Breaking

Dituding Dekat Tokoh PDIP, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Angkat Bicara

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Senin, 29 Juni 2026
Dituding Dekat Tokoh PDIP, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Angkat Bicara
Eks Ketua Bem UGM Tiyo Ardiyanto (FOTO: NET)

JOGJA - Mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, melayangkan tanggapan yang lugas dalam menyikapi tudingan aliansi BEM Bersatu yang mengaitkan dirinya dengan figur PDI Perjuangan.

Ia memandang pernyataan dari kelompok mahasiswa tersebut sama sekali tidak mempunyai kredibilitas untuk dipercaya.

Sebelumnya, BEM Bersatu lewat perwakilannya, Rahmat Djimbula, membeberkan indikasi adanya hubungan antara Tiyo dengan seorang purnawirawan TNI kala melangsungkan konferensi pers di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026).

"Salah satu pimpinan aksi, Tiyo Ardianto, diduga memiliki kedekatan dengan jaringan politik tertentu. Mobil Fortuner yang digunakannya diduga terdaftar atas nama Siti Nuraeni, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso, yang merupakan besan Jenderal TNI (Purn) Andhika Perkasa, tokoh tim pemenangan Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024. Dugaan ini diperkuat kehadiran politikus PDI Perjuangan, Andi Widjajanto, di tengah massa aksi," ujar Rahmat dalam konferensi pers di Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (16/6/2026), dilansir detikNews.

Rahmat mengimbuhkan bahwasanya kehadiran Tiyo dalam sebuah agenda dialog nasional bersama rentetan tokoh besar, termasuk Setyo Sularso, dinilai semakin menguatkan indikasi tersebut.

"Keterkaitan tersebut juga diperkuat oleh kehadiran Tiyo Ardianto dalam Dialog Nasional Kebangsaan di Bandung, 18 Juni 2026, bersama sejumlah tokoh seperti Said Didu, Roy Suryo, Refly Harun, dan dr Tifa. Dalam forum yang sama, Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso juga tercatat hadir, menunjukkan adanya jejaring yang patut dicermati," sebutnya.

Satu pekan setelahnya, Tiyo menyikapi tuduhan tersebut dengan memberikan pernyataan bahwasanya manuver itu sengaja diembuskan demi memecah fokus dirinya dari poin-poin isu yang tengah dikawalnya.

"Hari ini saya kira memang tuduhan itu dilakukan untuk menyibukkan saya. Jadi saya pribadi memilih fokus untuk pada hal-hal yang strategis dan hal-hal substantif," kata Tiyo saat ditemui di UGM, Kamis (25/6).

"Terkait kedekatan dengan pihak-pihak tertentu, saya kira orang bisa melakukan cocoklogi macam-macam lah. Saya tetap independen sebagai individu yang merdeka, yang ingin supaya kekuasaan hari ini berjalan dengan benar," sambungnya.

Menyikapi pertanyaan seputar tudingan pemakaian unit mobil pinjaman, Tiyo malahan mempertanyakan kembali integritas dari pihak yang melayangkan tuduhan tersebut.

Ia menganggap aliansi tersebut menyimpan masalah dan mempersilakan pihak penuduh untuk memvalidasi pernyataan klaim mereka.

"Saya kira lagi-lagi ya, pertanyaan saya kan satu, itu kan tudingan yang dilakukan oleh BEM Fakultas Bersatu. BEM Fakultas Bersatu itu aliansi yang saya sendiri baru tahu. Setelah saya lihat beberapa organisasi yang ada di kampus tempat mereka berkuliah, itu kan kemudian mengklarifikasi bahwa 14 orang itu yang mengaku aliansi BEM Fakultas Bersatu ada yang ternyata bukan mahasiswa, ada yang sudah lulus, ada yang bukan ketua BEM tapi ngaku ketua BEM," ungkapnya.

"Apa yang bisa dipercaya dari orang-orang yang sejak dari tubuhnya saja sudah berbohong? Saya enggak pernah menampilkan apa pun yang berkaitan dengan kendaraan atau apa. Sehingga ini tudingan yang saya kira kalau dalam bahasa hukum ya, yang menuding ya yang harus membuktikan," imbuhnya.

Di samping persoalan politik, Tiyo merasa dirinya kerap kali diterpa bermacam kabar miring lain yang tidak memiliki landasan kuat.

"Saya itu kan sudah dituding macam-macam. Saya dituding sebagai LGBT, gara-gara waktu itu saya belum ada pacar. Saya dituding anaknya Abah, karena pernah satu forum dengan Mas Anies ketika forum alumni ketua BEM. Berbagai tudingan itu dihantamkan pada saya," ujarnya.

Menurut pandangan Tiyo, segenap jalinan tuduhan tersebut digulirkan dengan tujuan agar dirinya diliputi rasa ciut serta merasa terganggu.

Akan tetapi, ia memberikan penegasan bakal senantiasa berfokus pada esensi pokok serta hal-hal strategis ketimbang merespons satu demi satu tuduhan yang datang melanda dirinya.

"Biarlah waktu yang menentukan apakah tudingan itu benar atau keliru. Biarlah narasi yang saya ucapkan yang jadi ukuran, apakah tudingan itu benar atau keliru. Karena hanya dengan itu cara kami untuk mengukur apakah kami itu adalah sosok yang independen atau kami adalah patron, berpatron pada pihak-pihak tertentu," tegasnya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua