Dampak AI dan Efisiensi, Perusahaan Rokok BAT PHK 9.000 Pekerja
NEW YORK - Produsen rokok terbesar di skala global, British American Tobacco (BAT), berencana mengeliminasi kurang lebih 9.000 posisi pekerjaan di berbagai penjuru dunia sebagai langkah transformasi operasional berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) sekaligus efisiensi pengeluaran.
Langkah ini diambil di kala sektor industri rokok konvensional terus mengalami penurunan tren permintaan, sementara pihak korporasi tengah berupaya keras memacu peralihan ke arah produk alternatif semacam rokok elektrik (vape) serta kantong nikotin (nicotine pouch).
Melalui pemberitahuan resminya, BAT mengonfirmasi bakal mengeliminasi sekitar 5.500 posisi pekerjaan serta mendelegasikan kurang lebih 3.500 pekerjaan lainnya kepada korporasi mitra, termasuk Accenture.
Oleh karena itu, total ada sekitar 9.000 buruh yang bakal terdampak kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dari agenda restrukturisasi ini.
Pihak korporasi menerangkan bahwa keputusan ini tidak mengikat operasional di kawasan Amerika Serikat (AS), yang notabene bertindak sebagai pasar paling masif bagi BAT.
Pihak manajemen juga belum menjabarkan secara terperinci mengenai negara mana saja yang bakal mengalami pengurangan jumlah tenaga kerja tersebut.
Chief Executive Officer (CEO) BAT Tadeu Marroco menuturkan, agenda transformasi ini diorientasikan demi menciptakan tatanan organisasi yang jauh lebih siap dalam menyongsong masa depan lewat optimalisasi aspek teknologi.
"Kami sedang membangun organisasi yang siap menghadapi masa depan, lebih lincah, disiplin dalam biaya, dan didukung teknologi," kata Marroco dalam pernyataannya.
Dirinya pun berterus terang bahwa ketetapan tersebut bakal membawa dampak signifikan bagi jajaran staf.
"Perubahan ini memengaruhi banyak rekan kerja kami dan kami fokus mendukung mereka melalui masa transisi ini dengan penuh perhatian dan rasa hormat," ujar Marroco.
Agenda restrukturisasi berskala besar ini merupakan bagian dari skema perubahan bisnis BAT yang bertajuk Fit2Win.
Lewat pergerakan program tersebut, korporasi membidik target penghematan anggaran mencapai 600 juta poundsterling per tahun atau setara Rp 13,9 triliun pada tahun 2028 nanti.
Porsi terbesar dari target efisiensi tersebut diproyeksikan sudah bisa direalisasikan pada tahun 2027.
Dalam kurun beberapa bulan belakangan, BAT pun sudah mulai merampingkan rantai jaringan manufakturnya, termasuk mengambil langkah penutupan fasilitas pabrik di wilayah Afrika Selatan demi efisiensi operasional.
Di samping memangkas jumlah tenaga kerja, pihak perusahaan juga memperluas penerapan sistem AI pada pelbagai lini fungsi bisnis.
BAT menjalin kerja sama strategis dengan Accenture demi mengimplementasikan teknologi kecerdasan buatan tersebut, serta telah memanfaatkan asisten AI internal bernama Ask Omni untuk menyokong aktivitas operasional perusahaan.
Langkah restrukturisasi ini digulirkan di tengah situasi proyeksi industri tembakau yang dinilai kian penuh dengan tantangan.
BAT mengalkulasi bahwa volume dari penjualan produk tembakau konvensional di ranah global bakal merosot sekitar 2,5 persen di sepanjang tahun berjalan ini.
Tercatat bahwa tren penurunan ini terjadi lantaran kian masifnya konsumen yang berpindah ke produk nikotin alternatif, ditambah kian ketatnya aturan regulasi atas industri tembakau di pelbagai negara.
Guna merespons situasi itu, perusahaan memacu proses pengembangan produk bebas kepulan asap, termasuk rokok elektrik dengan label Vuse, produk tembakau dipanaskan bermerek Glo, serta produk kantong nikotin Velo.
BAT memasang target berupa separuh dari total pendapatannya dapat bersumber dari produk nonrokok konvensional pada tahun 2035 mendatang sebagai bagian dari cetak biru transformasi jangka panjang korporasi.
Selain isu penurunan angka konsumsi produk rokok, BAT pun harus berhadapan dengan sederet problematik lainnya.
Di kawasan Amerika Serikat sendiri, jalannya proses perizinan dari pihak regulator atas produk nikotin alternatif dinilai berjalan lamban, sehingga menghambat proses peluncuran produk-produk anyar milik korporasi.
Situasi tersebut dinilai oleh BAT ikut memberikan celah bagi penetrasi produk-produk ilegal, khususnya produk vape kiriman dari China, yang perlahan menggerus porsi pangsa pasar milik korporasi.
Perusahaan juga menambahkan jika tingginya beban biaya hidup membuat sebagian kelompok konsumen mulai beralih memburu merek-merek rokok yang dibanderol lebih ekonomis.
Di sejumlah negara lainnya, BAT pun menghadapi tantangan berupa lonjakan instrumen pajak impor, aturan hukum yang semakin mengikat, hingga maraknya aktivitas perdagangan rokok dengan status ilegal.
Maklumat mengenai restrukturisasi ini langsung memicu reaksi yang kurang positif dari sektor pasar modal.
Nilai saham milik BAT tercatat mengalami pelemahan sekitar 2 persen sesaat setelah korporasi menyiarkan rencana pemangkasan jumlah tenaga kerja global tersebut.