap produk tidak hanya terletak pada nilai RON, tetapi juga pada formula aditif yang digunakan. Formula ini merupakan rahasia dagang masing-masing produsen," tambahnya.

Supriyadi menjabarkan bahwa secara teoritis nilai RON hasil kombinasi memang bisa diestimasi, akan tetapi hasil itu tidak dapat dipastikan presisi tanpa pengetesan mesin Cooperative Fuel Research (CFR).

Menurut pandangannya, interaksi antarunsur dalam bensin dapat memicu dampak sinergis maupun antagonis, sehingga nilai RON kombinasi tidak melulu persis dengan kalkulasi sederhana.

"Perhitungan hanya berguna sebagai estimasi awal. Nilai RON yang sebenarnya hanya dapat dipastikan melalui pengujian menggunakan mesin CFR," kata Supriyadi.

Kendati dari sudut pandang kimiawi pencampuran base fuel terhitung aman dan tidak memicu efek berbahaya, aspek yang kudu dicermati ialah divergensi formula aditif.

"Potensi ketidakcocokan aditif dari produk yang berbeda merupakan risiko yang tidak bisa diprediksi tanpa pengujian laboratorium karena komposisinya merupakan rahasia dagang masing-masing produsen," jelas Supriyadi.

Pencampuran aditif yang berlainan berpotensi mendegradasi efektivitas zat pembersih, memicu residu pada sistem pembakaran, hingga memicu penimbunan kerak karbon pada piston serta klep.

Di samping itu, pergeseran karakteristik bahan bakar dapat membikin pembakaran tidak prima sehingga kinerja mesin berpotensi merosot.

"Untuk menjaga performa dan keawetan mesin, menggunakan satu jenis bahan bakar yang sesuai dengan rasio kompresi mesin secara konsisten merupakan pilihan terbaik," papar Supriyadi.

"Pencampuran berada pada zona abu-abu yang memiliki risiko, sehingga pengguna perlu memahami konsekuensinya," tambahnya.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati