Breaking

Alasan Waktu dan Kenyamanan Bikin Warga Jakarta Setia Macet-macetan

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Jumat, 26 Juni 2026
Alasan Waktu dan Kenyamanan Bikin Warga Jakarta Setia Macet-macetan
Situasi lalu lintas di Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan.(FOTO:NET)

JAKARTA - Kebisingan suara klakson dari kendaraan milik pribadi selalu memenuhi wilayah pusat Kota Jakarta setiap pagi dan sore.

Pemandangan berupa kemacetan lalu lintas yang padat masih terus terjadi setiap hari, padahal angkutan umum yang beroperasi di jalur yang sama sering kali terlihat sepi penumpang.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta sebenarnya terus mempercepat pembangunan fasilitas angkutan umum untuk mengatasi macet dan mempermudah mobilitas masyarakat.

Bahkan, tingkat integrasi angkutan umum di Jakarta dan kota-kota sekitarnya diklaim sudah mencapai angka 93 persen.

Melihat fasilitas yang sangat memadai ini, masyarakat seharusnya bisa bepergian dengan praktis tanpa harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi.

Meski begitu, sebagian besar warga Jakarta nyatanya tetap memilih untuk mengendarai kendaraan pribadi, terutama sepeda motor.

Contohnya adalah Krisna (24), seorang pekerja swasta yang setiap hari menggunakan sepeda motor Honda Beat untuk pergi bekerja.

Ia harus menempuh perjalanan sejauh 45 kilometer dari rumahnya di kawasan Tangerang menuju tempat kerjanya di Jakarta Utara.

Krisna mengaku sebenarnya ada keinginan untuk beralih ke angkutan umum, tetapi beberapa faktor pertimbangan membuatnya membatalkan niat tersebut.

"Karena sebenarnya saya ingin naik transportasi umum, cuma karena pekerjaan membutuhkan mobilitas tinggi dan jarak dari tempat kerja ke rumah lumayan jauh, jadi saya lebih memilih naik motor," tutur dia saat ditemui Kompas.com di kawasan Jakarta Utara, Kamis (25/6/2026).

Krisna sangat paham bahwa konsekuensi memakai kendaraan pribadi adalah risiko terjebak dalam kemacetan.

Namun, waktu tempuh yang dihabiskan dinilai masih jauh lebih efisien dibandingkan jika ia memaksakan diri menggunakan angkutan umum.

Jika ia memilih naik bus Transjakarta atau KRL Commuter Line, waktu perjalanan bisa membengkak sampai dua jam karena harus berganti-ganti moda dari halte ke stasiun.

Sedangkan dengan sepeda motor, waktu tempuh hanya sekitar 1,5 jam walaupun ia harus berjuang menembus kemacetan yang padat.

Karena alasan rasional tersebut, ia memantapkan pilihan untuk tetap setia menggunakan kendaraan pribadi.

Pengendara lain bernama Romi (43) juga mengungkapkan hal yang sama dan mengaku lebih memilih lelah di jalan akibat macet daripada mengandalkan angkutan publik.

"Pilih kejebak macet sih, karena terlalu ribet kalau transit-transit enggak efisien waktunya," ucap dia saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis.

Romi menjelaskan, dengan mengendarai sepeda motor, perjalanan dari rumahnya di Tebet, Jakarta Selatan menuju Tanjung Priok, Jakarta Utara hanya memakan waktu sekitar 30 minut.

Sebaliknya, jika menggunakan KRL Commuter Line, ia harus melakukan transit dari Stasiun Manggarai ke Stasiun Jakarta Kota, baru kemudian melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tanjung Priok.

Sesampainya di stasiun tujuan, ia masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk naik ojek online atau angkutan JakLingko agar bisa sampai ke lokasi akhir, sehingga total waktu perjalanan bisa membengkak hingga 1 sampai 1,5 jam.

Sementara jika menggunakan bus Transjakarta, Romi harus melakukan transit di Halte Matraman sebelum berganti bus yang menuju ke arah Tanjung Priok.

Waktu perjalannya pun diperkirakan memakan waktu sekitar satu jam, itu pun dengan catatan jika armada bus datang tepat waktu sesuai jadwal operasional.

Alasan yang rumit ini yang membuatnya enggan beralih ke angkutan umum meskipun fasilitasnya sudah tersebar luas.

Pengendara lainnya, Putri (30), juga setuju bahwa dirinya lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi walaupun harus menghadapi kemacetan di jalan.

"Lebih baik sih kejebak kemacetan di kendaraan pribadi, kalau kerja biasanya motor, tapi kalau jalan-jalan, ya, mobil," ucap dia saat ditemui di kawasan Jakarta Pusat, Kamis.

Menurut pandangan Putri, menyetir kendaraan sendiri memberikan rasa nyaman yang jauh lebih besar daripada berada di dalam angkutan umum.

Ia bercerita bahwa sejak kecil memang jarang menggunakan angkutan publik sehingga tidak terbiasa dengan kondisi berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.

Meski begitu, sesekali Putri masih mau menggunakan layanan KRL Commuter Line karena waktu tempuhnya yang dinilai cepat dan bebas dari macet.

Selain itu, rute KRL yang luas dianggap sangat mempermudah akses untuk menjangkau berbagai daerah dengan tarif yang tergolong murah.

Namun, ia mengaku sudah belasan tahun tidak pernah lagi naik bus Transjakarta dan belum pernah sekalipun mencoba layanan kereta MRT ataupun LRT.

Di sisi lain, grafik tren jumlah penumpang KRL Commuter Line justru menunjukkan peningkatan yang konsisten dari tahun ke tahun.

Berdasarkan data dari PT Kereta Commuter Indonesia (KCI), total pengguna Commuter Line pada tahun 2023 lalu mencapai angka 331.894.721 orang.

Jumlah tersebut meningkat menjadi 374.484.307 penumpang pada periode tahun 2024, dan kembali naik tajam hingga menyentuh 400.997.610 pengguna pada tahun 2025.

"Hal ini menunjukkan bahwa Commuterline tetap menjadi moda andalan masyarakat perkotaan karena efisiensi waktu, biaya, dan kapasitas angkutnya," ujar Vice President (VP) Corporate Secretary KCI Karina Amanda dalam keterangan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Kamis.

Karina melanjutkan, faktor pendukung seperti first mile dan last mile memiliki peran yang sangat krusial dalam memengaruhi keputusan psikologis masyarakat untuk menggunakan transportasi umum atau tidak.

Kemudahan akses dari rumah menuju stasiun, serta dari stasiun menuju ke lokasi tujuan akhir, menjadi barometer utama yang menentukan kenyamanan selama perjalanan.

Oleh karena itu, layanan Commuter Line sebenarnya sangat membutuhkan dukungan dari armada transportasi lanjutan seperti bus feeder, ojek daring, serta penyediaan fasilitas yang layak bagi pejalan kaki dan pesepeda.

Seorang ahli tata kota lulusan Universitas Indonesia, M Azis Muslim, memberikan analisis bahwa kendaraan pribadi tetap menjadi pilihan utama warga karena didasari oleh pertimbangan yang logis, seperti masalah kenyamanan, keamanan, serta kepastian waktu tempuh.

"Saat ini, pengguna kendaraan pribadi masih mendapatkan banyak kemudahan. Mereka mempertimbangkan berbagai kelebihan dan kekurangan saat menggunakan transportasi umum," kata Azis saat dihubungi, Kamis.

Menurut pemikiran Azis, salah satu kendala terbesar adalah jarak dari rumah menuju ke halte atau stasiun yang sering kali memakan waktu serta menambah biaya perjalanan karena warga harus berjalan kaki jauh atau memesan ojek daring.

Bukan hanya itu, total waktu perjalanan otomatis bertambah karena penumpang harus berpindah-pindah moda transportasi, misalnya dari bus Transjakarta pindah ke KRL.

"Aspek keamanan dan kenyamanan juga menjadi pertimbangan penting. Tengoklah para pengguna KRL pada jam sibuk, sekitar pukul 06.00 WIB hingga 08.00 WIB. Rasanya sudah luar biasa, seperti harus 'mandi sauna' di dalam kereta," ucap Azis.

Setelah melewati situasi berdesakan tersebut, para penumpang masih harus menghabiskan energi lagi untuk berpindah moda transportasi yang melelahkan fisik dan menyita waktu.

Oleh sebab itu, menjadi hal yang wajar jika mayoritas warga Jakarta menganggap kendaraan pribadi jauh lebih praktis dan efisien meski harus berhadapan dengan kemacetan yang mengular.

Azis menilai perlunya ada intervensi kebijakan yang tegas dari pihak pemerintah agar masyarakat mau beralih menggunakan transportasi umum.

Pemerintah, lanjut dia, harus memprioritaskan pembangunan infrastruktur bagi pejalan kaki, memperbaiki trotoar, serta memastikan fasilitas peneduh saling terintegrasi hingga menjangkau halte dan stasiun.

"Trotoar harus nyaman, aman, tidak naik-turun, dan tidak berlubang. Selain itu, keberadaan pedagang kaki lima (PKL) juga harus ditata agar masyarakat bisa berjalan kaki dengan tenang," katanya.

Di sisi lain, jajaran pemerintah juga dituntut untuk memastikan ketersediaan armada angkutan lanjutan di sekitar stasiun dan halte agar masyarakat semakin mudah mencapai lokasi tujuan akhir mereka.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua