Breaking

Resmikan Program B50, Pemerintah Pangkas Ketergantungan Impor

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Jumat, 26 Juni 2026
Resmikan Program B50, Pemerintah Pangkas Ketergantungan Impor
Tangki penyimpanan B40, B50, dan B100 di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50 Lembang, Jawa Barat.(FOTO:NET)

JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan garansi bahwa Indonesia akan menghentikan kebijakan impor bahan bakar minyak (BBM) jenis solar pada tahun ini seiring dengan diterapkannya kewajiban mandatori biodiesel 50 persen (B50) mulai Juli 2026 mendatang.

“Besok Juli akan kami resmikan B50, itu menyelamatkan wajah Indonesia dari ketergantungan impor solar kami. Mulai tahun ini kami tidak lagi melakukan impor solar,” ungkap Bahlil di Jakarta, Kamis.

Ia menerangkan bahwa total volume konsumsi produk solar di dalam negeri saat ini tercatat telah menyentuh angka 39 juta kiloliter (KL), di mana situasi tersebut juga dibarengi dengan kebijakan mandatori biodiesel 40 persen (B40) yang sebelumnya sudah dioperasikan oleh pemerintah.

“Dari 39 juta kiloliter itu kemarin B40, itu 40 persen pakai FAME. FAME itu adalah dari CPO dengan metanol dicampur, jadilah FAME. Kemudian dicampur menjadi solar yang namanya B40,” jelasnya.

Lebih jauh lagi, Bahlil menyampaikan opini bahwa implementasi dari pemberlakuan program B50 ini dipercaya akan mampu menjaga stabilitas harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di tingkat petani domestik berbarengan dengan target pengurangan angka impor BBM.

“Harga petani sawit lagi turun untuk menjamin market agar petani sawit kami harganya bagus, maka dilakukanlah hilirisasi terhadap konsumsi domestik,” kata dia.

Selain itu, dirinya mengalkulasikan bahwa pemerintah akan sanggup memenuhi pasokan untuk kebutuhan di dalam negeri hingga menyentuh volume 300 ribu barel per hari saat regulasi mandatori B50 tersebut sudah resmi berjalan.

“Jadi dengan B50 ini, konsumsi kami kan 50 persen dari solar itu kurang lebih sekitar 300 ribu barel per day yang bisa kami cover,” jelas Bahlil.

“Jadi artinya impor solar, impor crude kami yang 1 juta barel per day itu tinggal sekitar 700 ribu barel per day, karena 300 ribu barelnya itu dikonversi dengan B50,” ujarnya menambahkan.

Sementara itu, proses pelaksanaan uji coba secara teknis untuk penerapan B50 di sektor industri otomotif tercatat sudah dimulai sejak tanggal 2 Desember 2025 lalu dan ditargetkan dapat selesai pada bulan Juni 2026 ini.

Bukan hanya menyasar sektor otomotif saja, pemerintah sampai saat ini terpantau masih melangsungkan serangkaian uji coba teknis pada komponen alat dan mesin pertanian (alsintan) beserta armada alat berat pertambangan yang diproyeksikan bisa tuntas pada paruh semester II tahun 2026.

Langkah pengujian teknis untuk pemakaian bahan bakar B50 ini juga dijalankan oleh pemerintah demi memenuhi kebutuhan sektor transportasi kereta api serta industri pembangkit tenaga listrik meskipun untuk saat ini proses pengujian tersebut dikabarkan belum sepenuhnya rampung.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua