Matt Freese: Penjaga Gawang AS dan Alumnus Harvard Pertama di PD

FIFA World Cup 2026 United States vs Belgium. Matt Freese of the U.S.(FOTO:NET)
Rabu, 08 Juli 2026 | 19:06:01 WIB

JAKARTA - Skuad Amerika Serikat baru saja ditumbangkan oleh Belgia pada fase 16 besar Piala Dunia 2026.

Penjaga gawang utama tim AS, Matt Freese, menjadi sorotan masyarakat setelah membikin kekeliruan fatal.

Matthew Freese sendiri ialah pesepak bola berusia 27 tahun yang kini membela tim New York City FC.

Dengan postur tubuh tinggi yang mencapai lebih dari 1,9 meter, ia tercatat telah berhasil mencatatkan penyelamatan sebanyak delapan kali sepanjang turnamen besar tersebut.

Meski begitu, di balik performanya di atas lapangan, sang kiper ternyata mempunyai latar belakang akademis yang mengagumkan sebagai alumnus universitas elite Ivy League.

Pada fase awal merintis karier di ranah sepak bola, ia mengasah talentanya bersama akademi Philadelphia Union.

Walaupun mencurahkan atensinya pada bidang olahraga si kulit bundar, ia tetap menyelesaikan pendidikan tinggi di jurusan ekonomi di Universitas Harvard.

Sepanjang masa studinya, ia aktif ikut serta membela tim sepak bola kampus dalam bermacam kompetisi antardanau universitas.

Berikutnya pada tahun 2019, Freese secara resmi diikat kontrak oleh klub Major League Soccer (MLS), Philadelphia Union.

Kendati sudah berstatus sebagai olahragawan profesional, ia berkomitmen menuntaskan pendidikannya hingga berhasil meraih gelar sarjana dari Harvard pada tahun 2022.

Lewat capaian akademis tersebut, Freese mencatatkan sejarah sebagai lulusan Harvard pertama yang sanggup berlaga dalam kompetisi resmi Piala Dunia, seperti yang diumumkan dalam laman resmi FIFA.

Ayah dari Matt Freese, yaitu Andrew Freese, dahulunya bekerja selaku seorang spesialis bedah saraf ternama sekaligus pelopor metode terapi gen yang memimpin divisi bedah saraf.

Ia tercatat sempat mengemban tugas selaku direktur medis bidang neurologi di Rumah Sakit Brandywine.

Andrew berhasil menyabet gelar doktor (PhD) dalam bidang ilmu neurobiologi dari Massachusetts Institute of Technology (MIT).

Ia menempuh masa bimbingannya di bawah arahan penemu vaksin Moderna serta mengimplementasikan riset mutakhir berkaitan dengan teknologi mRNA, jauh sebelum terobosan medis itu diaplikasikan selaku basis utama pembuatan vaksin COVID-19.

Andrew mengembuskan napas terakhirnya pada tahun 2021 di usia 61 tahun lantaran menderita komplikasi gagal ginjal.

Ibu dari Matt Freese, Marcia Geary Wolicki, mempunyai gelar magister (MBA) di bidang manajemen pelayanan kesehatan.

Ia mendidik keempat anaknya seorang diri pasca-perceraian dengan Andrew sewaktu Matt masih berumur delapan tahun.

Berdasarkan rilis dari media Town and Country, Marcia merupakan sosok krusial yang selalu setia mengantarkan Matt menuju sekolah menengahnya demi mengikuti agenda latihan pagi serta pertandingan tandang.

Kakek dan nenek Matt dari garis keturunan sang ayah, Ernst dan Elisabeth Freese, merupakan ilmuwan asal Jerman yang bermigrasi ke AS seusai Perang Dunia II dan membaktikan karier mereka di National Institutes of Health.

Ernst populer selaku pakar biologi molekuler ternama yang meneliti perihal mutasi DNA, hubungan zat kimia terhadap kanker, sampai akar penyebab dari penyakit Parkinson serta Alzheimer.

"Dia menemukan bagaimana mutasi gen bekerja," kata Katherine Freese, bibi Matt Freese, kepada NBC News, dikutip Selasa (7/7/2026).

Katherine sendiri ikut meniti rute karier yang serupa sebagai seorang akademisi.

Ia bekerja selaku astrofisikawan yang aktif mengajar di Universitas Texas sekaligus menjadi salah satu pakar terkemuka yang meneliti materi gelap (dark matter).

Sementara dari silsilah ibundanya, Matt Freese mewarisi bakat atletis dari sang kakek, Jack Geary, yang sempat dikontrak oleh tim New York Bulldogs dalam kompetisi National Football League (NFL), sebuah klub berumur pendek yang cuma berkompetisi selama satu musim penuh pada tahun 1949.

Sangat disayangkan, faktor cedera pada bagian bahu mengakhiri perjalanan pramusim Geary secara dini.

Meskipun demikian, Matt memilih untuk mengenakan nomor punggung 49 di NYC FC demi menyajikan penghormatan mendalam bagi kakeknya.

Geary sendiri juga dipahami mempunyai latar belakang rekam jejak pekerjaan sebagai seorang penerbang Angkatan Udara.

Matt Freese menempati posisi sebagai anak paling kecil dari empat bersaudara.

Segenap anak dalam keluarga tersebut lahir dalam rentang waktu yang berdekatan selama periode enam tahun.

Kakak laki-laki tertuanya, Jack, tercatat pernah masuk dalam keanggotaan tim dayung kelas berat di Universitas Harvard.

Berikutnya Tim, yang umurnya terpaut tiga tahun lebih tua di atas Matt, juga menuntaskan studi sarjananya di Harvard untuk kemudian melanjutkan ke strata magister di Universitas Cambridge.

Kakak perempuannya, Lyssa, berhasil meraih gelar doktor (PhD) dari MIT mengekor jejak pendidikan mendiang ayah mereka.

Lyssa sekarang bekerja sebagai asisten profesor dalam bidang ilmu sistem bumi di Universitas California.

Matt pun mempraktikkan hasil pembelajarannya selama kuliah dengan sangat maksimal.

Di masa studinya, ia membuat sebuah karya kajian ilmiah yang sangat komprehensif mengenai eksekusi tendangan penalti.

Saat ia beralih ke jenjang karier sepak bola profesional, terbukti bahwa kelebihan utamanya selaku penjaga gawang bersandar pada aspek pola pikir, yakni bagaimana ia memandang peran posisi tersebut lewat metodologi yang serealistis pendekatan ilmiah.

"I think people usually, mistakenly, think that it's a position where you're a shot-stopper," kata Freese, dikutip dari NBC News. "What you're trying to do is prevent goals. Whether that's proactively, good positioning, good communication, understanding of the game, reading the game," lanjutnya.

Lewat sudut pandangnya, seorang penjaga gawang diharuskan senantiasa melakukan pengamatan komprehensif terhadap situasi lapangan, menganalisis dari wilayah mana potensi ancaman akan datang, serta menempatkan posisi diri secara ideal.

"A lot of goalkeeping is maximizing the surface area of the goal that you can cover at any given point," jelasnya.

Sistem berpikir analitis yang dipraktikkan oleh Freese diwarisi langsung dari ayahnya yang terampil dalam merampungkan beragam masalah rumit.

"It's a logical, analytical mind," kata Katherine. "It's a way of looking at the world. Putting things together, seeing things that other people don't see," imbuhnya.

Artinya, dalam rumpun ilmu matematika dan fisika, seseorang dituntut untuk selalu kreatif.

Terdapat bermacam rumus matematika yang tersedia, namun seseorang tidak boleh semata-mata terpaku kaku pada formula baku tersebut.

Dalam matematika, seseorang diwajibkan berpikir kreatif dan mengandalkan logika: bagaimana seandainya kami memadukan unsur A dan unsur B? Dampak apa yang akan dimunculkan?

"Anda menyatukan berbagai hal dengan cara yang belum pernah dilihat orang sebelumnya. Kami memiliki kemampuan itu. Kami bisa melihat berbagai hal," terang Katherine.

Reporter: Ganis Akjul Karyawati