Breaking

ART WNI Dianiaya di Malaysia, Menteri P2MI Pastikan Kawal Kasus

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Senin, 15 Juni 2026
ART WNI Dianiaya di Malaysia, Menteri P2MI Pastikan Kawal Kasus
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Mukhtarudin.(FOTO:NET)

JAKARTA - Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KP2MI) Mukhtarudin turun tangan mengawal langsung proses hukum penanganan kasus Tenaga Kerja Wanita (TKW) berinisial YY yang menjadi korban penganiayaan oleh pihak majikan di Malaysia.

Mukhtarudin menyampaikan bahwa sosok YY saat ini sudah berhasil dievakuasi dan ditempatkan pada sebuah fasilitas tempat tinggal sementara.

Mukhtarudin memaparkan bahwa terbongkarnya kasus ini bermula pasca-adanya aduan laporan dari YY yang masuk menuju ke pihak KJRI Johor.

YY kala itu memberikan kesaksian bahwa dirinya bersama dengan dua orang WNI lainnya, yakni YA dan SH, mendapatkan tindakan kekerasan fisik sewaktu mengabdi sebagai ART di wilayah Johor Bahru.

"Based on information from the Indonesian Representation in Johor Bahru, this case was uncovered after an Indonesian migrant worker with the initials YY reported allegations of physical violence she experienced to the KSATRIA service of the Johor Bahru Consulate General on June 13, 2026. In her report, YY also stated that two other Indonesian migrant workers, namely YA and SH, allegedly experienced similar treatment while working as domestic workers in Johor Bahru," kata Mukhtarudin kepada wartawan, Senin (15/6/2026).

Merujuk pada isi laporan yang dilayangkan oleh YY, para ART tersebut mengalami rentetan aksi kekerasan sewaktu bekerja pada kurun waktu akhir tahun 2025 hingga bulan Januari 2026.

Para pekerja domestik itu, tuturnya, kemudian ditinggalkan begitu saja oleh pihak pemberi kerja setelah rentetan insiden pemukulan tersebut berlangsung.

"Based on the information received, the Indonesian migrant workers frequently experienced violent treatment while working. One of the beating incidents was reported to have occurred from late 2025 to January 2026. After the incident, the victims were left by the employer in the Kampung Melayu Majidee area, Johor," kata Mukhtarudin.

Mukhtarudin menyebutkan bahwa ketiga WNI tersebut terdata melakoni pekerjaan di Malaysia lewat jalur nonprosedural serta tidak mengantongi dokumen izin kerja yang legal.

Salah satu dari korban, lanjut Mukhtarudin, pada akhirnya memantapkan diri untuk melayangkan permohonan bantuan ke pihak perwakilan RI.

"The three Indonesian migrant workers were known to have worked in Malaysia non-procedurally and did not possess valid work permits. Their passports were also still held by the employer, making the victims feel afraid to report the events they experienced to the authorities. However, because we still felt that their safety was threatened, one of the victims finally decided to request assistance from the Indonesian Representation," ujarnya.

Mukhtarudin membeberkan fakta bahwa saat ini sudah ada empat orang yang berhasil diringkus oleh petugas berwenang berkaitan dengan pusaran kasus ini.

Untuk sekarang ini, dua orang WNI yang menjadi korban penganiayaan tersebut sudah diamankan di dalam fasilitas tempat tinggal sementara.

"Based on information received from local authorities, the Johor Bahru District Police Headquarters (IPD Larkin) has secured four individuals allegedly connected to the case for the purpose of further investigation," katanya.

"Currently, two victims are under the protection of the Johor Bahru Consulate General and have been placed in Temporary Housing (TTS) to receive further assistance," lanjutnya.

Pada sisi lain, tutur Mukhtarudin, agenda penjemputan buat satu orang korban lainnya yang posisinya terdeteksi berada di Kuala Lumpur juga terus diupayakan secara maksimal.

Pihak perwakilan RI dipastikan bakal memfasilitasi jalannya proses pelaporan resmi kepada kepolisian setempat sekaligus memberikan pendampingan hukum yang diperlukan.

"KP2MI appreciates the swift steps taken by the Ministry of Foreign Affairs, the Johor Bahru Consulate General, and the Indonesian Embassy in Kuala Lumpur in providing protection to the victims. KP2MI will continue to monitor the development of this case and ensure that all victims receive the necessary assistance and protection until the handling process is completed," ujar Mukhtarudin.

Sosok YY dilaporkan mendapat tindakan penganiayaan secara keji dari pihak majikannya selama berada di Malaysia.

Aparat kepolisian Malaysia bergerak cepat dengan mengamankan empat orang pelaku yang terlibat menganiaya YY.

Melirik tayangan video yang beredar luas sebagaimana sempat dipantau detikcom, Minggu (14/6), memperlihatkan seorang wanita yang tengah duduk di atas sofa dipukuli secara membabi buta oleh seorang pria yang mengenakan kaus biru.

Wanita malang tersebut tampak mengerang menahan rasa kesakitan dan sama sekali tidak melayangkan perlawanan.

Pada potongan adegan berikutnya, tampak seorang wanita lain ikut memukuli bagian area kepala korban.

Sementara itu, terdapat wanita lainnya yang bertugas mengabadikan aksi kekerasan tersebut lewat rekaman video.

Bukan cuma dipukuli, korban juga kedapatan dijambak rambutnya secara kasar.

Para pelaku berulang kali mengarahkan hantaman yang menyasar langsung ke bagian kepala korban.

Direktur PWNI, Heni Hamidah, turut membuka suara memberikan pernyataan resmi menyangkut viralnya kasus penganiayaan tersebut.

Heni membenarkan bahwa sosok wanita yang menjadi korban penganiayaan di dalam video itu merupakan seorang warga negara Indonesia yang tengah mencari nafkah di Malaysia.

"Kementerian Luar Negeri, KJRI Johor Bahru, dan KBRI Kuala Lumpur saat ini tengah memberikan pendampingan kepada seorang WNI dengan inisial YY yang melaporkan dugaan tindak penganiayaan yang dilakukan oleh pemberi kerja beserta seorang rekannya di Malaysia," ujar Direktur PWNI, Heni Hamidah, kepada wartawan.

Aduan laporan tersebut resmi diterima oleh pihak KJRI Johor Bahru lewat pemanfaatan aplikasi Ksatria pada tanggal 13 Juni 2026.

Pihak KJRI Johor Bahru pun langsung bergerak membangun koordinasi intensif dengan aparat kepolisian setempat supaya kasus kekerasan ini dapat secepatnya diusut tuntas.

"On the evening of the 13th (of June), local police were reported to have secured four individuals suspected of being involved in the incident, consisting of 2 women and two men. The four have undergone initial examinations, and the investigation process will still continue," tutur Heni.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua