Breaking

Tekan Salah Sasaran, Bansos 2026 Pakai Sistem Pengenalan Wajah

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Senin, 15 Juni 2026
Tekan Salah Sasaran, Bansos 2026 Pakai Sistem Pengenalan Wajah
Menteri Sosial (Mensos), Saifullah Yusuf.(FOTO:NET)

JAKARTA - Pihak pemerintah merancang agenda untuk mengaplikasikan sistem digitalisasi bantuan sosial sebagai bagian dari pelaksanaan program GovTech pada periode tahun 2026 ini.

Agenda uji coba dari program baru ini telah dijadwalkan bakal dilangsungkan di wilayah Banyuwangi pada bulan September mendatang.

"Kalau itu semua berjalan baik 2026 akan kita launching secara nasional. Jadi betul-betul bertahap tindak lanjut dan kemudian sambil melihat kekurangan di sana sini," kata Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus Ketua Komite Reformasi Digital, Luhut Binsar Pandjaitan.

Melalui optimalisasi program GovTech, Luhut memberikan penjabaran bahwa proses penyaluran dana bansos ke depannya diproyeksikan bakal menjadi jauh lebih tepat sasaran.

Siklus proses pendataan ulang serta pengaplikasian data biometrik bakal diterapkan secara ketat demi melacak identitas dari para penerima manfaat secara jauh lebih akurat.

"Jadi akan dilakukan pendataan ulang lagi, face recognition atau biometeric, dengan begitu kesalahan untuk target bansos maupun transfer cash itu sangat kecil," katanya.

Dalam tahapan uji coba yang dilaksanakan nanti, langkah pendongkrakan akurasi target sasaran bansos berbasis DTSEN bakal mulai digulirkan.

Langkah strategis ini juga melibatkan variabel interoperabilitas dari beraneka data pendukung lainnya, seperti halnya data sektor kesehatan, bidang ketenagakerjaan, hingga status kepemilikan aset.

Masyarakat yang dinilai berhak mengantongi bantuan nantinya bakal diarahkan untuk melakukan registrasi lewat portal khusus atau dilewatkan melalui proses pendampingan.

Melalui pengoperasian sistem tersebut, mereka bakal memperoleh kepastian hasil pengajuan beserta rincian alasan kelayakannya secara gamblang.

Agenda uji coba ini diharapkan mempunyai kapabilitas untuk memotivasi wilayah-wilayah lain agar ikut mendaftarkan diri sebagai lokasi penerapan transformasi digital pada lingkaran kasus penggunaan prioritas, khususnya yang menyangkut urusan perlindungan sosial.

Pada momen kesempatan sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf memberikan keterangan bahwa besaran potensi penghematan dana anggaran negara diklaim sanggup menyentuh angka Rp 14 triliun per tahunnya di saat program bansos digital ini resmi beroperasi.

Gus Ipul pun mengimbuhkan bahwa kehadiran dari sistem digital ini menjadi garansi penyaluran bansos bertransformasi menjadi jauh lebih presisi serta transparan.

"Dengan sistem digital, penyaluran bansos akan lebih akurat, transparan, dan akuntabel. Uang negara bisa diselamatkan dan benar-benar sampai kepada masyarakat yang berhak," kata Gus Ipul.

Program bantuan sosial ini ke depannya bakal disatukan secara terpadu lewat perantara Portal Perlindungan Sosial Nasional.

Platform berbasis digital tersebut memegang fungsi penuh selaku wadah sentral pendaftaran sekaligus tempat proses verifikasi data para penerima bansos.

Masyarakat juga diberikan keleluasaan akses untuk mendaftarkan identitas diri sendiri ataupun orang lain selaku calon penerima bansos dengan memanfaatkan Identitas Kependudukan Digital (IKD).

Bagi kalangan warga yang kedapatan belum mempunyai perangkat telepon seluler, proses pendaftaran dipastikan tetap bisa dilangsungkan lewat bantuan dari petugas pendamping PKH.

Petugas pendamping di lapangan tersebut yang nantinya bakal menyokong jalannya proses perekaman data biometrik dari warga yang bersangkutan.

Sistem digital ini bakal secara langsung mengeksekusi proses verifikasi secara otomatis di saat aktivitas pendaftaran dilangsungkan.

Pasca-tahapan tersebut rampung dikerjakan, sistem bakal mengunggah status akhir yang memperlihatkan apakah warga yang bersangkutan masuk kategori layak atau tidak demi memperoleh bantuan sosial.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua