Breaking

Fakta Baru Taufik Hidayat: Riwayat Kekerasan & Rusak Keluarga

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Kamis, 25 Juni 2026
Fakta Baru Taufik Hidayat: Riwayat Kekerasan & Rusak Keluarga
Petugas menggiring tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat Taufik Hidayat. (FOTO:NET)

BANDUNG - Perkara penganiayaan yang dilakukan oleh Taufik Hidayat (30) kepada pacarnya di Bandung semakin menyingkap jajaran fakta anyar yang membikin tercengang.

Di samping rekam jejak aksi kekerasan yang sangat panjang, terkuak pula sebuah fakta bahwa ibu kandung dari tersangka mengembuskan napas terakhirnya akibat didera stres serta depresi yang ditengarai dipicu oleh aksi tabiat putranya tersebut.

Rentetan peristiwa ini mengundang perhatian publik yang sangat besar sebab bukan melulu mengenai pelanggaran tindak pidana semata, melainkan turut merefleksikan potret situasi sosial dan problematika keluarga yang melingkari aksi keji tersangka.

Kepala Desa Ciaro, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Kusnaedi, lewat siaran di kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel pada Rabu (24/6/2026), membeberkan bahwa ibu kandung Taufik menderita tekanan psikologis yang sangat berat karena perangai anak-anaknya.

Ia menuturkan jika sang ibu mengalami stres berkepanjangan hingga depresi berat sebelum akhirnya berpulang.

Gangguan kondisi mental itu bahkan sempat membuatnya kerap berjalan kaki tanpa tujuan yang jelas serta mengasingkan diri dari pergaulan masyarakat di sekitarnya.

"Ibunya stres, setahun ampleung-ampleungan (jalan kaki ke sana ke mari)," kata Kusnaedi dikutip dari TribunnewsBogor.

Menurut keterangannya, sang ibu kala itu juga sempat enggan ketika hendak dibawa untuk memeriksakan kondisi kesehatannya dan lebih memilih mengurung diri di kediamannya tanpa bersedia berkomunikasi.

"Istrinya gak mau dibawa diperiksa, di rumah diem, gak ngomong, lalu ada kesempatan keluar, jalan terus," ujarnya.

Kusnaedi menguraikan bahwa Taufik semenjak masa kanak-kanak memang sudah dikenal mempunyai perilaku yang menyimpang.

Ia menginformasikan kalau tersangka telah mengonsumsi obat-obatan terlarang sejak usianya masih sangat belia dan memiliki watak yang sangat agresif.

"Waktu kecil pas ngaji juga minum obat (obat-obatan terlarang). Udah gede gak ada yang mau temenan, pada takut, orangnya brutal, udah kelihatan dari kecilnya juga," katanya.

Bukan cuma itu saja, Taufik terbukti pernah tersandung persoalan hukum pidana sebelumnya, meliputi aksi penganiayaan serta kasus penggelapan kendaraan roda dua.

Tersangka bahkan sempat mendekam di balik jeruji besi guna menjalani masa hukuman selama 1,5 tahun.

"Pernah ditahan kasus penganiayaan dan penggelapan motor, saya yang ngurusin. Motor orang Garut. Pernah ditahan di Polres Rancaekek, divonis 1,5 tahun dipenjara," jelas Kusnaedi.

Berdasarkan analisisnya, salah satu elemen dominan yang ikut membentuk watak keras tersangka yaitu pola pengasuhan di internal keluarga, yang mana Taufik kerap kali dibela oleh sang ayah tiap kali terlibat perselisihan dengan orang luar.

"Kalau ribut sama tetangga suka dibela ayahnya, jadi kesayangan," tambahnya.

Kusnaedi juga membongkar fakta bahwa rekam jejak perilaku bermasalah tersebut bukan melulu melekat pada diri Taufik, melainkan terjadi pula pada saudara-saudaranya yang lain.

Kemelut ini kian memperparah beban psikologis yang mesti ditanggung oleh mendiang ibunya.

Ia menjabarkan bahwa kakak laki-laki dari Taufik dikenal kerap memicu keributan di lingkungan tempat tinggal, memiliki kendala dalam pekerjaan, hingga tercatat sudah beberapa kali mengalami kegagalan rumah tangga.

"Yang kedua suka mabok, kerja juga dipecat. Punya istri sudah dua kali cerai, anak satu, sering ancam orang berkelahi," katanya.

Di sisi lain, adik paling bungsu dari Taufik telah meninggal dunia yang disebabkan oleh peristiwa overdosis zat adiktif.

"Yang bungsu meninggal karena over dosis, minum obat-obatan sampai meninggal dunia," ungkapnya.

Rangkaian kondisi keluarga yang sarat akan problematika tersebut ditengarai menjadi hulu utama yang memicu tekanan mental yang sangat dahsyat bagi sang ibu.

Di samping kasus penganiayaan berat terhadap pacarnya, Taufik teridentifikasi pernah pula mengarahkan aksi kekerasan fisik kepada ayah kandungnya sendiri.

Hal mengerikan ini dibongkar secara langsung oleh sang ayah yang bernama Tata.

Ia mengisahkan bahwa bagian kepalanya pernah dihantam menggunakan sebilah kayu oleh Taufik hanya dipicu oleh perkara yang sangat sepele.

"Saya pernah dipukul kepala pakai kayu. Waktu itu saya lagi macul di sawah, dia di rumah lagi nganggur, mau makan gak ada apa-apa," tuturnya.

Insiden pemukulan tersebut berlangsung ketika sang ayah tengah memeras keringat di area persawahan.

Taufik sekonyong-konyong menghampirinya di lokasi tersebut dan langsung melayangkan pukulan keras hingga membuat korban tersungkur.

"Dia datang ke sawah, langsung mukul, ngagebru (jatuh). Untung saya ada temen dua, mau mukul lagi dihalangin," ucapnya.

Selesai melancarkan aksi pemukulan itu, Taufik sempat kabur dari rumah dan tidak menampakkan batang hidungnya selama beberapa hari sebelum pada akhirnya memutuskan pulang untuk memohon maaf.

Usai mempraktikkan aksi penyekapan disertai penganiayaan keji kepada YTR dalam kurun waktu kurang lebih dua tahun, Taufik akhirnya berhasil diringkus oleh jajaran aparat kepolisian pada Selasa (24/6/2026).

Saat ini, tersangka sedang mendekam di tahanan guna menjalani rangkaian proses pemeriksaan intensif demi mempertanggungjawabkan seluruh perbuatannya di hadapan hukum yang berlaku.

Perkara hukum ini terus menyedot atensi masyarakat luas lantaran mempertontonkan adanya siklus tindakan kekerasan yang berulang, baik yang menyasar lingkungan keluarga inti maupun orang lain di luar rumah.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua