Breaking

Kisah Pilu Keluarga Mursalim Menghuni Bekas Dapur Aren

GA
Ganis Akjul Karyawati

Editor: Sutomo

Senin, 29 Juni 2026
Kisah Pilu Keluarga Mursalim Menghuni Bekas Dapur Aren
Keluarga Mursalim di Dusun Minanga Tallu, Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang (Bupon), Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (FOTO: NET)

SULAWESI SELATAN - Ketika malam mulai datang, di saat tempat tinggal penduduk lainnya tampak terang benderang berkat pasokan daya listrik, sebuah gubuk kecil di Dusun Minanga Tallu, Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang, Kabupaten Luwu, justru tenggelam di dalam kegelapan.

Di dalam bangunan yang mempunyai ukuran 3 x 4 meter tersebut, Mursalim (45) mesti menyalakan sebuah lampu pelita dengan bahan bakar minyak tanah.

Pancaran sinar temaram yang bergoyang itu menjelma menjadi satu-satunya alat penerangan untuk Mursalim, Yeni (48) istrinya, serta anak lelaki mereka, Muhammad Ghibran (7), yang baru saja masuk sekolah dasar.

Gubuk tersebut sejatinya bukanlah sebuah rumah tinggal yang semestinya, melainkan sebuah bekas tempat memasak nira untuk dijadikan gula aren yang pada saat ini terpaksa dihuni lantaran tidak mempunyai pilihan lain.

Segala macam bentuk rutinitas warga di sana dilaksanakan di dalam satu ruangan yang serupa.

Bagian lantai tempat tinggal mereka pun telah pecah-pecah dan sebagian hanya dilapisi oleh perlak yang sudah lama, sedangkan bagian dinding dari papan yang mulai lapuk tampak menyangga bagian atap rumbia yang sangat rawan bocor saat cuaca sedang buruk.

Di dalam gubuk tersebut tidak tersedia ruangan kamar tidur khusus.

Seluruh aktivitas dari keluarga ini dipusatkan pada satu titik saja, mulai dari melepas lelah, memasak hidangan, sampai menaruh pakaian serta peralatan memasak, sebuah keadaan yang telah dilewati selama lebih dari satu tahun lamanya.

Pada bagian pojok ruangan, tas sekolah milik Ghibran tampak digantung di bagian dinding papan.

Anak laki-laki itu sudah mulai mengenyam bangku pendidikan dasar, akan tetapi gairah belajarnya mesti dihadapkan pada sebuah kenyataan pahit bahwa setiap malam dirinya belajar hanya ditemani oleh cahaya lampu pelita.

Apabila persediaan minyak tanah sudah habis, maka kondisi gubuk tersebut akan menjadi semakin gelap gulita.

"Kalau aki motor masih ada setrumnya, kami pakai lampu dari aki. Kalau sudah habis, ya kembali pakai pelita. Kalau minyak tanah juga habis, kadang kami menyalakan unggun di dekat rumah atau langsung tidur. Pernah juga tetangga memberi lilin," kata Mursalim, Senin (29/6/2026).

Bahan bakar minyak tanah tersebut diperoleh dengan harga Rp 15.000 untuk setiap botol kecil di wilayah Pasar Padang Sappa, dan pemakaiannya mesti dikontrol dengan sangat irit supaya dapat mencukupi kebutuhan selama satu pekan.

Kelangsungan hidup dari Mursalim sangat bergantung dari hasil bercocok tanam cabai serta tanaman nilam pada bidang lahan kecil kepunyaannya, sekaligus bekerja menjadi buruh harian di kebun orang lain dengan pemasukan rata-rata cuma Rp 4 juta dalam satu tahun yang mesti dicukup-cukupkan untuk memenuhi segala keperluan.

Keadaan finansial yang serba kekurangan membuat impian untuk mempunyai sebuah hunian yang layak rasanya masih sangat sulit untuk dicapai.

Mursalim mengutarakan bahwa aparat pemerintahan desa sebetulnya telah mengetahui perihal nasib yang menimpa keluarganya, akan tetapi keadaan hidupnya sampai sekarang belum mengalami perubahan.

Tatkala ditanya mengenai apa yang menjadi harapannya, lelaki itu memberikan jawaban dengan nada yang sangat pelan.

"Mudah-mudahan pemerintah ke depannya bisa memahami kondisi kami seperti ini," ucapnya.

Himpitan ekonomi yang dialami juga sempat memaksanya untuk mengambil sebuah jalan yang berat tatkala sang istri menderita sakit hingga mengalami kelumpuhan sementara waktu dan tidak dapat dilarikan ke rumah sakit lantaran terbentur ketiadaan biaya.

"Pernah istri saya sakit tidak bisa jalan. Saya ingin membawa ke rumah sakit, tapi kondisi keuangan tidak memungkinkan. Akhirnya hanya dirawat di rumah dan saya belikan obat seadanya," ujarnya.

Pada saat sekarang ini, keluarga kecil tersebut tidak mempunyai jaminan perlindungan BPJS Kesehatan yang berstatus aktif.

Pada masa lalu mereka sempat tercatat sebagai anggota mandiri tatkala mengadu nasib di daerah Kalimantan, akan tetapi terpaksa berhenti lantaran sudah tidak sanggup lagi membayar biaya iuran bulanan.

"Kalau ada kesempatan saya mau ke desa supaya dialihkan menjadi BPJS Kesehatan yang dibayar APBD, karena sekarang saya sudah tidak mampu lagi membayar," tutur Mursalim.

Walaupun hidup di dalam segala bentuk keterbatasan, Mursalim tidak pernah mengeluh dan tetap memeras keringat demi memberikan nafkah untuk keluarganya.

Perasaan cemas senantiasa hadir tatkala hujan mulai mengguyur, akan tetapi dirinya tetap merasa bersyukur sebab gubuk tempat bernaungnya sampai hari ini belum pernah diterjang oleh bencana banjir.

"Kalau takut tentu ada. Tapi mau bagaimana lagi. Untungnya selama ini belum pernah kemasukan hujan atau genangan air," jelasnya.

Bagi kelangsungan hidup keluarga Mursalim, sarana penunjang layaknya aliran listrik serta sebuah hunian yang layak huni merupakan sebuah impian besar yang belum menjadi kenyataan.

Walau berada dalam kesederhanaan, mereka tetap menjalani roda kehidupan dengan penuh ketabahan.

Ghibran tetap mempunyai gairah yang tinggi untuk menuntut ilmu demi masa depannya, sementara orang tuanya tetap giat bekerja keras agar keperluan logistik pangan keluarga tetap dapat terpenuhi.

Kisah dari kehidupan keluarga Mursalim menjadi sebuah cerminan bahwa masih terdapat warga negara yang mesti bertahan di tengah ketatnya jepitan ekonomi hidup.

Uluran tangan dari berbagai macam kalangan sangat dinantikan guna membantu keluarga kecil ini agar bisa memperoleh tempat tinggal yang layak, saluran listrik, serta jaminan proteksi kesehatan yang memadai supaya anak laki-laki mereka dapat tumbuh dengan kehidupan yang jauh lebih baik ke depannya.

Berita Terkait

Lihat Semua

Berita Lainnya

Lihat Semua